CONTOH MAKALAH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TEKNIK JIGSAW DALAM MPROSES PEMBELAJARAN FUNGSI KOMPOSISI DAN FUNGSI INVERS PADA SMP KELAS XI SEMESTER I

MAKALAH

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING

TEKNIK JIGSAW DALAM MPROSES PEMBELAJARAN FUNGSI

KOMPOSISI DAN FUNGSI INVERS PADA SMP KELAS XI SEMESTER I

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir Semester

Yang Dibimbing Oleh Bpk. Drs. Tri Sarjoko

Oleh :

Nama             : Suryani

Nim                : 09.431.839

Jurusan           : Pendidikan Matematika 3A

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

STKIP PGRI NGAWI

TAHUN AJARAN 2010/2011

KTA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr. Wb

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat, taufik serta hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

Dan tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada :

  1. Bpk Widya Susanto. MM selaku kepala STKIP PGRI NGAWI
  2. Bpk Tri Sarjoko selaku dosen mata kuliah Telaah Kurikulum
  3. Orang tua tercinta, yang selaku memberi dukungan dan motivasi berupa materi maupun nasehat kepada penulis
  4. Teman-teman di semester 3A Pendidikan Matematika
  5. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu

Dengan adanya pembuatan makalah ini semoga bisa menambah wawasan bagi kita semua, amin. Dan bila ada kesalahan dalam penulisan atau isi makalah ini, penulis minta maaf yang sebear-besarnya. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun dari anda sangat penulis harapkan. Akhirnya hanya ini yang dapat kami persembahkan untuk anda.

Ngawi,……………………….

Penulis

Suryani

Wassalamu’alaikum wr. wb

DAFTAR ISI

Halaman Judul

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG MASALAH
  2. RUMUSAN MASALAH
  3. TUJUAN

BAB II LANDASAN TEORI

  1. PENGERTIAN PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TEKNIK JIGSAW
  1. Kelebihan Pembelajaran Dengan Teknik Jigsaw
  2. Keemahan Pembelajaran Dengan Metode Jigsaw

BAB III POKOK BAHASAN

  1. FUNGSI KOMPOSISI
  1. Aturan Dan Nilai Fungsi Komposisi
  2. Menentukan Komponen Pembentukan Komposisi
  3. Aturan Fungsi Invers Dari Suatu Fungsi
  4. Grafik Fungsi Invers
  1. FUNGSI INVERS
  1. PENERAPAN COOPERATIVE TEKNIK JIGSAW PADA PEMBELAJARAN

BAB IV PENUTUP

  1. KESIMPULAN
  2. SARAN

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Matematika tidak sulit dipelajari asal tahu cara mempelajarinya. Jadi, yang paling dominant yaitu cara belajar matematika yang tidak tepat. Banyak guru disekolah masih mengajar matematika dengan cara lama, yaitu guru aktif mengajar sementara siswa hanya memindah informasi yang ditulis gurunya ke buku catatannya. Selain itu siswa disuruh mengerjakan soal-soal latihan tanpa dibekali ketrampilan yang cukup. Pembelajaran matematika seperti itu jelas membosankan sehingga sehingga pantas kalau banyak siswa mengeluh tentang sulitnya belajar matematika. Padahal dengan mempelajari matematika siswa diharapkan mempunyai kemampuan berpikir logis, kritis, analitis, dan kreatif serta mampu bekerjasama.

Dalam menyelesaikan masalah siswa perlu mempelajari terlebih dahulu konsep-konsep dasar matematika. Siswa tidak hanya menerima dan mencatat apa yang disampaikan bapak dan ibu guru, ttapi siswa akan dibimbing untuk menentukan sendiri konsep-konsep tersebut melalui berbagai kegiatan. Dari mana asal usul konsep itu, bagaimana cara membuktikannya, dan bagaimana cara menggunakannya, semua harus dipelajari dalam matematika.

Pembelajaran cooperative terutama teknik jigsaw dianggap cocok diterapkan diIndonesiakarena sesuai dengan budayaIndonesiayang menjunjung tinggi nilai gotong-royong.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk menyusun makalah dengan judul “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TEKNIK JIGSAW DALAM PROSES PEMBELAJARAN FUNGSI KOMPOSISI DAN FUNGSI INVERS DI SMA KELAS XI SEMESTER I”.

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Apa keunggulan metode cooperative learning dalam pembelajaran fungsi komposisi dan fungsi invers.
    2. Bagaiman langkah-langkah penerapan metode cooperative learning teknik jigsaw dalam pembelajaran fungsi komposisi dan fungsi invers.
    3. TUJUAN
      1. Mendiskripsikan apa saja keunggulan-lunggulan metode cooperative learning teknik jigsaw dalam pembelajaran fungsi komposisi dan fungsi invers.
      2. Mendiskripsikan langkah-langkah menerapkan metode cooperative learning teknik jigsaw dalam pembelajaran fungsi komposisi dan fungsi invers.

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. PENGERTIAN COOPERATIVE LEARNING

Cooperative learning adalah strategi pembelajaran yang cukup berhasil pada kelompok-kelompok kecil, dimana pada tiap-tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa dari berbagai tingkat kemampuan, melakukan berbagai tingkat kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk tidak hanya belajar apa yang diajarkan tetapi teapi juga untuk membantu rekan-rekan belajar, sehingga bersama-sama mencapai keberhasilan. Semua siswa berusaha sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dan melengkapinya.

Semua anggota kelompok berusaha untuk saling menguntungkan sehingga semua anggota kelompok bisa :

  1. Merasakan keuntungan dari setiap usaha teman lainnya. (Kesuksesan Anda Bermanfaat Bagi Saya Dan Keberhasilan Saya Bermanfaat Untuk Anda)
  2. Menyadari bahwa semua anggota kelompok mempunyai nasib yang sama. (Tenggelam Atau Mengapung Kita Bersama)
  3. Tahu bahwa prestasi seseorang ditentukan oleh orang lain dalam satu kelompok. (Kami Tidak Dapat Melakukannya Tanpa Anda)
  4. Merasa bangga dan merayakan bersama ketika salah satu anggota kelompok mendapat keberhasilan. (Kami Semua Merasa Sukses Atas Kesuksesan Anda)

Keunggulan cooperative learning

  1. Meningkatkan aktifitas belajar siswa dan prestasi akademiknya
  2. Meningkatkan daya ingatan siswa
  3. Meningkatkan kepuasan siswa dengan pengalaman belajar
  4. Membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan berkomunikasi secara lisan
  5. Mengembangkan keterampilan social siswa
  6. Meningkatkan rasa percaya diri siswa
  7. Membantu meningkatkan hubungan positif antar siswa
  1. METODE PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TEKNIK JIGSAW

Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujikan oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di universitas texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-temannya di universitas John Hopskin (Arends, 2001).

Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerjasama dengan sesame siswa dalam suasana gotong-royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi.

Pembelajaran kooperatif teknik jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatifdimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantunganyang positif bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends. 1997).

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam suatu kelompok yang bertanggung jawwab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan matei tersbut kepada anggota lain. (Arends. 1997).

Jigsaw di desain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari matei yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap membertikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, siswa saling tergantung satu dengan yang laindan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang akan ditugaskan”. (Lie. A., 1994).

Paraanggota dari tim-tim yang berbeda dengan topic yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali kepada tim/kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.

Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok individu siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok asli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda, yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topic tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.

Hubungan antara kelompok asal dan kelompok alhi digambarkan sebagai berikut. (Arends, 1997).

Kelompok Asal

Kelompok Ahli

Gambar Ilustrasi Kelompok Jigsaw

Langlah-langlah Dalam Penerapan Teknik Jigsaw sbb :

-. Guru membagi suatu kelas menjadai beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe jigsaw ini, setiap siswa diberu tugas mempelajari salah satu bagian materi pelajaran tersebut. Semua siswa dengan matei pembelajaran yang sama belajar bersama dengan kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok jigsaw (gigi gejari). Misal suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajaran terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelomok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.

Gambar : Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw

-.    Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.

-.    Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.

-.    Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ko skor kuis berikutnya.

-.    Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.

-.    Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu disiapkan suatu tuntutan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai.

Dalam pelaksanaan pembelajaran disekolah tidaklan selalu berjalan dengan mulus meskipun rencana telah dirancang sedemikian rupa. Hal-hal yang dapat menghambat proses pembelajaran terutama dalam penerapan model pembelajaran cooperative learning diantaranya sebagai berikut :

  1. Kurangnya pemahaman guru mengenai penerapan pembelajaran cooperative learning.
  2. Jumlah siswa yang terlalu banyak yang mengakibatkan perhatian guru terhadap proses pembelajaran relative kecil sehingga yang hanya segelintir orang yang menguasai arena, kelas, dan yang lain hanya sebagai penonton.
  3. Kurangnya sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran cooperative learning.
  4. Kurangnya buku sumber sebagai media pembelajaran
  5. Terbatasnya pengetahuan siswa akan system teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.

Yang dapat mendukung proses pembelajaran cooperative learning dapat berjalan dengan baik, makaupaya yang harus dilakukan adalah :

  1. Guru senantiasa mempelajari teknik-teknik penrapan model pembelajaran cooperative learning di kelas an menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.
  2. Pembagian jumlah siswa yang merata, dalam artian tiap kelas merupakan kelas heterogen.
  3. Diadakan sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran cooperative learning.
  4. Meningkatkan sarana pendukung pembelajaran terutama buku sumber.
  5. Mensosialisasikan kepada siswa akan pentingnya system teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.

Dalam pembelajaran dengan metode cooperative tipe jigsaw pasti juga ada kelebihan dan kelemahan dalam suatu pembelajaran.

  1. Kelebihan Pembelajaran Dengan Metode Jigsaw

Daulson (1991) memberi sejumplah implikasi positif dalam belajar matematika dengan menggunakan system belajar kooperatif sebagai berikut :

1). Kelompok kecil memberi dukungan social untuk belajar matematika. Kelompok kecil membentuk suatu forum dimana siswa menanyakan, mendiskusikan pendapat, belajar dari pendapat orang lain, memberi kritik yang membangun dan menyimpulkan penemuan mereka dalam bentuk tulisan.

2). Kelompok kecil menawarkan slevses bagi semua siswa dalam matematika. Interaksi dalam kelompok dirancang untuk semua anggota mempelajari konsep dan strategi pemecahan masalah.

3). Siswa dalam kelompok dapat membantu siswa lain untuk menguasai masalah-masalah dasar dan prosedur perhitungan yang perlu dalam konteks permainan. Teka-teki/pembahasan masalah-masalah yang bermanfaat.

4). Ruang lingkup matematika dipenuhi ole hide-ide menarik dan menantang yang bermanfaat bila di diskusikan. Belajar kooperatif dapat berbeda dalam banyak cara, tetapi dapat dikategorikan sesuai dengan sifat berikut :

a. Tujuan kelompok

b. Tanggung jawab individual

c. Kesempatan yang sama untuk sukses

d. Kompetensi kelompok

e. Sosialisasi tugas, dan

f. Adaptasi untuk kebutuhan individu (salun, 1995)

Dalam uraian diatas dapat disimpulkan kelebihan pembelajaran dengan metode jigsaw sebagai berikut :

  1. Memacu siswa berpikir kritis
  2. Memacu siswa untuk membuat kata-kata yang tepat agar dapat menjelaskan kepada teman lain akan memacu siswa mengembangkan kemampuan herbal dan sosialnya.
  3. Diskusi yang terjadi tidak didominasi untuk siswa-siswa tertentu tetapi semua sisw dituntut untuk menjadi aktif.
  1. Kelemahan

Beberapa hal yang mungkin bisa menjadi “Penggagal” aplikasi metode ini dilapangan yang harus kita cari jalan keluarnya, menurut (Roy Killen, 1996) adalah :

1).  Prinsip utama pola pembelajaran ini adalah “Poor Teaching” pembelajaran untuk teman sendiri, ini akan menjadi kendala karena perbedaan persepsi dalam memahami suatu konsep yang akan di diskusikan bersama dengan siswa lain. Dalam hal ini pengawasan guru menjadi hal mutlak yang diperlukan agar jangan sampai menjadi “Miss Conception”.

2).  Dirasa sulit meyakinkan siswa untuk mampu berdiskusi menyampaikan materi kepada teman jika siswa tidak mempunyai rasa percaya diri pendidikan harus mampu memainkan perannya mengoperasikan metode ini.

3).  Awal penggunaan metode ini biasanya sulit dikendalikan. Biasanya butuh waktu yang cukup untuk dan persiapan yang matang sebelum model pembelajaran inibisa berjalan dengan baik.

4).  Aplikasi metode ini pada kelas yang besar (lebih dari 40 siswa) sangatlah sulit tapi bisa diatasi dengan model-model “Team Teaching”.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan kelemahan teknik pembelajran metode jigsaw adalah :

  1. Membutuhkan banyak waktu disbanding metode ceramah
  2. Bagi guru mmbutuhkan konsentrasi dan tenaga yang ekstra karena setiap kelompok membutuhkan penanganan yang berbeda.

BAB III

FUNGSI KOMPOSISI DAN FUNGSI INVERS

  1. FUNGSI KOMPOSISI
    1. Aturan Dan Nilai Fungsi Komposisi

Terdapat dua buah fungsi  f dan g. dari dua fungsi tersebut digabungkan menjadi fungsi baru yang dinamakan fungsi komposisi dari f dan g.

ada dua bentuk fungsi komposisi f dan g yaitu :

  1. f º g dibaca f komposisi g. atau f bundaran g
  2. g º f dibaca g komposisi f atau g bundaran f

untuk memahami operasi pada komposisi fungsi, perhatikan diagram berikut :

h : g º f

A                                 B                                  Z = g (y)           D

u                               y = f(u)                                = g (f(u)

C

Dua fungsi yaitu f : A → A → B  DAN g : C → D.

Fungsi f : A → B, artinya setiap u Є A dipetakan oleh f dengan tepat satu y Є B, ditulis y : f(u).

Fungsi g : C → D, artinya setiap y Є C dipetakan oleh g dengan tepat satu z Є D, ditulis z : g(y)

Setiap u Є A yang dipetakan ke C (domain g) akan dipetakan oleh g menghasilkan g {f(u)}. Jadi, diperoleh fungsi baru h yang memetakan setiap u, yang memenuhi syarat y : f(u) Є C ke g {f(u)}.

Fungsi h merupakan komposisi dari fungsi f dan g dituliskan dengan notasi :

H (u)         = (g º f)(u) = g (f(u))

Dominan dari fungsi komposisi g º f adalah himpunan semua u Є A yang dikawankan oleh f ke y Є Є C.

g º f         = { u│f (u) Є R Є D}

Fungsi komposisi mempunyai sifat sebagai berikut :

  1. Tidak berlaku sifat komulatif           : f º g ≠ g º f
  2. Berlaku sifat asosiatif                      : (g º f) º h = f º (g º h)
  3. Identitas pada fungsi komposisi adalah I (u) = u : I º f = f º I = f

Pembuktian sifat-sifat fungsi komposisi

Hasil rumus fungsi f(u) = u2-2, g(u) = u-1, h(u) = 3u-1 dan I(u) = u, maka :

a. (f º g)(u)                     = f (g(u))

= f (u-1)

= (u-1)2-2

= u2-2u-1

b. (g º f)(u)                            = g (f(u))

= g (u2-2)

= (u2-2)-1

= u2-3

Dari hasil a dan b terbukti f º g ≠ g º f

c. (g º h)(u)                           = g (h(u))

                                                 = g (3u-1)

                                                 = (3u+1)-1

= 3u

d. (( g) º h )(u)                    = ((f º g)(h(u)))

= (f º g)(3u-1)

= (3u+1)2-2(3u+1)-1

= gu2+6u+1-(6u+2)-1

= gu2-2

e. (f º (g º h))(u)             = (f º(g º h) (u))

= f (3u)

= (3u)2-2

= gu2-2

Dari hasil d dan e, terbukti bahwa (f º g) º h = f º (g º h)

f. (I º f)(u)                       = I (f(u))           = I (u2-2)          = u2-2

g. (f º I)(u)                      = f (I(u))           = f(u)                = u2-2

Dari hasil f dan g, terbukti bahwa I º f = f º I = f

  1.  Menentukan Komponen Pembentukan Fungsi Komposisi

Jika h(u) = u2-2u+6 = (u2-1)2 + 5 maka h(u) dapat dinyatakan sebagai komposisi dari f(u) dan g(u), yaiu h(u) = (g º f)(u), dengan f(u) = (u-1)2 dan g(u) = u+5.

Jika h sebagai komposisi dari f dan g seperti diatas, berarti grafik h dapat diperoleh dengan menggeser grafik u2 ke kanan sejauh 1 satuan, kemudian hasilnya digeser ke atas 5 satuan.

Seperti yang terlihat pada grafik berikut :

Contoh :

Diketahui fungsi f(u) = u-2 dan (f º g)(u) = 3u+1.

tentukan fungsi g(u) !.

jawab.

(f º g)(u)             = 3u+1

f(g(u))        = 3u+1

g(u)-2        = 3u+1

g(u)           = 3u+3

  1. FUNGSI INVERS
    1. Aturan Fungsi Invers Dari Suatu Fungsi

Suatu fungsi f dinyatakan mempunyai fungsi invers jika fungsi f tersebut merupakan fungsi bijektif. Cara menyelidiki apakah suatu fungsi yang dinyatakan dalam grafik mempunyai invers atau tidak, yaitu dengan menarik garis-garis yang sejajar dengan sumbu x. jika diantara garis tersebut ada yang memotong grafik di dua titik atau lebih, maka fungsi tersebut tidak mempunyai invers karena bukan fungsi bijektif.

Untuk mencari invers fungsi y = f(u), dengan memanipulasi bentuk y = f(u) menjadi bentuk u = f -1(y), kemudian bentuk ini diubah menjadi bentuk f -1(u).

Contoh soal :

Tentukan invers fungsi f(u) = 3u+5

Jawab :

Missal y = f(u) → y       = 3u+5

y-5      = 3u

u          = y-5/3

Diperoleh bentuk u = f -1(y) = y-5/3, kemudian mengubah variable y menjadi u. sehingga diperoleh f -1(u) = u-5/3 = 1/3 (u-5).

  1. Grafik Fungsi Invers

Fungsi f mempunyai fungsi invers f -1 jika dan hanya jika f merupakan fungsi bijektif.

Jika f fungsi bijektif, grafik fungsi invers dari f dapat diperoleh dengan saling menukarkan letak absis dan ordinat dari setiap titik pada grafik fungsi f. misalkan titik (a,b) pada grafik fungsi f, maka titik (b,a) pada grafik fungsi f -1, sehingga titik (a,b) dan (b,a) simetris terhadap garis y = u º dengan kata lain, grafik fungsi f -1diperoleh dengan cara mencerminkan grafik fungsi terhadap garis y = u.

  1. PENERAPAN COOPERATIVE LEARNING PADA PEMBELAJARAN FUNGSI KOMPOSISI DAN FUNGSI INVERS.

Penerapan model pembelajaran cooperative learning teknikjigsaw dalam proses pembelajaran fungsi komposisi dan fungsi invers adalah mengadakan diskusi untuk membantu peserta didik dalam mengerjakan tugas atau kuis-kuis, membentuk kelompok asal yang terdiri dari 4-6 iswa.

Adapaun pelaksanaanya sebagai berikut :

  1. Membagi Siswa Kedalam Kelompok

Sebelum pembelajaran dan diskusi dimulai, terlebih dahulu dilakukan pembagian kelompok sehingga saat materi yang disampaikan usai, mereka dapat langsung mendiskusikan apa yang mereka ketahui dan pahami dari diskusi yang baru saja diterimanya. Dilakukannya pembagian siswa kedalam kelompok asal sebelum diskusi dimulai, agar siswa saling mengenal dan beradaptasi.

  1. Pengajaran

Pembelajaran dimulai dengan berdiskusi antara kelompok ahli di dalam ruangan, diskusi tersebut mencakup pembahasan atau pengembangan materi dan pengarahan praktis tiap kelompok ahli dari keseluruhan pelajaran. Misalnya : “pada pertemuan kali ini kita akan mendiskusikan dan mempelajari aturan fungsi khususnya fungsi komposisi, sifat-sifat fungsi komposisi, beserta fungsi invers dan grafiknya”.

Dalam pengembangannya, guru tetap mengarahkan siswa untuk mempelajari materi yang guru inginkan, guru juga dapat memberikan konsep-konsep, cara cerdik, dan contoh soal. Tidak hanya menghafal, tetapi guru juga menekankan pada pemaknaan. Usai berdiskusi, siswa diberikan pertanyan atau soal-soal untuk dikerjakan dan dipanggil secara acak untuk menjawab soal-soal yang telah diberikan.

  1. Diskusi Kelompok Ahli

selama berdiskusi, tugas para anggota kelompok ahli adalah menguasai materi yang telah didiskusikan bersama kelompok ahli. Agar ketika anggota kelompok ahli kembali kekelompok asal dia bisa menjelaskan apa hasil dari diskusi kelompok ahli dan membantu teman sekelasnya untuk menguasai materi tersebut.

Parasiswa mempunyai lembar kegiatan siswa dan lembar kegiatan jawaban yang dapat mereka gunakan untuk melatih kemampuan selama proses pengajaran dan menila diri mereka sendiri dan tman sekelasnya .

(Lampiran 1)

Pada diskusi kelompok teknik jigsaw, guru menjelaskan pada siswa apa artinya bekerja dalam kelompok dan memberikan aturan-aturan dalam pelaksanaan, kerja kelompok yang harus dipenuhi aturan-aturan tersebut yaitu antara lain :

  1. Parasiswa banyak tanggung jawab untuk memastikan bahwa teman satu kelompok mereka telah mempelajari materinya.
  2. Tidak ada yang boleh berhenti belajar sampai semua teman satu kelompok menguasai materi tersebut.
  3. Mintalah bantuan dari semua teman satu kelompok untuk membantu temannya sebelum bertanya kepada guru.
  4. Teman satu kelompok bisa saling berbicara satu sama lain dengan suara penuh.

Apabila diskusi kelompok ahli semua anggotanya benar-benar sudah paham semua materi yang didiskusikan, maka anbggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal.

  1. Diskusi Kelompok Asal.

Setelah anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal masing-masing anggota kelompok ahli tersebut menjelaskan materi apa saja yang sudah didiskusikan bersama kelompok ahli, sampai anggota kelompok asal benar-benar memahami materinya. Untuk menguji keahlian masing-masing mereka mencoba mengerjakan soal-soal. (lampiran 3).

  1. Presentasi Kelompok

Setelah siswa berdiskusi dengan kelompoknya, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.

  1. Kuis.

Setelah diadakan presentasi, guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.

  1. Penilaian

Perolehan nilai diambil dari skor presentasi kelompok dan skor dari kuis yang diberikan secara individual.s

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s