CONTOH MAKALAH PENGANTAR PENDIDIKAN RUANG LINGKUP PENDIDIKAN

MAKALAH PENGANTAR PENDIDIKAN

RUANG LINGKUP PENDIDIKAN

 

Disusun Oleh:

1. M.S. Nashirul Huda

2. Moh. Syamsul Ma’ani

3. Miftachul Janah

4. Lina Tri Widiawati

5. Lutfi Munfa’ati

 

 

 

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH

TEMPURREJO BANYUBIRU WIDODAREN NGAWI

BAB II

RUANG LINGKUP PENDIDIKAN

  1. Pengertian Pendidikan

Dari segi etimologis, pendidikan berasal dari bahasa Yunani”Paedagogike”. Ini adalah kata majemuk yang terdiri dari kata”Pais”  yang berarti “anak” dan kata Ago” yang berarti “Aku membimbing”. Jadi Paedagogike berarti aku membimbing anak. Orang yang pekerjaannya membimbing anak dengan maksud membawany ke tempat belajar, dalam bahasa Yunani disebut “Paedagogos”.

Dari segi esensial, mendidik dirumuskan antara lain sebagai berikut:

  1. M.Y. Langeveld: Mendidik ialah mempengaruhi anak dalam usahanya membimbing anak, agar menjadi dewasa.
  2. Y.H.E.Y.Hoogveld: Mendidik ialah membantu anak, supaya anak itu kelak cakap menyelesaikan tugas hidupnya atas tanggungan sendiri.
  3. Sis Heyster: Mendidik ialah membantu manusia dalam pertumbuhan, agar ia kelak mendapat kebahagiaan batin yang sedalam-dalamnya yang dapat tercapai olehnya dengan tidak mengganggu orang lain (Dalmanto, 1959 : 8-2)
  4. S. Brajonagoro: Mendidik berarti memberi tuntunan kepada manusia yang belum dewasa dalam pertumbuhandan perkembangan, sampai dengan tercapainya kedewasaan dalam arti rohani dan jasmani (Soedomo, 1995 :2)

Dari keempat rumusan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah: pengaruh, bantuan atau tuntunan yang diberikan oleh orang yang bertanggung jawab kepada nanak didik.

  1. Proses Pendidikan

Manusia bukan hanya makhluk biologis, melainkan seorang pribadi, seorang person, seorang subyek, artinya: ia mengerti akan dirinya, ia mampu menempatkan dirinya dalam situasinya, ia dapat mengambil sikap dan menentukan dirinya, nasibnya ada di tangan sendiri (Driyarkara, 1980 :82)

Mendidik disebut suatu perbuatan fundamental, karena mendidik itu adalah memanusiakan manusia muda, mendidik itu adalah hominisasi dan humanisasi, yaitu perbuatan yang menyebabkanmanusia menjadi manusi (Driyarkar, 1980 :87)

Berdasarkan pandangan di atas, Driyarkara mengemukakan rumusan pendidikan yang intinya (Bdk Bab I E) :

  1. Pendidikan adalah pemanusiaan anak. (Driyarkara, 1980 ; 129).

Pemanusiaan di sini mempunyai dua arti: pendidik memanusiakan anak didik, dan anak didik memanusiakan dirinya.

  1. Pendidikan adalah pembudayaan anak (driyarkara. 1980 :130)

Pembudayaan di sini menunjukkan aktivitas baik baik dari pendidik maupun dari anak didik. Pendidik membudayajan anak, dan anak karena di budayakan maka membudayakan diri.

  1. Pendidikan adalah pelaksanaan nilai-nilai (Driyarkara. 1980 :131)

Pelaksanaan di sini adalah perjumpaan antara aktivitas pendidik dan aktivitas anak didik. Jika ibu mengenakan pakaian kepada anak, maka di situ ibu melaksanakn nilai-nilai berpakaian kepada anak.

  1. Konsekuensi Pendidikan

Mengingat bahwa pendidikan itu hanya untuk manusia dan dapat dipandang dari berbagai aspek, maka konsekuensi pendidikan seharusnya dapat mengembangkan aspek-aspek itu sebagai unsure keseluruhan.

Adapun pandidikan yang dapat diharapkan untuk memenuhi kebutuhan pengembangan aspek-aspek itu dapat diformulasikan ke dalam “limaH” sebagai berikut (Sayid. 1982 :4-5):

1. Head      : Pengembangan piker akal.

2. Heart     : Pengembangan rasa, karsa

3. Hand     : Pengembangan keterampilan, jasmani.

4. Healt     : Pengembangan kesehatan, kebersihan.

5. Heaven  : Pengembangan rasa Ketuhanan, moral.

Dengan pengembangan aspek-aspek tersebut anak didik diharapkan mampu menghadapi perubahan dan permasalahan

.

  1. Dasar Pembelajaran Anak Didik

Salah satu bentuk pelaksanaan pendidikan adalah pengajaran. Di dalam pengajaran mempunyai proporsi yang paling besar, terutama di dalam pendidikan formal.

  1. Proses Belajar Sepanjang Hayat

Proses belajar berarti bagaimana seseorang melakukan suatu kegiatan jasmani rohani dalam rangka memperoleh pengetahuan baru. Pengetahuan baru itu selalu mengalami perkembangan zaman. Oleh karena itu, seseorang yang selalu ingin memperoleh pengetahuan baru, seharusnya ia belajar terus sepanjang hidupnya.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan dimulai sejak anak dilahirkan dan berakhir setelah ia meninggal dunia. Jadi pendidikan itu berlangsung seumur hidup.

Dalam GBHN (Tap MPR No. IV/MPR/1973) dirumuskan bahwa “Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam maupun di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup”.

Menurut S. Brojonagoro, pendidikan dapat dimuali lebih awal lagi, bahkan ketika calon suami istri masih berpacaran..

Menurut Notonagoro, pendidikan dapat dimulai sejak anak itu masih dalam kenangan. Muda-mudi dapat mempersiapkan diri dengan jalan mendidik dirinya sendiri, sehingga mereka dapat menjadi bibit persemaian yang lebih baik, dan pendidikan itu berlangsung sepanjang hayat (Soedomo H. 1995 :7)

  1. Unsur-unsur Pendidikan

I.    Pendidik

1.   Pengertian Pendidik

Pendidik adalah setiap orang dewasa yang bertanggung jawab dan dengan sengaja mempengaruhi orang lain (anak didik), memberi pertolongan kepada anak yang masih dalam pertumbuhan dan perkembangan untuk mencapai kedewasaan.

Orang dewasa yang bertanggung jawab atas pendidikan anak adalah:

  1. Orang tua (ayah dan ibi), menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Orang tua sebagai pendidik adalah kodrati. Orang tua sering pula disebut sebagai pendidik kodrat atau pendidik asli, dan berperan dalam lingkungan pendidikan in-formal atau keluarga.
  2. Pengajar atau guru di sekolah, disebut pendidik karena jabatannya, atau karena keahliannya, maka dinamakan pendidik professional. Guru sering disebut pendidik pembantu, karena guru menerima limpahan sebagian tanggung jawab orang tua untuk menolong dan membimbing anaknya.
  3. Pemiompin/Pemuka masyarakat. Adalah pendidik dalam lembaga pendidikan non formal, dalam bermacam-macam perkumpulan atau organisasi yang ada di masyarakat.

2.   Tugas Pendidik

Tugas-tugas pendidik dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Tugas Educational(Pendidikan)

Dalam hal ini pendidik mempunyai tugas memberi bimbingan yang lebih banyak diarahkan pada pembentukan “kepribadian” anak didik.

  1. Tugas Itruksional

Dalam hal ini pendidik dititikberatkan pada perkembangan dan kecerdasan        daya intelektual anak didik, dengan tekanan perkembangan pada           kemampuan kognitif, kemampuan efektif dan kemampuan psikomotor,            sehingga anak dapat menjadi manusia yang cerdas, bermoral baik dan   sekaligus juga terampil.

  1. Tugas Managerial(Pengelolaan)

Dalam hal ini pendidik berkewajiban mengelola kehidupan Lembaga (klas atau sekolah yang diasuh oleh guru). Pengelolaan itu meliputi:

1).    Personal atau anak didik, yang lebih erat berkaitan dengan pembentukan kepribadian anak.

2).    Material atau sarana, yang meliputi alat-alat, perlengkapan media pendidikan, dan lain-lain yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan.

3).    Operasional atau tindakan yang dilakukan, yang menyangkut metoda mengajar, pelaksanaan mengajar, sehingga dapat tercipta kondisi yang seoptimal mungkin bagi terlaksananya proses mengajar dan dapat membrikan hasil yang sebaik-baiknya bagi anak didik.

3.   Syarat Pendidik

Adapun syarat-syarat sebagai pendidik meliputi:

  1. a.    Umur
  2. Kesehatan
  3. c.    Keahlian atau Skill
  4. Kesusilaan dan Dedikasi
  1. Sifat-sifat Pendidik

Adapun sifat khusus yang sangat penting dan wajib dimiliki oleh setiap pendidik adalah:

  1. a.    Sifat positif, yang dapat diperinci  lagi dalam

1).    Rasa tanggung jawab dan dedikasi

2).    Kecintaan, kebijaksaan, dan kesabaran

  1. Sifat negative, yang seyogyanya dijauhi pendidik:

1).    Lekas marah atau lekas menaruh syak wasangka

2).    Suka menyendiri

3).    Haus penghormatan dan pujian orang lain

4).    Penggugup, bimbang, ragu, takut

5).    Mudah kecewa

  1. Anak Didik
    1. Pengertian Anak Didik

Anak didik adalah anak yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagai umat manusia, sebagai warga Negara, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai suatu pribadi atau individu.

  1. Pendidikan Anak Didik

Menurut sifat dan bakat dari orang tua ke anaknya, sudah dapat diketahui bibit, bebet, bobot, pada waktu memilih teman hidup sebagai suami istri.

  1. a.    John Locke dari Inggris (1632-1704), berpendapat bahwa anak lahir di dunia ini sebagai kertas kosong, atau sebagai meja berlapis lilin yang belum ada tulisan di atasny (Tabula rasa). John Locke berkeyakinan, bahwa anak dilahirkan tidak dengan pembawaan.
  2. J.J. Rousseau dari Prancis (1712-1778), berpendapat bahwa semuanya adalah baik waktu baru datang dari Sang Pencipta (Tuhan) tetapi semua menjadi buruk setelah ditangani manusia.

Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa anak pada waktu                      dilahirkan membawa pembawaan dan semua pembawaan itu                    adalah baik tidak ada pembawaan yang buruk.

  1. c.    Arthur Schopenhuuer dari Jerman (1871-1860) berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan pembawaan baik/buruk.
  2. William Stern dari Jerman (1871-1938), berkeyakinan bahwa anak berpembawaan baik dan buruk waktu dilahirkan
  1. Interaksi Edukasi antara Pendidikan dan Anak Didik

Proses mengikat dan melepas

Perkembangan anak dalam arti sempit dapat dikatakan suatu pertumbuhan yang “di bawah” dibatasi oleh proses mengikat dan “di atas” dibatasi oleh proses melepas. Mengikat itu bagi anak merupakan suatu syarat bagi perkembangannya, maka proses melepas itu merupakan tuntutan baginya untuk menyiapkan diri menuju hidup berdiri sendiri sebagai orang dewasa di dalam masyarakat kelak. Bila kita rangkaikan dengan kecenderungan anak maka kita temukan suatu pertalian yaitu: proses mengikat, yang mencerminkan adanya sifat bergantung, dan proses melepas itu pencerminan azas bentuk.

  1. Pendidikan sebagai Suatu Sistem

Sistem adalah suatu kesatuan fungsional dari komponen-komponen yang terdapat di dalamnya, yang saling bergantung, dan berguna untuk mencapai tujuan. Dengan demikian apabila salah satu komponen tidak berfungsi, maka yang lainnya tidak berfungsi.

Pendidikan sebagai suatu system, juga memiliki komponen-komponen yang saling berinteraksi, saling tergantung dalam kesatuan fungsional. Komponen-komponen itu antara lain: pendidik, anak didik, materi pendidikan, metode-metode pendidikan, tujuan pendidikan dan sebagainya.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s