CONTOH Naskah Drama : Arti Sahabat

Naskah Drama : Arti Sahabat
Bintang yang setia pada malam, begitu pula kesetiaan embun menemani pagi. Matahari yang tak pernah lelah terangi dunia ini. Seperti itulah persahabatan, selalu setia tanpa diminta. Saling mengerti tanpa harus memohon. Tak ada satupun orang di dunia ini yang hidup tanpa persahabatan, persahabatan adalah kisah terindah yang tak terlupakan bagi setiap insan yang pernah merasakannya.
Puput, Pradeta, Fitri Era, Beni dan Suprihatin sedang duduk bergerombol bersama. Mereka mengobrol, bernyanyi sambil sesekali tertawa lantang, saling menjahili satu sama lain. Sungguh seperti sebuah keluarga yang harmonis.
Karena merasa iri hati, Fatimah dan Ani yang tak mempunyai banyak teman datang untuk mengacaukan suasana.
Fatimah : “Idih…!! suara pas-pasan aja sok mau nyanyi! Diem aja deh mendingan,” (dengan wajah menghina)
Beni : “Eh.. suka-suka dong! Kayak suara kamu aja yang paling enak, KD kalah cempreng tuu!”
Semua anak di tempat itu tertawa keras, kecuali Fatimah dan Ani yang rautnya berubah menjadi tak karuan. Beni dan kawan-kawannya pun melanjutkan obrolan mereka lagi tanpa menghiraukan Fatimah dan Ani.
Fatimah dan Ani : (pergi meninggalkn tempat dengan wajah berlipat)
Beni : “Hmm.. sorry fren, aku balik duluan ya? Ada janji buat latihan, maklum mau ada konser amal kecil-kecilan gitu..”
Suprihatin : “Duh, sibuknya! Ya udah buruan berangkat, ati-ati!” (sambil melambai-lambaikan tangan)
Fitri Era : “Waduh.. panggilan alam nih, aku ke toilet dulu yah..? (buru-buru meninggalkan anak-anak yang lain)
Puput : “Hmm, dateng lagi deh ‘langganannya’! Dasar gak berubah.. haha..”(menggeleng-gelengkan kepala)
Suprihatin : “Hahaha, biasa lah, Na. Kalo nggak gitu, bukan Fitri Era namanya,”
Puput : “Eh, haus nih.. minum es enak kali ya??”
Pradeta : “Iya juga ya. Oke kalo gitu aku beli es dulu ya, tunggu di sini aja sama Suprihatin,” (berlalu pergi meninggalkan Puput dan Suprihatin)
Suprihatin : “Na.. sebenernya beberapa bulan ini ada yang beda dari aku, aku udah nggak bisa nyembunyiin ini semua. Dan menurutku cuma kamu yang bisa jaga rahasia ini.”
Puput : “Rahasia? Cerita aja, Ta.. kita kan temenan udah lama. Lagian aku udah siap kok buat jadi pendengar yang baik,” (berusaha meyakinkan Suprihatin)
Tanpa mereka sadari, Pradeta berdiri di kejauhan dengan beberapa bungkus es di tangannya. Pradeta melihat Puput dan Suprihatin sedang asyik bercerita, dan mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka. Ia melamun. Dan saat tersadar dari lamunannya, ia menuju Suprihatin dan Puput, dan tersentak ia terkejut mendengar ucapan Suprihatin.
Suprihatin : “Aku.. su—ka Beni!!” (dengan terbata-bata)
Pradeta : “Hah..?! Suprihatin suka Beni??” (berkata lirih)
Kebetulan Fitri Era juga sudah datang.
Fitri Era : “Hah?!” (datang tiba-tiba dan mendengar ucapan Suprihatin yang membuatnya kesal)
Di saat itu pula pertengkaran terjadi.
Puput : “Eh, kalian udah pada balik!” (sambil tersenyum dengan sapaan halus)
Fitriera : “Ta.. serius kamu suka Beni??”
Suprihatin : “Hmm.. ngomong apa sih, kamu..? (pura-pura tidak tahu)
Fitri Era : “Halah..!! gak usah bo’ong deh.. aku denger kok!” (dengan nada agak tinggi)
Puput : “Kamu salah denger, kali?” (berusaha menengahi)
Fitri Era : “Ta, kayaknya kamu juga harus tahu! Aku suka ama Beni udah lama banget, kamu nggak boleh gitu dong!! Kayak nggak ada yang lain aja?!” (marah-marah)
Pradeta : “Heh udah diem semua!!” (berusaha menandingi nada tinggi Fitri Era dan Suprihatin)
Suprihatin : “Oh gitu ya?! Berarti kamu tuh yang ngerebut gebetan temen sendiri, kamu aja yang naksir ama cowok laen, ngapain pake nyuruh aku??” (balik marah)
Keadaan semakin parah karena tidak ada yang mau mengalah.
Puput : “Udah, udah… jangan bertengkar cuma gara-gara masalah cowok!” (berusaha melerai)
Pradeta : “Kita udah temenan lama, jangan sampai semua rusak cuma karena masalah sepele kayak gini!” (berkata paling bijak)
Fitri Era : (meninggalkan teman-temannya dan pergi menyendiri)
-Script 1-
Sialnya, dua orang yang sangat membenci Beni cs mengetahui perkara ini. AFatimah memanfaatkan keadaan ini untuk menghancurkan persahabatan mereka berlima. Dengan satu-satunya teman setia yaitu Ani, mereka mempengaruhi Fitri Era supaya memusuhi dan membenci semua sahabatnya itu.
Fitri Era : (duduk termenung, sendiri, dan terdiam)
AFatimah : “Ehm.. kok cemberut sih??” (berusaha menarik simpati Fitri Era)
Ani : “Ada masalah ya, Liv?”
Fitri Era : “Katanya sahabat, masak harus naksir cowok yang sama?! Bete banget, kan??” (berkata dengan nada ketus)
Fatimah : “Sabar aja deh. Mending sementara nggak usah temenan deh sama mereka. Nanti kan jadi saingan yang nggak sehat!” (merayu)
Ani : “Iya, bener tuh,” (meyakinkan Fitri Era)
Fitri Era : “Gitu, ya..?”
Fatimah : “Gini aja, mending mulai sekarang kamu gabung ama kita berdua. Nanti kita akan bantu kamu ngalahin si Suprihatin gingsul itu!”
Ani : “Iya, bener, Liv. Kita bela kamu kok”
Fitri Era : “Emang boleh..??”
Ani dan Fatimah : “Ya boleh, lah!!”
Fitri Era hanya tersenyum, entah benar atau tidak keputusannya ini, dia tidak begitu peduli saat itu.
-Script 2-
Di sisi lain, keadaan rumah tangga orang tua Puput sedang dilanda pertengkaran hebat. Agamasnya yang selalu marah-marah bersikap keras dan memukul Nurmaina Puput. Sementara itu Doni, adik Puput hanya bisa diam tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Agamas : “Kamu ini bisanya bikin susah suami aja!!” (membentak-bentak Nurmaina Mey)
Nurmaina : “Aku salah apa, Pa..??”
Agamas : “Kerjaan kamu seharian cuma shopping, arisan, ngumpul sama temen-temen. Nggak pernah ada di rumah. Liat ni anak kamu jadi nggak keurus!”
Nurmaina Mey : “Tapi Agamas juga sibuk sendiri sama klien-klien di kantor. Nggak peduli sama istri dan anak-anak!!” (menangis dan memeluk Doni)
Agamas : (Plaak..!! tmparan keras singgah di wajah Nurmaina Mey)
Doni : “Ma, Agamas kok mukul-mukul Nurmaina..?” (dengan penuh kepolosan)
Nurmaina : (menangis)
Di saat itu pula Puput datang dan terkejut melihat semua yang terjadi.
Puput : “Nurmaina…?!” (datang memeluk Nurmaina Mey)
-Script 3-
Keesokan harinya..
Pradeta menceritakan semua yang terjadi kemarin antara Suprihatin dan Fitri Era. Sekejap terkejutlah Beni mendengar semua itu.
Pradeta : “Menurutku kamu hrus cepet bikin keputusan. Kasih kepastian buat mereka berdua. Aku nggak mau mereka bertengkar terlalu lama.”
Beni : “Oke, oke..! aku bakal berusaha jelasin semuanya biar mereka nggak bertengkar sia-sia,”
Beni pun berusaha menemui Suprihatin dan Fitri Era hari itu juga. Namun sayang, hanya Suprihatin yang mau menerima keputusan Beni, sedangkan Fitri Era lebih memilih menghindarinya.
Beni : “Ta, Pradeta udah nyeritain semua ke aku tentang yang kemarin. Bener kamu suka aku..?” (berusaha memastikan)
Suprihatin : “Pradeta nggak bohong kok soal yang kemarin itu!”
Beni : “Gini, Ta. Sebelumnya aku minta maaf. Soalnya gara-gara aku kamu jadi tengkar ama Fitri Era. Bukannya apa-apa, tapi buat waktu dekat ini aku lagi nggak pengen mikirin cewek. Aku masih mau serius di dunia musikku,” (menerangkan dengan bijaksana)
Suprihatin : “Oke. Aku ngerti kok. Cuma kayaknya sekarang Fitri Era udah terlanjur terpengaruh sama AFatimah. Kayaknya bakal sulit buat ngembaliin dia kayak dulu lagi,” (sambil mendesah putus asa)
Fitri Era, Fatimah, dan Ani : (berjalan melewati Beni dan Suprihatin, namun bersikap tak acuh dan sama sekali tak peduli)
Beni : “Fitri Era?”
Fitri Era : (berjalan terus tanpa henti)
-Script 4-
Mendekati Doni adalah salah satu cara yang dipakai Pradeta untuk menarik perhatian Puput. Hari ini pun Pradeta akan mengunjungi rumah Puput. Dan di perjalanannya menuju rumah Puput, ia melihat Doni tergeletak tak sadarkan diri di pinggir jalan. Sepertinya ia menjadi korban tabrak lari. Cepat-cepat Pradeta membawa Doni ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit…
Pradeta : “Halo, Puput? Adek kamu di RS. Dia habis ketabrak kendaraan, cepetan kamu ke Rumah Sakit—mm, Cempaka Husada,” (langsung berbicara begitu suara di seberang telepon menjawab)
Puput : “Hah, sekarang keadaannya gimana?!” (panik)
Pradeta : “Udah tenang aja, yang penting kamu sekarang cepetan ke sini! Jangan lupa bilangin Nurmaina dan Agamasmu!”
Dan tak lama kemudian Puput datang terengah-engah, sambil berlari tergesa-gesa.
Puput : “Ya ampun…. Doni!!” (begitu melihat Doni)
Pradeta : “Dokter udah periksa dia, katanya luka di kepalanya itu nggak terlalu parah, kok,” (berusaha menenangkn Puput)
Puput : “Syukur deh kalo gitu..” (mendesah lega)
Pradeta : “Hmm.. aku ke toilet dulu ya. Kamu di sini aja jagain Doni sambil nunggu ortumu dateng,”
Puput : “Iya, tapi jangan lama-lama. Aku takut sendirian di sini,”
Pradeta : “Oke,”
Saat Pradeta berada di toilet, dia ingat akan teman-temannya yang pasti juga harus diberitahu tentang ini. Tanpa menunggu lagi, Pradeta segera menelepon Suprihatin dan Beni.
Setelah selesai memberitahu mereka, Pradeta keluar dari toilet dan hendak berjalan kembali ke ruang rawat. Saat ia berjalan, tiba-tiba bahunya tertabrak dengan bahu seseorang. Betapa kagetnya Pradeta saat melihat ternyata bahu yang ia tabrak adalah bahu Fitri Era.
Fitri Era : “Aduuh…!” (sambil memegangi bahunya)
Pradeta : “Oh, maaf, maaf.. Nggak sengaja, lagi buru-buru,”
Fitri Era : “Iya, iya. Nggak apa-apa kok,”
Pradeta : “.. lho? Fitri Era?? Ngapain kamu di sini..?”
Fitri Era : “Eh, Pradeta.. Iya, aku habis nganterin Nurmaina check up, tapi aku ada perlu, jadi Nurmainaku pulang duluan. Terus.. kamu sendiri nagapain di sini?”
Pradeta : “Ini, Doni adiknya Puput ketabrak, sekarang lagi dirawat di kamar 555. Ini aku lagi nungguin Beni ama Suprihatin dateng,”
Fitri Era : “Oh…”
Pradeta : “Kamu masih marah sama Suprihatin? Sama kita juga?”
Fitri Era : “Ngg… nggak sih. Agak sebel aja. Emang kenapa?”
Pradeta : “Liv, aku cuma mau beritau, AFatimah itu bukan orang yang baik. Dia manfaatin keadaan kita yang lagi retak ini dengan menghasut kamu. Inget Liv, kita udah lama sahabatan. Kita semua tau siapa aja yang layak diajak temenan. Dan AFatimah nggak termasuk dalam kategori itu. Dia itu cuma mau ngehancurin kita aja..”
Fitri Era : “Tapi si Suprihatin itu lho..” (memasang wajah kecut)
Pradeta : “Beni udah jelasin ke Suprihatin dan Suprihatin ngerti, kok. Masa kamu nggak bisa ngerti??”
Fitri Era : “Mmmh.. gimana ya?? Iya sih, aku liat AFatimah itu nggak baik. Mm..”
Pradeta : (menunggu Fitri Era sambil menatap matanya tajam)
Fitri Era :”.. mungkin aku pikir aku minta maaf aja ya ama Suprihatin…?”
Pradeta : “Naah, gitu dong! Ya udah, kamu ikut aku aja ke kamarnya Doni. Nanti kita tunggu Suprihatin ama Beni dateng,”
Fitri Era : “Ya udah deh, yuk. Eh.. tapi aku ke toilet dulu ya. Kamu jalan aja duluan, ntar aku nyusul kok,”
Pradeta : “Oke, cepetan ya!” (langsung pergi)
Sementara itu…
Nurmaina : “Doni!! Anakku sayang,”
Agamas : “Liat ini! Ngurus anak aja nggak becus!!” (menyalahkan Nurmaina atas apa yang terjadi)
Nurmaina : “Ini juga salah Agamas! Selalu sibuk sampai nggak punya waktu buat nemenin Doni main!” (balik menyalahkan)
Puput : “Udah berhenti..!! Nurmaina sama Agamas kelakuannya sama aja! Doni lagi sakit masih aja bertengkar, Puput capek, Ma, Pa, dengerinnya!! Masalah itu gak bakal selesai kalau nggak diselesaiin baik-baik.. Yang ada kejadian malah tambah berantakan, coba deh Agamas sama Nurmaina ngertiin aku sama Doni. Kita nggk pengen Agamas-Nurmaina tengkar terus! Puput mohon dong Pa, Ma!!” (sedikit menangis)
Doni : “Nurmaina.. Agamas.. Kak Puput..” (tersadar dari pingsannya)
Agamas : “Nurmaina.. Doni.. Puput.. Agamas minta maaf ya? Agamas janji bakal nyediain waktu buat ngumpul bareng-bareng kalian semua. Agamas sadar selama ini Agamas terlalu sibuk di kantor,” (berbicara setelah termenung sejenak)
Doni : “Iya.. kita semua maafin Agamas! Tapi Agamas janji ya gak boleh mukul Nurmaina lagi..?”
Agamas : “Iya,” (memeluk istri dan anak-anaknya)
-Script 5-
Kemudian, Pradeta telah kembali dari toilet, bersamaan dengan Suprihatin dan Beni yang baru datang. Tak lama kemudian, Fitri Era mengetuk pintu..
Fitri Era : “Ehm.. aku boleh masuk, kan?” (sedikit ragu)
Doni : “Eh, Kak Fitri Era. Nggak Agamas masuk aja, Kak!”
Fitri Era : “Sebenernya.. selain mau jenguk Doni, aku dateng juga untuk minta maaf atas semua kesalahanku sama kalian selama ini. Pradeta udah jelasin semua ke aku. Kalian mau, kan, maafin aku..?”
Suprihatin : Aku juga minta maaf, soalnya udah ngomong kasar ke kamu. Maafin aku juga, ya?”
Beni : “Nah, kalau gini kan lebih enak, ya kan, Fren??”
Pradeta : “Aku juga seneng kalo kita semua akur lagi kayak dulu,” (sambil tersenyum)
Puput : “Makanya, laen kali kalo mau naksir cowok nggak usah pake acara kompakan..!”
Semua : (tertawa bersama-sama)
Ani : “Eh, sorry kalo ganggu. Sebelumnya aku mau minta maaf sama kalian. Selama ini aku salah pilih temen. Aku sadar Fatimah cuma manfaatin aku aja. Kalian mau, kan, nerima aku jadi teman kalian??” (tiba-tiba muncul!)
Semua : “Ya boleh, lah!!”
Sesaat kemudian, handphone Ani berdering nyaring, mengejutkan semua orang… Terkejutlah semua orang dalam ruangan itu saat mendengar berita bahwa AFatimah mengalami kecelakaan!
Suprihatin : “Lho kok..?!”
Beni : “Terus keadaannya gimana sekarang..?”
Fitri Era : “Di Rumah Sakit mana?”
Puput : “Parah apa nggak?”
Doni : “AFatimah itu siapa…?”
Ani : (hanya diam mendengarkan semua pertanyaan itu)
Pradeta : “Gini aja. Sekarang biar Ani ceritain semua yang dia tahu tentang keadaan AFatimah sekarang,”
Doni : “Iya, ayo cerita. Doni juga pengen tahu!”
Ani hanya diam. Dia masih shock dengan banjir pertanyaan barusan.
Fitri Era : “Aniaa ??”
Ani : “Hmm.. jadi gini, sekitar satu jam yang lalu Fatimah ceritanya mau ke sini. Dan tadi berita dari rumah sakit bilang kalo Fatimah ditemuin jatuh di perempatan deket sini. Katanya keadaannya cukup kritis sih,”
Suprihatin : “Rumah Sakit mana?”
Ani : “Emm, Cempaka apaa gitu, lupa aku—”
Beni : “Cempaka Husada, Ta?”
Ani : “Nah itu! Bener!”
Beni : “Ya ampun Taaa, itu kan Rumah Sakit ini! Ayo ayo kita tanya ruangan mana!” (semua orang menepuk jidat)
Fitri Era : “Ya udah, sekarang kita bareng-bareng buruan cari. Om, tante, kita semua permisi dulu yah!!”
Dan tak lama kemudian mereka semua tiba di ruangan tempat AFatimah dirawat.
Ani : “Fatimah… kamu nggak apa-apa kan?” (paling antusias)
Fatimah : “Aku udah agak mendingan kok.. makasih ya kalian semua udah mau jenguk aku..”
Suprihatin : “Ya.. walaupun kita masih agak kesel ama kamu,” (sedikit ketus)
Beni : “Udahlah.. yang kemaren nggak usah diungkit-ungkit lagi!”
AFatimah : “Hhm, aku minta maaf yah, selama ini aku banyak banget salah ama kalian. Mau kan, maafin aku??”
Suprihatin : “Iya, kita mau kok maafin kamu! Tapi ada syaratnya, lho!”
AFatimah : “Apa syaratnya?”
Suprihatin : “Kalo kamu udah sembuh nanti, traktir kita semua makan!!” (sambil tersenyum-senyum)
Puput : “Eitz.. satu lagi, adek aku juga diajak yah?” (merayu)
Semua : (tertawa bersama-sama)
Tak ada satupun manusia di dunia ini yang sempurna. Mereka semua tak pernah luput dari kesalahan. Oleh karna itu meminta maaflah jika merasa bersalah. Dan maafkanlah bila ada yang bersalah. Semua akan indah jika kita saling memaafkan satu sama lain.
Selesai

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s