CONTOH MAKALAH SUMPAH PEMUDA MENJIWAI KESATUAN

SUMPAH PEMUDA MENJIWAI KESATUAN

DAN PERSATUAN BANGSA

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………….   i

DAFTAR ISI ………………….…………………………………………………   ii

BAB I  PENDAHULUAN ………………………………………………………    1

BAB II SUMPAH PEMUDA …………………………………………………….   2

A. Latar Belakang Sumpah Pemuda …………………………………………   2

B. Lahirnya Sumpah Pemuda …………………………………………………  2

1. Konggres Pemuda I …………………………………………………….   2

2. Konggres Pemuda II ……………………………………………………   3

BAB III NILAI-NILAI SUMPAH PEMUDA DAN PERSATUAN …………….   4

A. Nilai-nilai Sumpah Pemuda …………………………………………….   4

B. Sumpah Pemuda dan Persatuan …………………………………………   5

BAB IV PENUTUP ………………………………………………………………. 6

ii

BAB I

PENDAHULUAN

 

Sumpah Pemuda merupakan babak baru bagi perjuangan  bangsa Indonesia. Karena, perjuangan yang bersifat lokal (kedaerahan) berubah menjadi perjuangan yang bersifat nasional. Para pemuda jaman dahulu sadar bahwa perjuangan yang bersifat lokal sia-sia belaka. Penjajah dapat mematahkan perlawanan mereka walaupun cukup merepotkan juga. Mereka juga sadar bahwa hanya dengan persatuan dan kesatuan, cita-cita kemerdekaan dapat diraih. Oleh karena itu, peristiwa 28 Oktober 1928 tidak layak dan tidak boleh kita lupakan, terlebih oleh para pemuda. Karena, pemudalah yang mengucapkan sumpah tersebut  dan dengan sungguh-sungguh mentaatinya. Saat ini, cita-cita untuk meraih kemerdekaan sudah  tercapai. Lalu, apakah

Sumpah Pemuda masih relevan untuk saat ini? Tentu saja Sumpah Pemuda masih berperan penting, yaitu untuk kembali menumbuhkan semangat kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia yang kini kian meredup.  Para pemuda sepatutnya kembali menggali nilai-nilai luhur yang terkandung  di dalamnya. Nilai-nilai yang ditemukan diharapkan menjadi pendorong dan arah untuk memperkuat kesatuan dan persatuan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan pemaknaan tiada henti (terus-menurus) tentang  Sumpah Pemuda. Juga, memberi pemaknaan secara baru sesuai dengan perubahan zaman dan kondisi aktual. Kesatuan dan persatuan amat penting bagi negara kita yang karakteristik masyarakatnya majemuk berganda, yaitu majemuk secara horisontal dan majemuk secara vertikal. Penulis berharap melalui tulisan ini masyarakat Indonesia semakin menyadari pentingnya persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan cita-cita bersama menuju masyarakat yang adil dan makmur.

1

BAB II

SUMPAH PEMUDA

A. Latar Belakang Sumpah Pemuda

Pada tahun 1908, bangsa Indonesia mulai bangkit. Kebangkitan ini ditandai dengan berdirinya Budi Utomo atas inisiatif dan dorongan Dr. Wahidin Sudirohusada. Walaupun Budi Utomo waktu itu masih dengan corak kesadaran lokal yang tercermin dari tujuannya, yaitu mau memajukan  dan membangkitkan masyarakat dan kebudayaan Jawa terutama melalui pendidikan, Budi Utomo membawa peran penting bagi pemuda waktu itu. Budi Utomo mencoba membantu orang-orang muda yang  tidak mampu memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Dampaknya, semakin banyak muncul organisasi pemuda, seperti Tri Koro Darmo. (Jong Java), Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Betawi, Jong Minahasa, Sekar Rukun, dan Pemuda Timor. Organisasi-organisasi inilah yang nantinya akan

mendorong lahirnya Sumpah Pemuda.

Perhimpunan pemuda yang paling gencar mengumandangkan persatuan bangsa adalah Perhimpunan Indonesia (PI). PI sendiri sudah memberi teladan terlebih dahulu. Hal itu nampak jelas di mana pemuda Indonesia dari macam-macam pulau itu sudah bersatu di Belanda dalam wadah PI. Rasa kesukuan dan kedaerahan sudah hilang. Hal itu, nampak dalam ideologi PI, yaitu:

  1. Kesatuan nasional: mengesampingkan perbedaan-perbedaan sempit yang berdasarkan kedaerahan kemudian menciptakan kesatuan aksi.
  2. Solidaritas: tanpa melihat perbedaan antarsesama bangsa Indonesia, seharusnya kita sadar bahwa terdapat perbedaan kepentingan yang mendasar antara penjajah dengan yang dijajah.
  3. Non kooperatif: kemerdekaan harus timbul dengan kekuatan sendiri.
  4. Swadaya: untuk mengandalkan kekuatan sendiri perlu dikembangkan suatu struktur alternatif dalam kehidupan nasional politik, sosial, ekonomi, dan hukum yang kuat berakar pada masyarakat pribumi.

Empat ideologi pokok PI secara eksplisit mendorong bangsa Indonesia untuk bersatu meraih kemerdekaan.

B. Lahirnya Sumpah Pemuda

  1. Konggres Pemuda

Untuk mewujudkan suatu persatuan dan kesatuan antarorganisasi pemuda yang ada, sudah berkali-kali dicoba diadakan pertemuan sejak tahun 1920. Usaha ini cukup sulit dilaksanakan karena berusaha untuk menyatukan organisasi yang berbeda-beda landasannya. Sebelumnya, organisasi-organisasi itu harus bergulat untuk memilih wadah yang cocok bagi organisasinya.  Setelah itu, masih harus disesuaikan dengan organisasi lainnya.

2

Pada tanggal 15 November 1925 organisasi-organisasi pemuda berkumpul dan menyepakati dibentuknya suatu panitia untuk mempersiapkan kesepakatan besar pemuda. Diharapkan dengan adanya kesepakatan besar bersama dari para pemuda, berkembanglah paham persatuan kebangsaan dan berusaha merekatkan

tali persatuan di antara organisasi-organisasi pemuda. Sehingga, pada tanggal 30 April 1926, rapat besar pemuda itu berlangsung dan  kemudian dikenal dengan

nama Konggres Pemuda I. Konggres Pemuda I berhasil merumuskan dasar-dasar  pemikiran bersama.

Kesepakatan itu meliputi:

    1. Cita-citaIndonesia merdeka menjadi cita-cita semua pemuda Indonesia.
    2. Semua perkumpulan pemuda berdaya upaya menggalang persatuan organisasi pemuda dalam suatu wadah. Dari hasil kesepakatan yang dicapai ini, sangat tampak kemajuan yang mendukung arti pentingnya kesatuan dan persatuan antarmereka. Hal ini merupakan suatu prestasi besar pada saat itu.
  1. Konggres Pemuda

Konggres Pemuda II diadakan tanggal 26 – 28 Oktober 1928. Semua perkumpulan pemuda dan mahasiswa serta partai politik diundang hadir untuk memberikan dukungan bagi pertemuan pemuda tersebut. Pertemuan selama 3 hari itu diisi dengan sambutan-sambutan yang mempropagandakan persatuan dalam sanubari para pemuda.

Dalam pertemuan tersebut, sempat terjadi 2 kali insiden hanya karena disebut-sebutnya “Kemerdekaan Indonesia”. Polisi Belanda sempat menegur ketua rapat agar tidak menggemakan lagi “Kemerdekaan Indonesia”. Insiden itu justru semakin menyulut kebencian pemuda pada pihak Belanda.

Setelah sidang ketiga tanggal 28 Oktober 1928, Moh. Yamin menyimpulkan semua pembicaraan dalam konggres tersebut. Perumusan yang berupa kesimpulan itulah yang dikenal dengan  Sumpah Pemuda. Kemudian Moh. Yamin dipersilakan untuk menjelaskan rumusan itu dan disetujui secara aklamasi oleh seluruh peserta sidang. Inilah kesimpulan dari Moh. Yamin itu yang kita kenal dengan SUMPAH PEMUDA:

Pertama

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang

satu, tanah Indonesia.

Kedua

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa  yang satu,

bangsa Indonesia.

Ketiga

Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa  persatuan,

bahasa Indonesia.

 

 

 

 

 

 

3

 

BAB III

 

NILAI-NILAI SUMPAH PEMUDA DAN PERSATUAN

A. Nilai-Nilai Sumpah Pemuda

Sejarah merupakan modal awal untuk mencari bagaimana wajah Indonesia di masa depan. Sumpah Pemuda sebagai peristiwa historis juga menjadi salah satu kekuatan untuk membangun kepribadian bangsa. Kekuatan itu berupa nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Maka, amat disayangkan jika nilai-nilai luhur dalam Sumpah Pemuda tidak digali, diperkenalkan, dan disebarluaskan bagi generasi muda saat ini yang adalah generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, penulis ingin menggali, memperkenalkan, dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Sumpah Pemuda sehingga mendorong generasi muda untuk melestarikannya.

Nilai-nilai itu antara lain:

1.  Kebersamaan dan persaudaraan

Penderitaan akibat penjajahan menimbulkan rasa kesamaan nasib yang semakin mempererat tali persaudaraan para pemuda. Rasa kebersamaan dan persaudaraan itu membuka kesadaran bahwa perbenturan kepentingan individu dapat menimbulkan keretakan yang justru merugikan mereka sendiri. Oleh karena itu, dalam proses hingga perumusan Sumpah Pemuda, rasa kebersamaan dan persaudaraan menjadi landasan utamanya.

2. Toleransi

Rasa toleransi dari para pemuda sangat tampak ketika para pemuda terbuka pada kemajemukan dan keberagaman. Mereka memberi tempat pada pluralitas. Dan, mereka tidak terbelenggu pada eksistensi agama, suku, dan lokalitas kedaerahan. Dengan mengembangkan sikap toleransi yang tinggi para pemuda berhasil mengikrarkan Sumpah Pemuda.

3. Tanggung jawab dan disiplin diri

Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan saat pengucapan janji, tetapi amatlah jauh lebih berharga bila janji itu ditepati oleh para pemuda. Dan, ternyata memang benar para pemuda menepati janji itu. Terbukti dengan perubahan cara berpikir dan tindak mereka. Dulunya perjuangan mereka masih terbelenggu pada kedaerahan dan kesukuan, tetapi setelah Sumpah Pemuda, berubah menjadi perjuangan nasional. Hal tersebut memperlihatkan rasa tanggung jawab dan disiplin diri yang tinggi dari para pemuda dulu untuk memenuhi janji mereka.

4. Wawasan

Sumpah Pemuda membuka wawasan para pemuda tentang betapa luas dan beragamnya suatu wilayah yang bernama Indonesia. Selain itu, konsep tentang suatu negara yang dulunya hanya milik beberapa orang yang terpelajar, menjadi pemahaman bersama para pemuda yang hadir saat konggres itu.

5. Nasionalisme

4

Adanya kebersamaan perasaan senasib, kedekatan fisik atau non fisik, terancam dari musuh yang sama, dan punya tujuan yang sama yaitu

kemerdekaan, mendorong bangkitnya nasionalisme pemuda. Nasionalisme Indonesia dapat mengatasi ikatan primordial (lokalitas, suku, ras, dan agama) sehingga nasionalisme Indonesia lahir sebagai sebuah ikatan bersama. Nilai-nilai sumpah pemuda yang penulis telah paparkan merupakan bekal pendiri (pemuda jaman itu) yang tak ternilai harganya untuk mengangkat semangat juang, rasa percaya diri, dan optimisme bangsa (pemuda) untuk menghadapi tantangan saat ini. Tentunya, nilai-nilai yang diuraikan di atas dilandasi oleh sikap-sikap yang mendukung, seperti saling menghargai, saling menghormati, saling memperhatikan, setia kawan, dan sikap mengutamakan dialog untuk menyelesaikan suatu persoalan.

B. Sumpah Pemuda dan Persatuan

Kesatuan dan persatuan harus menjadi basis ketahanan sebuah bangsa, apalagi bangsa yang sedang berkembang seperti Indonesia dalam menghadapi arus globalisasi yang makin keras. Konggres Pemuda II tanggal 26 – 28 Oktober 1928 telah berhasil merumuskan ideologi yang berhasil mendasari jiwa kesatuan dan persatuan, yaitu bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia; berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; dan memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Satu tanah air, berarti mereka merasa menikmati hidup dalam satu wilayah

yang sama. Bertumbuh dan berkembang dalam tanah yang sama. Mereka sudah tidak memikirkan bahwa wilayah yang lain memiliki kekayaan alam yang berlimpah sehingga mengundang kecemburuan sosial. Semua adalah milik bersama dan untuk bersama.

Berbangsa satu, berarti mereka terlebih dahulu menanggalkan identitas-identitas primordial seperti etnis, suku, dan ras. Doktrin-doktrin yang melekat pada suatu kelompok yang merasa memiliki perbedaan budaya, sejarah, maupun prinsip-prinsip hidup sendiri juga dicoba untuk dihargai dan dihormati karena memiliki rasa ”berbangsa satu”.

Bahasa  persatuan, berarti mereka sudah mempunyai sarana untuk mengikat persatuan mereka. Suatu persatuan membutuhkan suatu komunikasi yang terus-menerus. Untunglah hal itu sudah dijembatani oleh bahasa Melayu yang kemudian diangkat menjadi bahasa Indonesia. Para pemuda menggunakan bahasa Indonesia dengan bangga tanpa perlu meninggalkan bahasa daerah masing-masing.  Peristiwa Sumpah Pemuda menunjukkan kesatuan dan persatuan Indonesia terbentuk atas dasar kesadaran bersama bukan paksaan. Jelaslah bahwa kesatuan dan

persatuan amat dibutuhkan bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita bersama.

5

BAB IV

PENUTUP

Segala sesuatu yang kita nikmati keberadaannya kita terima begitu saja tanpa membayangkan betapa sulitnya meraih, antara lain bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, kemerdekaan, dan pembangunan-pembangunan yang kita nikmati saat ini. Maka, tanggung jawab generasi saat ini adalah bagaimana mempertahankan apa yang telah ada dan jauh lebih penting lagi mengembangkannya. Untuk mengemban misi itu, kesatuan dan persatuan amat dibutuhkan mengingat begitu banyaknya rintangan-rintangan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Bertitik tolak pada persatuan itulah kita hendaknya berjuang seperti pendahulu kita. Kita harus sadar bahwa kita masih menderita. Memang, sebab

penderitaan saat ini, berbeda dengan jaman dahulu.  Dulu, bangsa kita menderita karena penjajah, tetapi sekarang bangsa kita menderita karena ketidakberesan  di antara bangsa Indonesia sendiri. Harusnya, masalahnya jauh lebih mudah karena kita tidak perlu berjuang mati-matian memanggul senapan  untuk mengusir penjajah. Lalu, apa yang salah dengan bangsa Indonesia? Masalahnya adalah bangsa Indonesia masih terpecah-pecah.

Sumpah Pemuda mempunyai nilai-nilai strategis yang mendukung ke arah kesatuan dan persatuan bangsa seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Kalau sekarang nilai-nilai itu sepertinya terabaikan dalam berbangsa, itu adalah kesalahan transformasi nilai. Maka, yang kita butuhkan di masa depan adalah sejarah sebagai pembelajaran moral untuk kepentingan kebangsaan. Masa lalu sebagai pengalaman adalah guru dan darinya kita dapat berefleksi dan memperoleh banyak nilai yang terkandung di dalamnya.

6

6

Melalui tulisan ini, penulis ingin menunjukkan bahwa Sumpah Pemuda menjadi roh dan jiwa bagi kesatuan dan persatuan bangsa. Sampai saat ini, Sumpah Pemuda tetap bermakna dalam berbangsa dan bernegara karena perumusan Sumpah Pemuda bukan untuk kebutuhan sesaat jaman itu, namun sebagai suatu ikatan untuk mempersatuakn bangsa Indonesia selamanya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s