ILMU QUR’AN- MUNASABAH

ILMU QUR’AN- MUNASABAH

BAB I

PENDAHULUAN

Suatu bentuk bukti perhatian kami terhadap pendalaman ilmu Al-Qur’an dengan menyusun makalah ini. Makalah ini berisi pembahasan tentang Ilmu Munasabah. Sebuah ilmu yang sangat berharga bagi umat islam dan sebuah ilmu yang ikut memperkaya khasanah intelektual islam.
Dengan mempelajari ilmu Munasabah ini kita akan diajak mengarungi samudera mu’jizat Al-Qur’an yang luar biasa luasnya.
Pembahasan ilmu ini dimulai dari definisi Munasabah dan pemikira-pemikiran para ulama mengenai ilmu nunasabah. Kemudian kami menerangkan macam-macam munasabah, terakhir kami mencoba mencari korelasi dan relevansi antara ilmu munasabah dengan ilmu Asbabunnuzul dalam penafsiran Al-Qur’an
Tidak ada makhluk yang sempurna begitu pula dengan karya dari makhluk. Kami menyadari bahwa pembahasan kami tentang munasabah masih sangat jauh dari sempurna.
Tetapi kami berharap semoga ini semua dapat bermanfaat bagi kita semua didunia sampai diakhirat. Wallahu A’lam bisshowab.

BAB II

PEMBAHASAN

A.PENGERTIAN MUNASABAH
Secara etimologi munasabah berarti al-musyakalah (kesurupan) dan al-muqorobah (kedekatan). Munasabah berarti menjelaskan korelasi makna ayat-ayat atau antara surat, baik korelasi itu bersifat umum atau khusus; rasional (aqli) indrawi (hassiy), atau imajinaif (khayali) atau korelasi berupa asbabun nuzul dan al musabab, ‘ilat dan ma’lul; perbandingan dan perlawanan
Munasabah berupaya menangkap korelasi satu uraian dalam al-Qur’an yang diperkuat maknanya oleh uraian yang lain sehingga nampak seperti bangunan yang setiap bangunnya menopang bagian yang lainnya. Secara singkat munasabah dapat kami artikan sebagai relevansi hubungan atau keterkaitan antara ayat-ayat dengan ayat/surat lain yang tersusun secara taufiqi bagaikan untaian kalung yang menakjubkan.
Membahas masalah munasabah kita tidak akan terlepas dengan Ilmu Tanasibul Ayat was Suwar ( ). Yaitu ilmu Al-qur’an mengenai masalah munasabah, ilmu untuk mengetahui adanya relevansi antar ayat dan antar surat. Ilmu ini yang membantu kita dalam memahami dengan tepat hubungan antara ayat-ayat dan surat-surat yang bersangkutan.
Seorang ulama yang sangat berjasa dalam ilmu ini adalah Burhanudin Al-Biqo’idin. Beliau telah menyusun sebuah kitab yang sangat berharga dalam ilmu munasabah, yang diberi nama Nadhmu Ad-Durur Fi Tanasibul Ayat Was Suwar ( )
Untuk lebih memperjelas pemahaman akan ilmu munasabah, kami kira perlu menambahkan pendapat –pendapat para ulama kaitannya dengan imu ini. Secara garis besar ada dua pendapat dikalangan ulama tentang Ilmu Tanasibul Ayat Was Suwar
a.Pendapat yang menyatakan bahwa setiap ayat atau surat selalu ada relevansi dengan ayat dan surat yang lainnya. Ulama yang berpendapat seperti ini diantaranya yaitu

-Abu Bakar Al-Naisaburi (wafat tahun 324 H)
Beliau adalah ulama pertama yang memperkenalkan ilmu munasabah di Baghdad, Irak. Beliau mencela, mengkritik ulama Baghdad karena mereka tidak tahu adanya relevansi antara ayat-ayat dan antar surat-surat. Ia selalu mengatakan “mengapa ayat ini dibuat atau diletakkan didekat ayat itu dan apa hikmahnya membuat (meletakkan) surat ini didekat surat ini”
Sebuah ungkapan yang membuktikan bahwa beliau menganggap setiap ayat/surat dengan ayat/surat lain pasti ada munasabahnya.
-Muhammad ‘Izal Daruzah
Beliau mengatakan bahwa semula manusia mengira tidak ada hubungan antara ayat/surat dengan ayat/surat lain. Tetapi sebenarnya ternyata, bahwa sebagian besar ayat-ayat dan surat surat itu ada hubungan antara satu dengan yang lainnya.
-Asy-Syatibi
Beliau menjelaskan bahwa satu surat walaupun dapat mengandung banyak masalah, namun masalah-masalh tersebut berkaitan dengan satu sama lain. Sehingga seseorang hendaknya jangan hanya mengarahkan pandangannya pada awal surat, tetapi hendaknya memperhatikan pula akhir surat atau sebaliknya. Karena bila tidak demikian akan terabaikan maksud ayat-ayat yang diturunkan itu.
-Imam Fachruddin
Beliau adalah ulama yang banyak bicara tentang ilmu ini. Didalam kitabnya beliau mengatakan bahwa banyak rahasia Al-Qur’an tersimpan pada urutan penempatan ayat dan korelasi antar ayat.

b.Pendapat yang mengatakan munasabah itu tidak selalu ada. Hanya memang sebagian besar ayat-ayat dan surat-surat ada munasabahnya satu sama lain. Yang mewakili pendapat ini antara lain :
Dr. Shubhi Al-Shahih
Beliau mengatakan bahwa munasabah/ hubungan/relevansi antara ayat/surat dengan ayat/ surat lainnya tidak selalu ada. Hal ini berdasarkan pada tertib ayat-ayat yang taufiqi. Tertib ayat/surat yang taufiqi tidaklah berarti harus ada relevansinya, jika ayat ini memiliki asbabunnuzul yang berbeda-beda. Disamping itu beliau mengemukakan juga bahwa apabila antara ayat-ayat dan antara surat-surat yang tidak ada tamasul atau tasyabuh (persamaan/kesesuaian) antar maudhu’-maudhu’nya maka sudah tentu tidak ada relevansi atau munasabahnya.
Syaikh Izzudin bin Abd As-Salam
Beliau mengatakan bahwa ada tidaknya munasabah antar ayat-ayat atau surat-surat tergantung pada kesamaan tema mulai dari aawal sampai akhir surat. Turunnya Al-Qur’an dilatarbelakangi oleh sebab-sebab dan tema-tema yang berbeda. Untuk itulah tidak perlu untuk dipaksakan dalam menemukan munasabah antaranya.

B.MACAM-MACAM MUNASABAH
a.Munasabah Antar Surat
Sebagaimana yang telah kami bahas didepan bahwa terdapat hubungan antara surat-surat dengan surat lainnya dlaam al-Qur’an walau terdapat perbedaan tentang ada dan tidaknya munasabah antar surat. Ada yang berpendapat bahwa mudah mencari hubungan antar ayat, tetapi sukar sekali mencari mencari hubungan antar surat. Memang mencari relevansi antar surat tidaklah mudah karena surat merupakan kumpulan ayat. Banyak ulama yang menyatakan adanya kerumitan dan kesulitan didalam memahami munasabah antar surat Al-Qur’an. Oleh karena itu hanya sedikit ulama tafsir yang mengungkapkan adanya munasabah antar surat. Mereka cukup mencari adanya dua lafadh yang sama atau adanya dua ayat yang sebanding didalam kedua surat yang berurutan letaknya. Baik dua lafadh dan dua ayat yang serupa/sebanding itu terdapat dipermulaan atau pertengahan atau dipenghabisan surat.
Untuk jelasnya kami ambilkan contoh-contoh beberapa surat yang ada hubungannya satu sama lain.
1.Munasabah antara surat Al-Fath dengan surat sebelumnya (Al-Qital) dan dengan surat sesudahnya (Al-hjurat). Surat Al-Qital sebagai prolog tentang peperangan kaum muslimin dengan musyrikin Arab, surat AL-Fath yang berisi perdamaian Hudaibiyah, bukan pembebasan kota Makkah, sedangkan surat Al-Hujurat sebagai follow upnya yang mengatur bagaimana seharusnya umat islam.
2.Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa antara surat Al-Isra’; yang dimulai dengan tasbih ada munasabahnya dengan surat Al-Kahfi yang dimulai dengan tahmid. Sebab tasbih biasanya didahulukan dari tahmid.
3.Ada juga yang berpendapat bahwa permulaan surat Al-baqoroh

adalah isyaroh munasabah kepada lafazd yang ada disurat Al-Fatihah ayat keenam

seolah-olah mereka mohon petunjuk kejalan yang lurus, maka diterrangkan kepada mereka bahwa jalan yang lurus yang mereka mohon itu adalah Al-Qur’an
4.Mereka juga mengatakan bahwa surat Al-Kaustar mrerupakan imbangan dari surat Al-Ma’un sebab pada surat yang dahulu (AL-Ma’un) terdapat sifat-sifat orang-orang munafik sebanyak empat ialah kikir, tidak sembahyang, melakukan sholat dengan riya’, dan enggan mengeluarkan zakat maka didalam surat Al-Kaustar disebut sebagai imbangan sifat kikir disebut sebagai imbangan dengan meninggalkan sholat, dan disebut (untuk keridhoan Tuhanmu) sebagai imbangan dengan sifat riya’, disebut juga (berkurbanlah) sebagai imbangan sifat enggan membayar zakat.

b.Munasabah Antar Ayat
Ayat-ayat Al-Qur’an telah tersusun sebaik-baiknya berdasarkan petunjuk dari allah SWT sehingga pengertian tentang suatu ayat kurang dapat dipahami begitu saja tanpa mempelajari ayat-ayat sebelumnya. Kelompok ayat yang satu tidak dapat dipisahkan dengan kelompok ayat berikutnya. Antara satu ayat dengan ayat sebelum kelompok ayat berikutnya. Antara satu ayat dengan ayat sebelumnya dari sesudahnya mempunyai hubungan yang erat dan kait mengait, merupakan mata rantai yang sambung menyambung. Hal inilah yang disebut dengan istilah munasabah ayat.
Kami berikan beberapa contoh adanya munasabah antara ayat :
1.Firman Allah dalam surat Al-Ghosiyah ayat ke 17-20 :

Artinya : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan onta bagaimana dia diciptakan ? dan langit bagaimana ia ditinggikan ? dan gunung-gunung bagaimana ia diletakkan ? dan bumi bagaimana ia dihamparkan ? ”(QS. AL Ghosiyah 17-20)
Al-Zarkasyi menunjukan adanya munasabah antara ayat-ayat tersebut,dengan menyatakan bahwa masyarakat Badui yang hidup primitive pada waktu turunnya Al-Qur’an, binatang onta adalah sangat penting untuk kehidupan mereka dan onta itu memerlukan air. Itulah sebabnya mereka selalu memandang ke langit untuk mengharapkan hujan turun. Mereka juga memerlukan tempat aman umtuk berlindung. Dan tempat itu tiada lain kecuali gunung-gunung. Kemudian mereka selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang laiinnya untuk kelangsungan hidup mereka(nomaden). Maka apabila seorang badui melepaskan khayalnya, gambar-gambar disebut diatas akan terlihat dimukanya, sesuai dengan urutan ayat-ayat tersebut.

C.RELEVANSI ILMU MUNASABAH DENGAN ILMU ASBABUNNUZUL DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN
Munasabah dan Asbabunnuzul sama-sama cabang dari ulumul qur’an yang menerangkan makna Al-Qur’an. Jika Asasbabunnuzul membahas ayat/surat Al-Qur’an melalui sebab-sebab turunnya dan latar belakang historis, maka Munasabah mencoba membahas ayat dan surat Al-Qur’an berdasarkan hubungan / relevansi dengan ayat/surat lainnya.
Asbabunnuzul merupakan ilmu yanbg diakui sangat kuat dalam membantu mencari makna ayat/surat Al-Qur’an. Memang mengetahui Asbabunnuzul sangat membantu dalam memahami ayat. Namun demikian terdapat beberapa kelemahan dalam pencarian makn melalui cara Asbabunnuzul ini, yaitu ddalam hal periwayatan. Mengetahui Asbabunnuzul suatu ayat/surat sama halnya dengan menerapkan teori “lompatan waktu”. Kita dapat mengetahui sebab-sebab turunnya suatu ayat/ surat hanya melalui satu sumber yaitu sumber riwayat.
Suatu masalah akan muncul manakala terdapat dua atau lebih riwayat yang saling bertentangan mengenai suatu ayat. Hanya ada satu kemungkinan yaitu riwayat yang tidak shohih, tidak mungkin semua riwayat benar. Inilah yang menyulitkan para mufasir dalam mengungkapkan suatu makna ayat/surat
Demikianlah keberadaan ilmu munasabah menjadi salah satu alternative bagi kita untuk memahami makna ayat/surat dalam Al-Qur’an.bilamana ia tidak menyimpang dari apa yang telah diterangkan dalam asbabunnuzul.
Lebih jauh menurut Muhammad Abduh suatu surat memiliki satu makna dan erat pula hubungannya dengan surat sebelum dan sesudahnya. Apabila suatu ayat belum atau tidak biketahui Asbabunnuzulnya atau ada Asbabunnuzul tetapi riwayatnya lemah, maka ada baiknya pemahaman suatu ayat/surat dalam AL-Qur’an ditinjau dari sudut munasabahnya dengan ayat/surat sebelum maupun sesudahnya.
Melalui ilimu Munasabah suatu ayat/surat dapat dipahami makna tanpa asbabunnuzul. Asal seorang mufasir mempunyai pengetahuan yang luas tentang munasabah bagi kita baik Asbabunnuzul atau Munasabah sangat membantu dalam menerangkan mengungkapkan makna suatu ayat atau surat dalam AL-Qur’an. Asbabunnuzul dan Munasabah sebagai cabang ulumul qur’an yang saling membantu dan melengkapi dalam menafsirkan AL-Qur’an.

BAB III

PENUTUP

Ilmu Munasabah adalah ilmu yang sangat berharga bagi kita. Ilmu ini mencoba mengungkap mekna ayat/surat dalam Al-Qur’an melalui korelasi dan relevansi antar ayat dan surat. Hal ini memungkinkan hidup pada abad 15 H untuk mempelajari ayat-ayat Tuhan.
Keberadaan Ilmu Munasabah ikut serta melengkapi ilmu Asbabunnuzul. Keduanya bersama-sama mencoba menerangkan ayat dari sudut pandang yang berbeda. Juka asbabunnuzul membahas ayat-ayat dari segi sebab turunnya, maka MUnasabah membahas relevansi ayat-ayat untuk mengungkap makna ayat/ suret Al-Qur’an.
Mempelajari ilmu Munasabah adalah suatu keharusan bagi kita sebagai mahasiswa islam. Karena sebagian rahasia-rahasia Al-Qur’an dapat terungkap dengan ilmu ini. Akhirnya kami menyimpulkan bahwa salah satu syarat memahami Al-Qur’an adalah dengan mempelajari ilmu Munasabah yang sangat berharga ini.
DAFTAR PUSTAKA

Syadali, Ahmad, Drs, Ulumul Qur’an, Pustaka Setia, Bandung,1997
Al-Husni, Muhammad bin Alawi Al Maliki, Dr, Zubdah Al-Itqon Fi Ulum Al-Qur’an, terjemahan Drs.Rosihon M. Ag, Pustaka Setia, Bandung, 1999.

MUNASABAH DALAM AL-QUR’AN
Jumat, 08 Januari 10 – oleh : Awang JF

MUNASABAH DALAM AL-QUR’AN

A.PENDAHULUAN
Al-Qur’an adalah mukjizat Islam yang kekal, yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah Muhammad saw, sebagai bukti besar atas kenabian. Di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan yang sedemikian luasnya, yang apabila ditelaah dan dipelajari, akan memberikan penerangan serta membimbing manusia menuju jalan yang lurus.1 Akan tetapi walau demikian, al-Qur’an bukanlah kitab ilmiah seperti kitab ilmiah yang dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan. Misi al-Qur’an adalah dakwa untuk mengajak manusia menuju jalan yang terbaik. Dan al-Qur’an pun enggan memilah-milah pesan-pesannya, agar timbul kesan bahwa satu pesan lebih penting dari pesan yang lain. Allah swt yang menurunkan al-Qur’an menghendaki agar pesan-pesan-Nya diterima secara utuh dan menyeluruh.2
Sedangkan tujuan al-Qur’an dengan memilih sistematika yang seakan-akan tanpa keteraturan, adalah untuk mengingatkan manusia bahwa ajaran yang ada di dalam al-Qur’an adalah satu kesatuan yang terpadu yang tidak dapat di pisah-pisahkan. Dan bagi mereka yang tekun mempelajarinya justru akan menemukan keserasian hubungan yang mengagumkan, sehingga kesan yang tadinya terlihat kacau, berubah menjadi kesan yang terangkai indah, bagai kalung mutiara yang tidak diketahui di mana ujung dan pangkalnya.3
Berawal dari pernyataan di atas, banyak ulama yang mencoba memecah kebuntuan permasalahan yang berkenaan dengan keterkaitan ayat dan surat dalam al-Qur’an. Abu Bakr al-Naysaburi (w.324 H.) kemudian dikenal sebagai pelopor pengenalan hubungan keterkaitan isi dalam al-Qur’an, yang bermula dari pertanyaannya setiap kali ia dibacakan al-Qur’an, “Mengapa ayat ini diletakkan di samping ayat ini, dan apa rahasia diletakkan surat ini di samping surat ini?”.4
Adapun pengistilahan yang digunakan dalam hal tersebut adalah munasabah, yang secara bahasa diartikan sebagai kecocokan, kepatutan, kesesuaian, dan kedekatan.5 Sedangkan dalam pengertian secara istilah, terdapat beberapa macam pendapat dari para ulama, antara lain, Manna’ Khalil al-Qattan, bahwa segi-segi hubungan antara satu kata dengan kata yang lain dalam satu ayat, antar satu ayat dengan ayat lain, atau antar satu surat dengan surat yang lain. Sedangkan Hasbi al-Shiddiqie memandang bahwa munasabah hanya terbatas pada hubungan antar ayat. Dan al-Baghawi menyamakan munasabah dengan ta’wil. Serta Badruddin al-Zarkasyi dan al-Suyuthiy mengemukakan bahwa, munasabah mencakup hubungan antar ayat dan antar surat.6
Adapun pendapat lain mengatakan bahwa munasabah merupakan sebuah ilmu yang digunakan untuk mengetahui alasan-alasan penertiban bagian-bagian dari al-Qur’an. Dan ada pula yang mengatakan munasabah adalah usaha pemikiran manusia untuk menggali rahasia hubungan antar surat dan ayat yang dapat diterima akal. Dengan demikian, ilmu ini menjelaskan aspek-aspek hubungan antara ayat atau surat al-Qur’an baik sebelum maupun sesudahnya. Hubungan tersebut dapat berupa hubungan antara ‘am dan khas, abstrak dan kongkrit, sebab dan akibat, rasional dan irrasional, dan bahkan antara dua hal yang saling kontradiktif.7
M. Quraish Shihab, berpendapat bahwa yang dimaksud dengan keserasian dalam al-Qur’an dapat terlihat antara lain : Hubungan kata demi kata dalam satu ayat, hubungan antara kandungan ayat dengan fashilah (penutup ayat), hubungan ayat dengan ayat berikutnya, hubungan mukaddimah satu surah dengan penutupnya, hubungan penutup satu surah dengan mukaddimah surah berikutnya, dan hubungan kandungan surah dengan surah berikutnya.8
Dalam halnya memberikan tanggapan terhadap cabang ilmu Ulumul Qur’an ini, yakni ilmu munasabah, telah menuai beberapa pemikiran para ulama yang diantaranya mendukung dan diantaranya memberikan tentangan. Diantara yang memberikan dukungan adalah Fakhrudin al-Razi, yang memberikan perhatian terhadap munasabah baik antar ayat maupun antar surat. Bukti perhatiannya seperti telah dikutip oleh al-Suyuthiy adalah “Ia dalam tafsirnya banyak sekali bagian-gabian halus dari al-Qur’an yang tersimpan dalam susunan ayat dan hubungan-hubungannya”. Sedangkan Nizhamuddin an-Nisaburi, dan Abu Hayyan al-Andalusiy, yang memberikan perhatian pada munasabah antar ayat saja. Selain itu masih banyak lagi ulama yang ikut menuangkan buah pemikirannya tentang ilmu munasabah ini dalam berbagai macam kitab besarnya. Walaupun di antar mereka tidak menggunakan istilah yang sama, seperti Sayyid Qutb yang menggunakan istilah irtibath, Rasyid Ridha dengan istilah ittishal dan ta’lil, al-Alusiy beristilah dangan tartib, dan ar-Razi menggunakan istilah ta’alluq.9
Adapun ulama yang memberikan tentangan terhadap ilmu munasabah, seperti Ma’ruf Dualibi, mengatakan bahwa “Maka termasuk usaha yang tidak perlu dilakukan adalah mencari-cari hubungan di antara ayat-ayat dan surat-surat al-Qur’an. Sebagaimana halnya andaikata urusan itu mengenai satu hal saja, tentang ‘aqaid, budi pekerti, ataupun mengenai hak-hak dan kewajiban misalnya. Sebenarnya yang dicari itu hanyalah hubungan atas dasar satu atau beberapa prinsip saja”. Hal ini diperjelas oleh al-Syatibi dalam kitab al-muwafaqat, menyatakan bahwa al-Qur’an dalam berbagai ayat yang ditampilkannya hanya mengungkapkan hal-hal yang bersifat prinsip (mabda’) dan norma umum (kaidah) saja. Dengan demikian tidaklah pada tempatnya bila orang bersikeras memaksakan diri mencari korelasi antara ayat-ayat dan surat-surat yang bersifat tafshil.10
Mufassir lain yang kurang menyetujui dengan adanya munasabah adalah Mahmud Syaltuth, seorang ulama modern yang memiliki berbagai karya besar termasuk tafsir.11
Terlepas dari segala macam pro dan kontra tersebut, yang jelas usaha untuk mencari dan menggali lebih dalam tentang apapun yang terkandung di dalam al-Qur’an adalah merupakan upaya besar, dengan maksud kaum muslimin memberikan perhatian penuh terhadap kitab sucinya, sehingga dapat mengambil petunjuk darinya.
B.MUNASABAH DALAM AL-QUR’AN
Membicarakan masalah munasabah dalam al-Qur’an, sangat berkaitan erat dengan sistem penertiban ayat dan surat dalam al-Qur’an. Dalam hal ini Manna’ Khalil al-Qattan menyatakan bahwa “Qur’an terdiri atas surat-surat dan ayat-ayat, baik yang pendek maupun yang panjang. Ayat adalah sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam sebuah surat dalam al-Qur’an, dan surat adalah sejumlah ayat al-Qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan. Tertib dan urutan ayat-ayat al-Qur’an adalah taufiqi, ketentuan dari Rasulullah saw dan atas perintahnya”. Hal tersebut merupakan asumsi dari sebuah riwayat, dari Usman bin Abil ‘As berkata :
كنت جالسا عند رسول الله صلى الله عليه و سلم إذ شخص ببصره ثم صوبه، ثم قال : أتاني جبريل فأمرني أن أضع هذه الآية هذا الموضع من هذه السورة. (إن الله يأمر بالعدل و الإحسان و إيتاء ذي القربى. ـ النحل : 90) الخ.
Aku tengah duduk di samping Rasulullah, tiba-tiba pandangannya menjadi tajam lalu kembali seperti semula. Kemudian katanya, “Jibril telah datang kepadaku dan memerintahkan agar aku meletakkan ayat ini di tempat dari surah ini : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan serta memberi kepada kerabat, …(an-Nahl : 90) dan seterusnya.12

Usman berhenti ketika mengumpulkan Qur’an pada tempat setiap ayat dari sebuah surah dalam al-Qur’an, dan sekalipun ayat tersebut telah mansukh hukumnya, tanpa mengubahnya. Ini menunjukkan bahwa penulisan ayat dengan tertibnya adalah taufiqi.13
Dengan demikian, tertib ayat-ayat Qur’an seperti yang ada dalam mushaf yang beredar saat ini adala taufiqi, tanpa diragukan lagi. As-Suyuthi menyebutkan hadits-hadits berkenaan dengan surat tertentu mengemukakan : “Pembacaan surat-surat yang dilakukan nabi di hadapan para sahabat itu menunjukkan bahwa tertib atau susunan ayat-ayatnya adalah taufiqi. Sebab, para sahabat tidak akan menyusunnya dengan tertib yang berbeda dengan yang mereka dengar dari bacaan Nabi. Maka sampailah tertib ayat seperti demikian kepada tingkat mutawatir.”14
1.Macam-Macam Munasabah.
Ditinjau dari sifatnya, munasabah terbagi menjadi 2 bagian, yaitu : Pertama, zhahirul irtibath, yang artinya munasabah ini terjadi karena bagian al-Qur’an yang satu dengan yang lain nampak jelas dan kuat disebabkan kuatnya kaitan kalimat yang satu dengan yang lain. Deretan beberapa ayat yang menerangkan sesuatu materi itu terkadang, ayat yang satu berupa penguat, penafsir, penyambung, penjelas, pengecualian, atau pembatas dengan ayat yang lain. Sehingga semua ayat menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan. Sebagai contoh, adalah hubungan antara ayat 1 dan 2 dari surat al-Isra’, yang menjelaskan tentang di-isra’-kannya Nabi Muhammad saw, dan diikuti oleh keterangan tentang diturunkannya Tarurat kepada Nabi Musa as. Dari kedua ayat tersebut nampak jelas bahwa keduanya memberikan keterangan tentang diutusnya nabi dan rasul.15
Dan kedua, khafiyul irtibath, artinya munasabah ini terjadi karena antara bagian-bagian al-Qur’an tidak ada kesesuaian, sehingga tidak tampak adanya hubungan di antara keduanya, bahkan tampak masing-masing ayat berdiri sendiri, baik karena ayat yang dihubungkan dengan ayat lain maupun karena yang satu bertentangan dengan yang lain.16 Hal tersebut tampak dalam 2 model,17 yakni, hubungan yang ditandai dengan huruf ‘athaf, sebagai contoh, terdapat dalam surat al-Ghosyiyah ayat 17-20 :
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan. Dan langit, bagaimana ditinggikan. Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan. Dan bumi, bagaimana dihamparkan.

Jika diperhatikan, ayat-ayat tersebut sepertinya tidak terkait satu dengan yang lain, padahal hakekatnya saling berkaitan erat. Penyebutan dan penggunaan kata unta, langit, gunung, dan bumi pada ayat-ayat tersebut berkaitan erat dengan kebiasaan yang berlaku di kalangan lawan bicara yang tinggal di padang pasir, di mana kehidupan mereka sangat tergantung pada ternak (unta), namun keadaan tersebut tak kan bisa berlangsung kecuali dengan adanya air yang diturunkan dari langit untuk menumbuhkan rumput-rumput di mana mereka mengembala, dan mereka memerlukan gunung-gunung dan bukit-bukit untuk berlindung dan berteduh, serta mencari rerumputan dan air dengan cara berpindah-pindah di atas hamparan bum yang luas.18
Sedangkan model yang kedua, adalah tanpa adanya huruf ‘athaf, sehingga membutuhkan penyokong sebagai bukti keterkaitan ayat-ayat, berupa pertalian secara maknawi. Dalam hal ini ada 3 (tiga) jenis : Tanzhir atau hubungan mencerminkan perbandingan, Mudhaddah atau hubungan yang mencerminkan pertentangan, Istithrad atau hubungan yang mencerminkan kaitan suatu persoalan dengan persoalan lain.19
Adapun munasabah dari segi materinya, dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :
Pertama, munasabah antar ayat dalam al-Qur’an, yaitu hubungan atau persesuaian antara ayat yang satu dengan yang lain. Dengan penjelasan dan contoh yang telah penulis kemukakan di atas.
Kedua, munasabah antar surat. Dalam hal ini muhasabah antar surat dalam al-Qur’an memiliki rahasia tersendiri. Ini berarti susunan surat dalam al-Qur’an disusun dengan berbagai pertimbangan logis dan filosofis.20 Adapun cakupan korelasi antar surat tersebut adalah sebagai berikut :
a.Hubungan antara nama-nama surat. Misalnya surat al-Mu’minun, dilanjutkan dengan surat an-Nur, lalu diteruskan dengan surat al-Furqon. Adapun korelasi nama surat tersebut adalah orang-orang mu’min berada di bawah cahaya (nur) yang menerangi mereka, sehingga mereka mampu membedakan yang haq dan yang bathil.21
b.Hubungan antara permulaan surat dan penutupan surat sebelumnya. Misalnya permulaan surat al-Hadid dan penutupan surat al-waqi’ah memiliki relevansi yang jelas, yakni keserasian dan hubungan dengan tasbih. سبح لله ما في السماوات و الأرض و هو العزيز الحكيم (الحديد : 1) dan فسبح باسم ربك العظيم (الواقعة : 96) .
c.Hubungan antar awal surat dan akhir surat. Dalam satu surat terdapat korelasi antara awal surat dan akhirannya. Misalnya, dalam surat al-Qashash dimulai dengan kisah nabi Musa dan Fir’aun serta kroni-kroninya, sedangkan penutup surat tersebut menggambarkan pernyataan Allah agar umat Islam jangan menjadi penolong bagi orang-orang kafir, sebab Allah lebih mengetahui tentang hidayah.22
d.Hubungan antara dua surat dalam soal materi dan isinya. Misalnya antara surat al-Fatihah dan surat al-Baqarah. Yang mana dalam surat al-Fatihah berisi tema global tentang aqidah, muamalah, kisah, janji, dan ancaman. Sedangkan dalam surat al-Baqarah menjadikan penjelas yang lebih rinci dari isi surat al-Fatihah.
Dalam bukunya Mukjizat al-Qur’an, M. Quraish Shihab memberikan satu sistematika surat al-Baqarah dengan susunan uraian sebagai berikut :
a.Pendahuluan, yang berbicara tentang al-Qur’an.
b.Uraian yang mengandung empat tujuan pokok, yaitu :
1)Ajakan kepada seluruh manusia untuk memeluk ajaran Islam.
2)Ajakan kepada ahli kitab agar meninggalkan kebatilan mereka dan mengikuti ajaran Islam.
3)Penjelasan tentang ajaran-ajaran al-Qur’an.
4)Penjelasan tentang dorongan dan motivasi yang dapat mendukung pemeluknya melaksanakan ajaran Islam.
c.Penutup, yang menjelaskan siapa yang mengikuti ajaran ini serta penjelasan tentang apa yang diharapkan oleh mereka untuk dapat mereka peroleh dalam hidup di dunia dan akhirat.23
2.Urgensi Memamahi Munasabah Dalam Menafsirkan Al-Qur’an.
Dalam kaitannya dengan penafsiran al-Qur’an, munasabah juga membantu dalam interpretasi dan ta’wil ayat dengan baik dan cermat. Di antara para mufassir, menafsirkan ayat atau surat dengan menampilkan asbabun nuzul ayat atau surat. Tetapi sebagian dari mereka bertanya-tanya, manakah yang harus di dahulukan? Aspek asbabun nuzul-nya ataukah munasabah-nya. Hal ini menunjukkan adanya kaitan yang erat antar ayat yang satu dengan lainnya dalam rangkaiannya yang serasi.24
Dengan demikian ilmu munasabah mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam menafsirkan al-Qur’an. Ilmu ini dipahami sebagai pembahasan tentang rangkaian ayat-ayat beserta korelasinya, dengan cara turunnya yang berangsur-angsur dan tema-tema serta penekanan yang berbeda. Dan ketika menjadi sebuah kitab, ayat yang terpisah secara waktu dan bahasan itu dirangkai dalam sebuah susunan yang baku.
Dan ketika kita menyadari bahwa al-Qur’an merupakan satu kesatuan yang utuh, maka ilmu munasabah menjadi satu topik yang dapat membantu pemahaman dan mempelajari isi kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, terdapat 3 (tiga) arti penting dari munasabah dalam memahami dan menafsirkan al-Qur’an.25 Pertama, dari segi balaghah, korelasi ayat dengan ayat menjadikan keutuhan yang indah dalam tata bahasa al-Qur’an. Dan bahasa al-Qur’an adalah suatu susunan yang paling baligh (tinggi nilai sastranya) dalam hal keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya. Kedua, ilmu munasabah dapat memudahkan orang dalam memahami makna ayat atau surat. Dalam hal penafsiran bil ma’tsur maupun bir ra’yi, jelas membutuhpan pemahaman mengenai ilmu tersebut. Izzuddin ibn Abdis Salam menegaskan bahwa, ilmu munasabah adalah ilmu yang baik, manakala seseorang menghubungkan kalimat atau ayat yang satu dengan lainnya, maka harus tertuju kepada ayat-ayat yang benar-benar berkaitan, baik di awal maupun di akhirnya. Ketiga, sebagai ilmu kritis, ilmu munasabah akan sangat membantu mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Setelah ayat-ayat tersebut dipahami secara tepat, dan demikian akan dapat mempermudah dalam pengistimbatan hukum-hukum atau pun makna-makna terselubung yang terkandung di dalamnya.26
Jadi, sudah jelas bahwa memahami munasabah dalam al-Qur’an merupakan hal yang penting dan sangat urgen, terutama dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’an. Sehingga dapat memberikan penafsiran yang lebih tepat dan rinci, serta akan lebih mendapatkan pemahaman yang sesuai dengan rasio demi memberikan pencerahan dalam diri untuk lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan seorang muslim.
3.Nilai Pendidikan Dalam Munasabah Al-Qur’an.
Apapun dari setiap ilmu, pastilah memberikan sumbangan besar terhadap pendidikan. Baik dalam konsep dan teori, maupun dalam hal praktis. Demikan pula dengan hadirnya ilmu munasabah yang mempelajari korelasi antar ayat maupun surat dalam al-Qur’an, tentunya terdapat hikmah yang baik dalam meningkatkan pendidikan.
Bertolak dari sisi konsepnya, ilmu munasabah dijadikan sebagai cara kritis dalam menelaah keterkaitan antar ayat maupu surat dalam al-Qur’an. Jadi, bila dikaitkan dengan konsep pendidikan yang tentunya memiliki unsur dasar yang berupa kurikulum dan materi ajar. Yang mana di dalam sebuah kurikulum pastilah terdapat : a. Bagian yang berkenaan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh proses belajar mengajar, b. Bagian yang berisi pengetahuan, informasi-informasi, data, aktifitas-aktifitas, dan pengalaman-pengalaman yang merupakan bahan bagi penyusunan kurikulum yang bisinya berupa mata pelajaran yang kemudian dimasukkan kedalam silabus. c. Bagian yang berisi metode atau cara menyampaikan mata pelajaran tersebut. d. Bagian yang berisi metode atau cara melakukan penilaian dan pengukuranatas hasil mata pelajaran.27 Dengan melihat dan memperhatikan konsep dasar kurikulum tersebut, seyogyanyalah dalam sebuah kurikulum tersebut terdapat keterkaitan dan kesesuaian antara tujuan yang hendak dicapai, proses yang akan dijalani dalam pembelajaran, materi yang diajarkan, dan sistem evaluasi yang akan dilakukan.
Begitu pula dalam menentukan materi ajar, haruslah memperhatikan persesuaian materi ajar dari seluruh bab yang hendak di ajarkan, sehingga akan menjadi kesatuan yang utuh demi menuju tujuan pembelajaran yang diinginkan. Demikian juga pengaplikasian pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru, haruslah memiliki prosedur pembelajaran yang jelas dan terarah, sehingga anak didik yang dijadikan sebagai objek pembelajaran akan dapat menerima dan memahami pelajaran dengan baik.
Lebih lanjutnya, pengaplikasian ilmu munasabah dapat juga dilakukan pada pelaksanaan evaluasi dalam pendidikan. Yang cakupannya menjadi sangat luas, yakni mencakup kepada seluruh sistem dan komponen dalam sebuah proses pendidikan.
C.PENUTUP
Ilmu munasabah yang merupakan hal baru dalam cabang ulumul Qur’an, telah mendapatkan perhatian khusus dikalangan para ulama. Sebab dengan ilmu ini akan dapat diusahakan sebagai ilmu pencarian korelasi dan hubungan baik antar kata, ayat, maupun surat dalam al-Qur’an. Hal ini bertujuan agar lebih bisa memahami al-Qur’an tersebut secara utuh dan menyeluruh terutama dalam penafsirannya.
Konsep ilmu munasabah, memberikan nilai khusus bagi pendidikan. Terutama pada segi pelaksanaan pendidikan mulai dari kurikulum, materi ajar, dan proses pembelajaran sampai pada evaluasi, yang harus mempunyai keterkaitan dan kesesuaian antara unsur yang satu terhadap unsur yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Yusuf al-Hajj, Seri Kemukjizatan al-Qur’an dan Sunnah, Sajadah Press, Yogyakarta, 2008
Al-Qattan, Manna’ Khalil, Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an, terj. Mudzakir AS., Pustaka Litera Antar Nusa, Bogor, 2001
Chirzin, Muhammad, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, cet. II, PT. Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta, 2003
Mohsen, Abdul Radhi Muhammad Abdul, Kenabian Muhammad saw : Mengulas fakta membunuh jalan kebohongan, terj. Akmal B. Arrasuli, Sahara publisher, Jakarta, 2004
Nata, Abudin, Filsafat Pendidikan Islam, Gaya Media Pratama, Jakarta, 2005

Salman bin Umar as-Sunadi, Mudahnya Memahami al-Qur’an, Darul Haq, Jakarta, 2007
Shihab, M. Qraish, Mukjizat al-Qur’an, cet.XIV, Mizan, Bandung, 2004
Supiana dan Karman, M., Ulumul Qur’an, Pustaka Islamika, Bandung, 2002
Usman, Ulumul Qur’an, Teras, Yogyakarta, 2009

Kitab suci al-Qur’an merupakan kitab yang berisi berbagai petunjuk dan peraturan yang disyari’atkan dan al-Qur’an memiliki sebab dan hikmah yang bermacam. Dalam ayat-ayat al-Qur’an memiliki maksud-maksud tertentu yang diturunkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang membutuhkan, turunnya ayat juga bersangkutan dengan peristiwa yang terjadi pada masa itu. Susunan ayat-ayat dan surah-surahnya ditertibkan sesuai dengan yang terdapat dalam lauh al-mahfudh, sehingga tampak adanya persesuaian antara ayat satu dengan ayat yang lain dan antara surah satu dengan surah yang lain.

Oleh karena itu, timbul cabang ilmu dari ulumul Qur’an yang khusus membahas persesuaian-persesuaian tersebut, yaitu yang disebut ilmu munasabah atau ilmu tanaasubil ayati wassuwari. Orang yang pertama kali menulis cabang ilmu ini adalah Imam Abu Bakar an-Naisaburi (324 H). Kemudian disusul oleh Abu Ja’far ibn Zubair yang mengarang kitab “Al-Burhanu fi Munasabati Suwaril Qur’ani” dan diteruskan oleh Burhanuddin al-Buqai yang menulis kitab “Nudzumud Durari fi Tanasubil Aayati Wassuwari” dan as-Suyuthi yang menulis kitab “Asraarut Tanzilli wa Tanaasuqud Durari fi Tanaasubil Aayati Wassuwari” serta M. Shodiq al-Ghimari yang mengarang kitab “Jawahirul Bayani fi Tanasubi Wassuwari Qur’ani”.

A. Pengertian Munasabah

Menurut bahasa, munasabah berarti hubungan atau relevansi, yaitu hubungan persesuaian antara ayat atau surat yang satu dengan ayat atau surat yang sebelum atau sesudahnya.

Ilmu munasabah berarti ilmu yang menerangkan hubungan antara ayat atau surat yang satu dengan ayat atau surat yang lainnya.

Karena itu sebagian pengarang menamakan ilmu ini dengan “ilmu tanasubil ayati was suwari”, yang artinya juga sama, yaitu ilmu yang menjelaskan persesuaian antara ayat atau surat yang satu dengan ayat atau surat yang lain.

Menurut istilah, ilmu munasabah / ilmu tanasubil ayati was suwari ini ialah ilmu untuk mengetahui alasan-alasan penertiban dari bagian-bagian al-Qur’an yang mulia.

Ilmu ini menjelaskan segi-segi hubungan antara beberapa ayat / beberapa surat al-Qur’an. Apakah hubungan itu berupa ikatan antara ‘am (umum) dan khusus / antara abstrak dan konkret / antara sebab-akibat atau antara illat dan ma’lunya, ataukah antara rasional dan irasional, atau bahkan antara dua hal yang kontradiksi.

Jadi pengertian munasabah itu tidak hanya sesuai dalam arti yang sejajar dan parallel saja. Melainkan yang kontradiksipun termasuk munasabah, seperti sehabis menerangkan orang mukmin lalu orang kafir dan sebagainya. Sebab ayat-ayat al-Qur’an itu kadang-kadang merupakan takhsish (pengkhususan) dari ayat-ayat yang umum. Dan kadang-kadang sebagai penjelasan yang konkret terhadap hal-hal yang abstrak.

Sering pula sebagai keterangan sebab dari suatu akibat seperti kebahagiaan setelah amal sholeh dan seterusnya. Jika ayat-ayat itu hanya dilihat sepintas, memang seperti tidak ada hubungan sama sekali antara ayat yang satu dengan yang lainnya, baik dengan yang sebelumnya maupun dengan ayat yang sesudahnya. Karena itu, tampaknya ayat-ayat itu seolah-olah terputus dan terpisah yang satu dari yang lain seperti tidak ada kontaknya sama sekali. Tetapi kalau diamati secara teliti, akan tampak adanya munasabah atau kaitan yang erat antara yang satu dengan yang lain.

Karena itu, ilmu munasabah itu merupakan ilmu yang penting, karena ilmu itu bisa mengungkapkan rahasia kebalaghahan al-Qur’an dan menjangkau sinar petunjuknya.

B. Dasar-dasar Pemikiran Adanya Munasabah Diantara Ayat-ayat / Surat-surat al-Qur’an

Asy-Syatibi menjelaskan bahwa satu surat, walaupun dapat mengandung banyak masalah, namun masalah-masalah tersebut berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga seseorang hendaknya jangan hanya mengarahkan pandangan pada awal surat, tetapi hendaknya memperhatikan pula akhir surat atau sebaliknya. Karena bila tidak demikian, akan terabaikan maksud ayat-ayat yang diturunkan itu.

Mengenai hubungan antara suatu ayat atau surat dengan ayat atau surat lain (sebelum atau sesudahnya) tidaklah kalah pentingnya dengan mengetahui sebab nuzulul ayat. Sebab mengetahui adanya hubungan antara ayat-ayat dan surat-surat itu dapat pula membantu kita memahami dengan tepat ayat-ayat dan surat-surat yang bersangkutan. Ilmu al-Qur’an mengenai masalah ini disebut :

علم تناسب الأيات والسّور.

Ilmu ini dapat berperan mengganti ilmu asbabul nuzul, apabila kita tidak dapat mengetahui sebab turunnya suatu ayat, tetapi kita bisa mengetahui adanya relevansi ayat itu dengan yang lainnya. Sehingga di kalangan ulama timbul masalah mana yang didahulukan antara mengetahui sebab turunnya ayat dengan mengetahui hubungan antara ayat itu dengan yang lainnya.

Tentang masalah ilmu munasabah di kalangan ulama’ terjadi perbedaan pendapat, bahwa setiap ayat atau surat selalu ada relevansinya dengan ayat atau surat lain. Ada pula yang menyatakan bahwa hubungan itu tidak selalu ada. Akan tetapi sebagian besar ayat-ayat dan surat-surat ada hubungannya satu sama lain. Ada pula yang berpendapat bahwa mudah mencari hubungan antara suatu ayat dengan ayat lain, tetapi sukar sekali mencari hubungan antara suatu surat dengan surat yang lain.

Muhammad ‘Izah Daruzah mengatakan bahwa semula orang menyangka antara satu ayat atau surat dengan ayat atau surat yang lain tidak memiliki hubungan antara keduanya. Tetapi kenyataannya, bahwa sebagian besar ayat-ayat dan surat-surat itu ada hubungan antara satu dengan yang lain.

Sebagaimana contoh surat al-Fath, ada hubungannya dengan surat sebelumnya (surat al-Qital/Muhammad) dan dengan surat sesudahnya (al-Hujurat). Surat al-Fath diturunkan sesudah Nabi mencapai perdamaian Hudaibiyah dengan musyrikin Makkah dan umat Islam mendapatkan kemenangan setelah didahului dengan peperangan dengan musyrikin Arab, maka jelaslah ada hubungannya dengan surat sebelumnya (al-Qital/Muhammad). Setelah kemenangan di tangan Islam dan keamanan serta ketertiban masyarakat sudah mantap, maka turunlah surat al-Hujurat yang mengatur bagaimana seharusnya sikap umat Islam. Mengenai contoh antara ayat satu dengan ayat yang lain dapat dilihat pada uraian-uraian berikut:

Firman Allah dalam surat al-Ghasyiyah ayat 17-20

Ÿxsùr& tbrã�ÝàYtƒ ’n<Î) È@Î/M}$# y#ø‹Ÿ2 ôMs)Î=äz ÇÊÐÈ ’n<Î)ur Ïä!$uK¡¡9$# y#ø‹Ÿ2 ôMyèÏùâ‘ ÇÊÑÈ ’n<Î)ur ÉA$t6Ågø:$# y#ø‹x. ôMt6ÅÁçR ÇÊÒÈ ’n<Î)ur ÇÚö‘F{$# y#ø‹x. ôMysÏÜß™ ÇËÉÈ

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (QS. Al-Ghasyiyah: 17-20)

Dalam ayat tersebut kelihatan tidak ada relevansinya dan perpaduan pikiran pada ayat tersebut. Sebab meninggikan langit terpisah dari menciptakan unta. Dan menegakkan gunung terpisah dari meninggikan langit dan juga menghamparkan bumi terputus dari menegakkan gunung. Akan tetapi al-Zarkasyi dalam kitab al-Burhan 1:45, telah menunjukkan ada munasabah antara ayat-ayat itu. Pada waktu turun al-Qur’an masyarakat badui yang masih primitif, binatang unta adalah sangat vital untuk kehidupan mereka dan unta-unta itu membutuhkan air untuk minum. Oleh sebab itu, mereka sering memandang ke langit untuk mengharapkan hujan turun. Mereka juga memerlukan tempat tinggal untuk berlindung dan tiada lain adalah di gunung-gunung, kemudian mereka selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk kelangsungan hidupnya.

Sebagaimana keterangan di atas bahwasanya mencari munasabah atau relevansi antara satu ayat dengan ayat yang lain tidaklah begitu sulit. Sebab pembicaraan kita sedikit yang tidak bisa dipahami dengan satu ayat saja, sehingga perlu ada ayat-ayat yang mengiringinya untuk menjelaskan maksud ayat yang terdahulu. Berbeda dengan mencari hubungan antara surat satu dengan surat yang lain terlihat adanya kesulitan. Oleh karena itu, hanya sedikit ulama tafsir yang mengungkapkan adanya munasabah atau relevansi antara surat satu dengan surat yang lainnya. Mereka cukup mencari-cari adanya dua lafadz yang serupa atau adanya dua ayat yang sebanding dalam kedua surat yang berurutan letaknya baik di permulaan, di pertengahan maupun di penghabisan surat.

Di bawah ini adalah beberapa contoh surat yang ada munasabah / relevansi.

1. Permulaan surat al-Baqarah

$O!9# y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu‘ ¡ Ïm‹Ïù ¡

“Alif laam miin. Kitab (Al Qur’an) Ini tidak ada keraguan padanya”.

Di dalam ayat ini terdapat isyarah kepada lafaz yang ada di dalam surat al-Fatihah ayat ke enam.

$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ

“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”

Di dalam surat ini seolah-olah ketika mereka mohon petunjuk ke jalan yang lurus yang mereka mohon itu adalah al-Qur’an. Karena al-Qur’an adalah jalan yang lurus dan tidak ada keragu-raguan di dalamnya seperti surat yang pertama.

2. Surat al-Isra’ yang dimulai dengan tasbih ada munasabah atau relevansi dengan surat al-Kahfi yang dimulai dengan tahmid. Sebab tasbih biasanya didahului dengan tahmid.

3. Surat al-Kautsar merupakan imbangan dari surat al-Ma’un. Sebab pada surat al-Ma’un terdapat tanda-tanda atau sifat-sifat orang munafik sebanyak empat, yaitu kikir, tidak sembahyang, melakukan shalat dengan riya’ (show) dan enggan mengeluarkan zakat. Maka di dalam surat al-Kautsar :

!$¯RÎ) š�»oYø‹sÜôãr& t�rOöqs3ø9$# ÇÊÈ

“Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”. (QS. Al-Kautsar: 1)

Sebagai imbangan sifat kikir, dan lafadz فصل (maka shalatlah kamu) sebagai bandingan dengan meninggalkan shalat dan lafadz لربك (untuk keridhaan Allah bukan untuk manusia). Sebagai imbangan dengan sifat riya’, kemudian lafadz وانحر (berkurbanlah) sebagai imbangan sifat ingin memberi zakat dan yang dimaksud dengan وانحر ialah bersedekah dengan daging kurban.

Pencarian-pencarian ini yang dilakukan oleh ulama tafsir tidak sia-sia, sebab tidak sedikit manfaatnya bagi umat Islam yang bermaksud mendalami al-Qur’an. Berkah ketekunan ulama tafsir yang luar biasa itu mereka sendiri puas dan juga memberi kepuasan umat Islam. al-Qur’an mengandung macam hukum dan peraturan dan karena sebab-sebab yang berbeda-beda maka tersusunlah ayat-ayat al-Qur’an dengan sebaik-baiknya dan setepat-tepatnya dalam tiap-tiap surat. Sehingga apabila kita bisa mengetahui adanya munasabah/relevansi, maka kita tidak perlu mencari sebab turunnya ayat-ayat al-Qur’an satu persatu.

C. Macam-macam Munasabah

Munasabah / persesuaian / persambungan / kaitan bagian al-Qur’an yang satu dengan yang lain itu bisa bermacam-macam, jika dilihat dari berbagai seginya.

1. Macam-macam sifat munasabah

Jika ditinjau dari segi sifat munasabah atau keadaan persesuaian dan persambungannya, maka munasabah itu ada dua macam, yaitu :

a. Persesuaian yang nyata (dzahirul irtibath) / persesuaian yang tampak jelas yaitu yang bersambungan atau persesuaian antara bagian yang satu dengan yang lain tampak jelas dan kuat. Karena kaitan kalimat yang satu dengan yang lain erat sekali. Sehingga yang satu tidak bisa menjadi kalimat yang sempurna, jika dipisahkan dengan kalimat yang lain, maka deretan beberapa ayat yang menerangkan sesuatu materi itu kadang-kadang ayat yang satu itu sebagai penguat, penafsir, penyambung, penjelasan, pengecualian / pembatasan dari ayat yang lain. Sehingga ayat-ayat tersebut tampak sebagai satu kesatuan yang sama. Contohnya, seperti persambungan antara ayat 1 surat al-Isra’

z`»ysö6ß™ ü“Ï%©!$# 3“uŽó r& ¾Ínωö7yèÎ/ Wxø‹s9 šÆÏiB ωÉfó¡yJø9$# ÏQ#t�ysø9$# ’n<Î) ωÉfó¡yJø9$# $|Áø%F{$#

“Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha”.

Ayat tersebut menerangkan Isra Nabi Muhammad saw. Selanjutnya, ayat 2 surat al-Isra yang berbunyi :

$oY÷�s?#uäur Óy›qãB |=»tGÅ3ø9$# çm»oYù=yèy_ur “W‰èd ûÓÍ_t6Ïj9 Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î)

“Dan kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan kami jadikan Kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil”.

Ayat tersebut menjelaskan diturunkannya kitab Taurat kepada Nabi Musa as. Persesuaian antara kedua ayat tersebut ialah tampak jelas mengenai diutusnya kedua Nabi/Rasul tersebut.

b. Persambungan tidak jelas (khafiyyul istibadh) samarnya persesuaian antara pertalian untuk keduanya, bahkan seolah-olah masing-masing ayat atau surat itu sendiri-sendiri baik karena ayat-ayat yang satu itu diathofkan kepada yang lain, atau karena yang satu bertentangan dengan yang lain. Contohnya, seperti hubungan antara ayat 189 surat al-Baqarah dengan ayat 190 surat al-Baqarah. Ayat 189 surat al-Baqarah tersebut berbunyi :

š�tRqè=t«ó¡o„ Ç`tã Ï’©#ÏdF{$# ( ö@è% }‘Ïd àM‹Ï%ºuqtB Ĩ$¨Y=Ï9 Ædkysø9$#ur 3

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji”.

Ayat tersebut menerangkan bulan tsabit/tanggal untuk tanda-tanda waktu dan untuk jadwal ibadah haji.

Sedangkan ayat 190 surat al-Baqarah berbunyi :

(#qè=ÏG»s%ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# tûïÏ%©!$# óOä3tRqè=ÏG»s)ムŸwur (#ÿr߉tG÷ès? 4

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas”.

Ayat tersebut menerangkan perintah menyerang kepada orang-orang yang menyerang umat Islam. Sepintas, antara kedua ayat tersebut seperti tidak ada hubungannya / hubungan yang satu dengan yang lainnya samar. Padahal sebenarnya ada hubungan antara kedua ayat tersebut yaitu, ayat 189 surat al-Baqarah mengenai soal waktu untuk haji, sedang ayat 190 surat al-Baqarah menerangkan: sebenarnya, waktu itu haji umat Islam dilarang berperang, tetapi jika ia diserang lebih dahulu, maka serangan-serangan musuh itu harus dibalas, walaupun pada musim haji.

2. Macam-macam materi munasabah

Ditinjau dari segi materinya, maka munasabah itu ada 2 macam sebagai berikut :

a. Munasabah antar ayat yaitu munasabah / persambungan antara ayat yang satu dengan yang lainnya. Munasabah itu bisa berbentuk persambungan-persambungan sebagai berikut :

1) Diathofkan ayat yang satu kepada ayat yang lain, seperti munasabah antara ayat 103 surat Ali Imran :

(#qßJÅÁtGôã$#ur È@ö7pt¿2 «!$# $Yè‹ÏJy_ Ÿwur (#qè%§�xÿs? 4

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”.

Dengan surat Ali Imran ayat 102 :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qà)®?$# ©!$# ¨,ym ¾ÏmÏ?$s)è? Ÿwur ¨ûèòqèÿsC žwÎ) NçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡•B ÇÊÉËÈ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.

Faedah dari munasabah dengan athaf ini ialah untuk menjadikan 2 ayat tersebut sebagai dua hal yang sama (an-Nadzraini). Ayat 102 surat Ali Imran menyuruh bertaqwa dan ayat 103 surat Ali Imran menyuruh berpegang teguh pada agama Allah, dua hal yang sama.

2) Tidak diathofkan ayat yang satu kepada yang lain, seperti munasabah antara ayat 11 surat Ali Imran.

É>ù&y‰Ÿ2 ÉA#uä tböqtãó�Ïù tûïÏ%©!$#ur `ÏB óOÎgÎ=ö6s% 4 (#qç/¤‹x. $uZÏG»tƒ$t«Î/

“(keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami”.

Dengan ayat 10 surat Ali Imran

¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#rã�xÿx. `s9 š_Í_øóè? óOßg÷Ytã óOßgä9ºuqøBr& Iwur Oèd߉»s9÷rr& z`ÏiB «!$# $\«ø‹x© ( y7Í´¯»s9’ré&ur öNèd ߊqè%ur Í‘$¨Y9$# ÇÊÉÈ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka”

Dalam munasabah ini, tampak hubungan yang kuat antara ayat yang kedua (ayat 11) dengan ayat yang sebelumnya (ayat 10), sehingga ayat 11 surat Ali Imran itu dianggap sebagai bagian kelanjutan dari ayat 10 surat Ali Imran.

3) Digabungkannya dua hal yang sama, seperti persambungan antara ayat 5 surat al-Anfal

!$yJx. y7y_t�÷zr& y7•/u‘ .`ÏB y7ÏG÷�t/ Èd,ysø9$$Î/ ¨bÎ)ur $Z)ƒÌ�sù z`ÏiB tûüÏZÏB÷sßJø9$# tbqèdÌ�»s3s9 ÇÎÈ

“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal Sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya”.

Dengan ayat 4 surat al-Anfal

y7Í´¯»s9’ré& ãNèd tbqãZÏB÷sßJø9$# $y)ym 4 öNçl°; ìM»y_u‘yŠ y‰YÏã óOÎgÎn/u‘ ×ot�ÏÿøótBur ×-ø—Í‘ur ÒOƒÌ�Ÿ2 ÇÍÈ

“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia”.

Kedua ayat itu sama-sama menerangkan tentang kebenaran, ayat 5 surat al-Anfal itu menerangkan kebenaran status mereka sebagai kaum mukminin.

4) Dikumpulkannya dua hal yang kontradiksi (al-mutashadattu)

Seperti yang dikumpulkan ayat 95 surat al-A’raf

§NèO $uZø9£‰t/ tb%s3tB Ïpy¥ÍhŠ¡¡9$# spoY|¡ptø:$# 4Ó®Lym (#qxÿtã (#qä9$s%¨r ô‰s% ¡§tB $tRuä!$t/#uä âä!#§ŽœØ9$# âä!#§Žœ£9$#ur

“Kemudian kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kamipun Telah merasai penderitaan dan kesenangan”

Dengan ayat 94 surat al-A’raf

!$tBur $uZù=y™ö‘r& ’Îû 7ptƒö�s% `ÏiB @cÓÉ<¯R HwÎ) !$tRõ‹s{r& $ygn=÷dr& Ïä!$y™ù’t7ø9$$Î/ Ïä!#§ŽœØ9$#ur óOßg¯=yès9 tbqã㧎œØo„ ÇÒÍÈ

“Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri”.

Ayat 94 surat al-A’raf tersebut menerangkan ditimpakannya kesempitan dan penderitaan kepada penduduk, tetapi ayat 95 surat al-A’raf menjelaskan kesusahan dan kesempitan itu diganti dengan kesenangan.

5) Dipindahkannya satu pembicaraan, ayat 55 surat Shaad :

#x‹»yd 4 žcÎ)ur tûüÉó»©Ü=Ï9 §Ž|³s9 5>$t«tB ÇÎÎÈ

“Beginilah (keadaan mereka). dan Sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk”

Dialihkan pembicaraan kepada nasib orang-orang yang durhaka yang benar-benar akan kembali ke tempat yang buruk sekali, dan pembicaraan ayat 54 surat Shaad yang membicarakan rezeki dari ahli surga.

¨bÎ) #x‹»yd $oYè%ø—Ì�s9 $tB ¼çms9 `ÏB >Š$xÿ¯R ÇÎÍÈ

“Sesungguhnya Ini adalah benar-benar rezki dari kami yang tiada habis-habisnya”.

b. Munasabah antar surat yaitu munasabah / persambungan antara surat yang satu dengan surat yang lainnya.

Munasabah ini ada beberapa bentuk sebagai berikut :

1) Munasabah antara dua surat dalam soal materinya, yaitu materi surat yang satu sama dengan materi surat yang lain.

Contohnya : seperti surat kedua al-Baqarah sama dengan isi surat yang pertama al-Fatihah, keduanya sama-sama menerangkan 3 hal kandungan al-Qur’an, yaitu masalah aqidah, ibadah, muamalah, kisah dan janji serta ancaman. Dalam surat al-Fatihah semua itu diterangkan secara ringkas, sedang dalam surat al-Baqarah dijelaskan dan dirinci secara panjang dan bebas.

2) Persesuaian antara permulaan surat dengan penutupan surat sebelumnya. Sebab semua pembukaan surat itu erat sekali kaitannya dengan akhiran dari surat sebelumnya, sekalipun sudah dipisah dengan basmalah.

Contohnya: seperti awalan dari surat al-An’am yang berbunyi sebagai berikut :

߉ôJptø:$# ¬! “Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur Ÿ@yèy_ur ÏM»uHä>—à9$# u‘q‘Z9$#ur ( ¢OèO tûïÏ%©!$# (#rã�xÿx. öNÍkÍh5t�Î/ šcqä9ω÷ètƒ ÇÊÈ

“Segala puji bagi Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka”.

Awalan surat al-An’am tersebut sesuai dengan akhiran surat al-Maidah yang berbunyi :

¬! à7ù=ãB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur $tBur £`ÍkŽÏù 4 uqèdur 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« 7�ƒÏ‰s% ÇÊËÉÈ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Dan seperti antara awalan surat al-Hadid yang berbunyi sebagai berikut :

yx¬7y™ ¬! $tB ’Îû ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur ( uqèdur Ⓝ͕yèø9$# ãLìÅ3ptø:$# ÇÊÈ

“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Awalan surat al-Hadid tersebut sesuai dengan akhiran surat al-Waqi’ah:

ôxÎm7|¡sù ËLôœ$$Î/ y7În/u‘ ËLìÏàyèø9$# ÇÒÏÈ

“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha besar”.

Dan seperti awalan surat al-Quraisy

É#»n=ƒ\} C·÷ƒt�è% ÇÊÈ

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy”,

Dengan awalan surat al-Quraisy tersebut sesuai dengan surat al-Fiil:

öNßgn=yèpgmú 7#óÁyèx. ¥Aqà2ù’¨B ÇÎÈ

“Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.

3) Persesuaian antara pembukaan dan akhiran sesuatu surat sebab, semua ayat dari sesuatu surat dari awal sampai akhir itu selalu bersambungan dan bersesuaian.

Contoh : seperti persesuaian antara awal surat al-Baqarah

$O!9# ÇÊÈ y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu‘ ¡ Ïm‹Ïù ¡ “W‰èd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ

“Alif laam miin. Kitab (Al Qur’an) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”

Awal surat al-Baqarah tersebut sesuai dengan akhirnya yang memerintahkan supaya berdo’a agar tidak disiksa Allah, bila lupa atau bersalah.

ß#ôã$#ur $¨Ytã ö�Ïÿøî$#ur $oYs9 !$uZôJymö‘$#ur 4 |MRr& $uZ9s9öqtB $tRö�ÝÁR$$sù ’n?tã ÏQöqs)ø9$# šúïÍ�Ïÿ»x6ø9$# ÇËÑÏÈ

“Beri ma’aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Dan seperti persesuaian antara awal surat al-Mukminun

ô‰s% yxn=øùr& tbqãZÏB÷sßJø9$# ÇÊÈ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman”

Dengan akhiran surat tersebut yang berbunyi :

4 ¼çm¯RÎ) Ÿw ßxÎ=øÿムtbrã�Ïÿ»s3ø9$# ÇÊÊÐÈ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung”.

D. Faedah Ilmu Munasabah

Faedah mempelajari ilmu munasabah ini banyak, antara lain sebagai berikut :

1. Mengetahui persambungan hubungan antara bagian al-Qur’an, baik antara kalimat-kalimat atau ayat-ayat maupun surat-suratnya yang satu dengan yang lainnya. Sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab al-Qur’an dan memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatan. Karena itu, Izzudin Abdul Salam mengatakan, bahwa ilmu munasabah itu adalah ilmu yang baik sekali. Ketika menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Beliau mensyaratkan harus jatuh pada hal-hal yang berkaitan betul-betul, baik di awal atau diakhirnya.

2. Dengan ilmu munasabah itu dapat diketahui mutu dan tingkat kebahagiaan bahasa al-Qur’an dan konteks kalimat-kalimatnya yang satu dengan yang lain. Serta persesuaian ayat atau suratnya yang satu dengan yang lain, sehingga lebih meyakinkan kemukjizatannya, bahwa al-Qur’an itu betul-betul wahyu dari Allah SWT, dan bukan buatan Nabi Muhammad Saw. Karena itu imam Arrazi mengatakan, bahwa kebanyakan keindahan-keindahan al-Qur’an itu terletak pada susunan dan persesuaiannya, sedangkan susunan kalimat yang paling baligh (bersastra) adalah yang sering berhubungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya.

3. Dengan ilmu munasabah akan sangat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Setelah diketahui hubungan sesuatu kalimat / sesuatu ayat dengan kalimat / ayat yang lain, sehingga sangat mempermudah pengistimbatan hukum-hukum atau isi kandungannya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s