PERIBAHASA

PERIBAHASA

Peribahasa Banjar Berbentuk Puisi

Etimologi dan Definisi

Secara etimologis, istilah peribahasa menurut Winstead (dalam Usman, 1954) berasal dari bahasa Sanksekerta pari dan bhasya, yakni bahasa (bhasya)yang yang disusun secara beraturan (pari). Etnis Banjar di Kalsel menyebut peribahasa dengan istilah paribasa (Hapip, 2001:137), istilah ini hampir sama dengan istilah paribasan dalam bahasa Jawa yang digunakan di DI Yogyakarta, Jateng, dan Jatim.

Menurut Tajuddin Noor Ganie (2006:1) dalam bukunya berjudul Jatidiri Puisi Rakyat Etnis Banjar di Kalselperibahasa Banjar ialah kalimat pendek dalam bahasa Banjar yang pola susunan katanya sudah tetap dengan merujuk kepada suatu format bentuk tertentu (bersifat formulaik), dan sudah dikenal luas sebagai ungkapan tradisional yang menyatakan maksudnya secara samar-samar, terselubung, dan berkias dengan gaya bahasa perbandingan, pertentangan, pertautan, dan perulangan.

Berdasarkan karakteristik bentuk fisiknya, peribahasa Banjar menurut Ganie (2006:1) dapat dipilah-pilah menjadi 2 kelompok besar, yakni :

1.     Peribahasa berbentuk puisi, terdiri atas :

1.   Gurindam

2.   Kiasan

3.   Mamang Papadah

4.   Pameo Huhulutan

5.   Saluka

6.   Tamsil

2.     Peribahasa berbentuk kalimat, terdiri atas :

1.   Ibarat

2.   Papadah

3.   Papatah-patitih

4.   Paribahasa

5.   Paumpamaan.

Perbedaan bentuk fisik antara peribahasa Banjar yang berbentuk puisi dengan peribahasa Banjar yang berbentuk kalimat terletak pada jenis gaya bahasa yang dipergunakannya. Peribahasa berbentuk puisi mempergunakan gaya bahasa perulangan, sementara peribahasa berbentuk kalimat mempergunakan gaya bahasa perbandingan, pertautan, dan pertentangan.

Simpulan

Berdasarkan paparan dan contoh-contoh di atas, maka dapat disimpulkan semua ragam/jenis peribahasa Banjar berbentuk puisi, setidak-tidaknya memiliki salah satu dari 3 ciri karakteristik bentuk, yakni :

1.     adanya pengulangan atas kosa-kata yang sama,

2.     adanya kosa-kata yang hampir sama secara morfologis, dan

3.     adanya kosa-kata yang saling bersajak a/a/a/a, a/b/a/b, dan a/b/b/a baik secara vertikal maupun secara horisontal di awal, di tengah, atau di akhir baris/larisk. Ciri-ciri karakteristik bentuk yang demkian itu identik dengan gaya bahasa perulangan (repetisi).

Contoh peribahasa

§                     “Badai pasti berlalu.”

§                     “Badak makan anaknya.”

§                     “Bagai air dengan minyak.”

§                     “Bagai air di daun talas.”

§                     “Bagai air titik ke batu.”

§                     “Bagai alu pencungkil duri.”

§                     “Bagai anjing beranak enam.”

§                     “Bagai anjing melintang denai.”

§                     “Bagai anjing menyalak di ekor gajah.”

§                     “Bagai api dengan asap.”

§                     “Bagai api dengan rabuk.”

§                     “Bagai api makan sekam.”

§                     “Bagai aur dengan tebing.”

§                     “Bagai aur di atas bukit.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s