POHON DAMAR

Pohon damar (Agathis dammara (Lamb.) Rich.) adalah sejenis pohon anggota tumbuhan runjung (Gymnospermae) yang merupakan tumbuhan asli Indonesia. Damar menyebar di Maluku, Sulawesi, hingga ke Filipina (Palawan dan Samar). Di Jawa, tumbuhan ini dibudidayakan untuk diambil getah atau hars-nya. Getah damar ini diolah untuk dijadikan kopal.

Pohon yang besar, tinggi hingga 65m [2]; berbatang bulat silindris dengan diameter yang mencapai lebih dari 1,5 m. Pepagan luar keabu-abuan dengan sedikit kemerahan, mengelupas dalam keping-keping kecil.

Damar tumbuh secara alami di hutan hujan dataran rendah sampai ketinggian sekitar 1.200 m dpl[2]. Namun di Jawa, tumbuhan ini terutama ditanam di pegunungan.

Damar teristimewa ditanam untuk diambil resinnya, yang diolah menjadi kopal. Resin ini adalah getah yang keluar tatkala kulit (pepagan) atau kayu damar dilukai. Getah akan mengalir keluar dan membeku setelah kena udara beberapa waktu lamanya. Lama-kelamaan getah ini akan mengeras dan dapat dipanen; yang dikenal sebagai kopal sadapan. Getah juga diperoleh dari deposit damar yang terbentuk dari luka-luka alami, di atas atau di bawah tanah; jenis yang ini disebut kopal galian.[3]

Pada masa lalu resin damar terutama dihasilkan dari tegakan-tegakan alam di Maluku dan Sulawesi[3]. Kini kopal juga dihasilkan dari hutan-hutan tanaman Perhutani di Jawa.

Pohon damar sebagai penghias taman

Kayu damar berwarna keputih-putihan, tidak awet, dan tidak seberapa kuat. Di Bogor dan di Sulawesi Utara, kayu ini hanya dimanfaatkan sebagai papan yang digunakan di bawah atap.[3] Kerapatan kayunya berkisar antara 380–660 kg/m³.[2] Kayu damar diperdagangkan di Indonesia dengan nama kayu agatis.

Pohon damar juga disukai sebagai tumbuhan peneduh taman dan tepi jalan (misalnya di sepanjang Jalan Dago, Bandung). Tajuknya tegak meninggi dengan percabangan yang tidak terlalu lebar.

Getah Damar Penyelamat Ekonomi dan Ekologis Lampung

Selama ini, dalam perbendaharaan perekonomian rakyat Lampung, lada dan kopi
dianggap sebagai penyelamat. Hal itu tak selamanya benar. Sebab, ketika
krisis moneter (Krismon) menghantam nusantara — tak terkecuali Lampung —
tiba-tiba tampil penyelamat ekonomi rakyat Lampung yang sesungguhnya: Damar.

Sebagai salah satu daerah penghasil getah damar yang cukup sohor di
perdagangan nasional dan internasional, getah damar mata kucing (shorea
javanica) merupakan andalan. Dalam peringkat komoditas ekspor Lampung, jenis
ini mendapat urutan kedelapan. Dan jenis ini merupakan damar andalan yang
sudah digarap petani sejak ratusan tahun silam.

Selain jenis shorea javanica, juga ada damar jenis hopea javanica, atau
balancarpus. Namun di Lampung yang terkenal dan bermutu bagus adalah mata
kucing. Sedangkan damar batu, damar resak dan lain-lain jumlahnya tak
banyak.

Getah damar mata kucing banyak digunakan untuk bahan emulsi (campuran)
pewarna, cat, tinta, aromatik untuk makanan, bahkan juga untuk kosmetik.
Sedangkan getah damar batu selama ini dikenal untuk pembuatan kapal boat
setelah dicampur kerosin. Dalam perkembangan industri modern, damar batu ini
juga dipakai untuk bahan cat, vernis atau politur. Larutan damar dalam
kloroform dapat dipakai untuk mengawetkan binatang dan tumbuh-tumbuhan untuk
pemeriksaan mikroskop.

Panjat Pohon, Bertaruh Nyawa

Tidak mudah untuk mendapatkan getah damar. Untuk medapatakannya, petani
harus mempertaruhkan nyawa dengan memanjat pohon setinggi 50 meter dengan
diameter pohon yang mencapai 2-3 meter. Sekali terpelanting, bisa nyawa
melayang. Tapi bagi petani damar, mendaki pohon damar adalah seni. Dan
dengan alat seadanya, mereka bisa memanjat dengan aman dan nyaman.

Timbul kekaguman terhadap petani damar di daerah Krui, Pesisir Lampung Barat
sebagai sentra damar Lampung manakala kita lihat jika yang memanjat pohon
raksasa itu tak hanya dilakukan kaum lelaki tetapi juga oleh kaum hawa.
Meski jumlahnya tak banyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s