Contoh Khutbah Jumat: Berbahagia dengan Ridla Terhadap Qadla

TUGAS
KHUTBAH SHOLAT JUM’AT

Disusun Oleh :
Nama : Nurmaina Fadlila
Kelas : XI IPS 1
No : 29

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
TAHUN AJARAN 2011/2012
SMA N 1 WIDODAREN
Khutbah Jumat: Berbahagia dengan Ridla Terhadap Qadla

Qadla adalah ketentuan dari Allah SWT yang telah ditetapkan bagi manusia. Ketentuan Allah bisa berupa penyakit, kecacatan, bencana, atau bentuk ujian lain sesuai dengan kehendak Allah SWT. Qadla adalah suatu ketentuan yang murni datangnya dari Allah untuk menguji keridlaan manusia terhadap apa-apa yang telah ditetapkan Allah. Oleh karena itu, sebagai seorang hamba yang berserah diri kepada-Nya, maka wajib bagi kita menerima qadla-Nya dengan hati yang ikhlas.
Syara’ memuji seorang hamba yang berserah diri terhadap qadla. Sebagaimana telah dijelaskan di dalam hadis, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Aku akan memberitahumu satu kalimat yang datang dari ‘Arsy dan dari gudangnya surga, yaitu,“Tiada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (kekuasaan Allah).” Allah berfirman, “Sungguh hamba-Ku telah tunduk dan berserah diri kepada-Ku.”

Hadis tersebut menjelaskan pujian Allah terhadap seseorang yang menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT. Memang, seseorang itu tidak dimintai pertanggungjawaban atas qadla yang telah menimpanya. Namun, setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas keridlaannya terhadap qadla yang telah menimpanya.

Maasyiral Muslim Jamaah Jumah rahimakumullah

Marah terhadap qadla Allah SWT hukumnya haram. Keharaman terhadap qadla ini ditunjukkan oleh hadis Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya, jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barang siapa yang bersabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barangsiapa yang marah (tidak bersabar) maka kemarahan itu akan kembali kepadanya.”

Dengan demikian, sebagai seorang hamba tidaklah patut kita berkeluh kesah apalagi sampai marah ketika Allah sedang menguji kita dengan suatu musibah. Karena salah satu tanda cinta Allah kepada hamba-Nya adalah dengan memberikannya ujian. Semakin Allah SWT mencintai hamba tersebut, maka semakin bertambahlah ujian yang diberikan-Nya kepada seorang hamba.
Sesungguhnya ujian itu diberikan Allah sebagai sarana agar seorang hamba semakin dekat kepada-Nya. Bukankah dengan diberikan kelemahan dan kekurangan itu justru membuat kita semakin meminta pertolongan kepada-Nya. Dan bukankah dilapangkannya urusan kita justru seringkali membuat diri kita lalai dan semakin jauh dari Allah SWT.

Maasyiral Muslimin Jamaah Jumah Rahimakumullah
Sikap seorang yang ridla terhadap qadla dari Allah SWT akan menjadi penebus atas dosa-dosanya, dan sebagai sarana dihapuskannya kesalahan. Hanya dengan ujianlah Allah dapat menghapus kesalahan seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi ini tanpa kesalahan sedikitpun sehingga ia kembali ke hadapan Allah SWT dalam keadaan suci dan bersih tanpa noda dan dosa sedikitpun. Terkait dengan ini

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, berupa sakit yang berterus-terusan, sakit biasa, kebingungan, kesedihan, kegundahan, hingga duri yang menusuknya, maka pasti musibah itu akan menjadi penghapus bagi kesalahan-kesalahan-Nya.”
Hadis tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya setiap musibah yang menimpa manusia itu patut kita syukuri dan kita terima dengan ikhlas dan senang hati. Betapa tidak, jika ternyata dengan ujian yang menimpa kita justru mengantarkan kita pada dihapusnya kesalahan-kesalahan yang telah lalu. Setiap muslim yang mendapatkan musibah kemudian ia bersabar dan menerima qadla Allah seraya besyukur dan tidak mengadukkan musibahnya kecuali kepada Allah maka baginya pahala atas keridlaannya tersebut. Patut kiranya kita renungkan hadis berikut ini:
“Seorang wanita hitam datang kepada Nabi Muhammad SAW seraya berkata: Ya Rasulallah, aku biasa terkena ayan dan auratku suka tersingkap karenanya, maka berdoalah kepada Allah untukku. Rasulullah SAW bersabda,’Jika engkau mau bersabar, maka bagimu surga. Tapi jika engkau mau, maka aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu. Wanita itu berkata,’Aku akan bersabar saja. Tapi auratku suka tersingkap, maka berdoalah untukku agar auratku tidak tersingkap.” Kemudian Rasulullah berdoa untuknya.”
Dan di dalam hadis yang lain dijelaskan juga bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa saja yang ditimpa musibah atas hartanya atau jiwanya, kemudian ia menyembunyikannya dan tidak mengadukannya kepada manusia, maka Allah pasti akan mengampuninya.”
Dan di dalam hadis lain juga disebutkan:
“Maka pasti Allah dengan musibah itu akan mencatat satu kebaikan baginya”
Dengan demikian sangatlah jelas bagi kita bahwa keridlaan kita terhadap setiap musibah yang menimpa kita justru menjadi sarana bagi kita untuk dicintai Allah SWT, semakin mendekatkan diri kepada-Nya, menjadi sarana terhapusnya dosa dan kesalahan serta menjadi pintu akan datangnya pahala dan dimasukkannya kita ke dalam surga-Nya. Amin.

Khutbah Kedua :
Jamaah jumat yang dimuliakan Allah. Marilah kita meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita dengan meyakini dan tunduk dengan perintah dan larangan Allah SWT. Tidak bergeser dengan aturan tersebut meskipun sedikit.
Jamaah jumat yang dimuliakan Allah. Islam diturunkan Allah SWT untuk memberikan rahmat bagi alam semesta dengan memberikan hak dasar manusia sebagai manusia. Ini jelas berbeda dengan ideologi yang ada di dunia saat ini semuanya hanya berfokus dalam penguasaan sumber daya alam baik di dalam negeri maupun negara lain untuk dikuasainya dan berupaya memperdaya hak asasi (dasar) manusia dari sisi kepemilikan. Itulah yang tampak jelas dari penguasaan dalam bentuk penjajahan fisik maupun pengaruh ideologis negera-negara dengan ideologi kufur, baik kapitalisme maupun sosialisme/komunisme atas negara lain dari dulu hingga saat ini.
Penguasaan Islam atas sebuah wilayah dalam rangka melayani bukan menguasai secara absolut. Wilayahnya diatur berdasar perintah dan larangan Allah, bukan berdasarkan kepentingan penguasa atau kelompok tertentu, apalagi individu bahkan tidak untuk pemaksaan agama sama sekali. Ideologi Kapitalisme maupun komunisme, dalam penerapannya meskipun kekuasaan mungkin berada di tangan bangsa sendiri, tetapi penduduknya, dalam pelayanannya, secara hak dasar telah dirampas. Kapitalisme telah merampas hak rakyat dengan memberikan kekuasaan luas kepada para kapitalis (pemilik modal) dalam menguasai sumber daya alam. Komunisme telah merampas hak dasar rakyat secara individual. Rakyat dan harta miliknya menjadi milik negara.
Kasus Bank Century menjadi contoh kerakusan penguasa yang didukung sistem kapitalisme, yang dalam penanganannya lebih mengedepankan kepentingan legal formal yang itu pun sebenarnya telah direkayasa. Dalam sebuah jumpa pers, Kepala Divisi Humas Polri, mengatakan: dalam pelaksanaan hukum, kebenaran tidak selalu memberikan keadilan dan itu harus bisa diterima sebagai subuah kebenaran yang berlaku di negara ini. Ini adalah ironi dalam sistem sekular seperti yang diterapkan di negeri ini. Padahal kebenaran dalam Islam justru untuk memberikan rasa keadilan. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (8) المائدة: 8
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. Al Maidah: 8
Keberpihakan kepada para kapitalis (pemilik modal) di mana pun di seluruh dunia selalu terjadi termasuk di AS—yang katanya kampium demokrasi. Hal ini terjadi karena dalam sistem demokrasi liberal seperti yang diterapkan di negara-negara kapitalis dan di negeri ini, kekuasaan harus didukung oleh kekuatan kapitalis. Setiap orang yang ingin menduduki jabatan kekuasaan di pemerintahan harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Mekanisme seperti ini menuntut seorang calon pejabat mencari dukungan sponsor dari para pemilik modal dalam pencalonannya. Di sisi lain pemilik modal juga tidak akan memberikan bantuan dananya kecuali ada deal berkaitan dukungan kelancaran usaha yang dijalankannya kemudian hari ketika orang yang didukung berkuasa.
Kasus inilah yang saat ini begitu kental terasa dalam kasus bailout Bank Century dan kasus-kasus lain. Para penggelap dana rakyat yang jumlahnya sangat besar cenderung dibiarkan, orang bermasalah dibantu dengan bantuan modal yang sangat besar. Di sisi lain rakyat yang sengsara tidak terlalu diperhatikan. Lihat saja untuk membantu Bank Century dikucurkan dana sebesar 6,7 trilyun rupiah (dari pengajuan awal 600-an milyar rupiah). Sementara untuk gempa Sumbar hanya diberi bantuan Rp. 100 milyar. Bandingkan pula ketika seorang nenek tua di Kabupaten Banyumas kedapatan mencuri tiga buah kakao—yang harga ketiganya tidak sampai Rp. 3000—harus dihukum 1,5 bulan atau seorang warga Kediri yang kedapan mencuri sebuah semangka yang terancam hukuman lima tahun penjara dengan Robert Tantular yang mencairkan deposito valas milik Boedi Sampurna 18 juta dolar AS (Rp. 180 milyar) tanpa seizin pemiliknya dan menyalurkan kredit sebesar Rp. 121,3 milyar tanpa prosedur yang benar hanya divonis empat tahun penjara.
Bahkan pejabat-pejabat yang terlibat dalam kasus bailout ini cenderung dilindungi. Padahal pengajuan dananya sendiri Cuma 600-an milyar rupiah tetapi dicairkan 6.7 milyar rupiah. Pengajuan yang 600 milyar saja sebenarnya sudah bermasalah secara konsep, apalagi kemudian dinaikkan lebih dari 10 kali. Ada upaya yang sistematis dan aroma konspirasi yang kental.
Inilah gambaran kebenaran yang tidak selalu memberikan rasa keadilan rakyat sebagaimana diucapkan Kepala Divisi Humas Polri. Ini pulalah salah hal yang menyebabkan suatu kaum atau bangsa akan mengalami kehancuran. Ini tentu sangat jauh dengan kebenaran dan keadilan yang diberikan oleh Islam sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:
أَنَّ امْرَأَةً سَرَقَتْ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ الْفَتْحِ فَفَزِعَ قَوْمُهَا إِلَى أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ يَسْتَشْفِعُونَهُ قَالَ عُرْوَةُ فَلَمَّا كَلَّمَهُ أُسَامَةُ فِيهَا تَلَوَّنَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَتُكَلِّمُنِي فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ قَالَ أُسَامَةُ اسْتَغْفِرْ لِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَمَّا كَانَ الْعَشِيُّ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ خَطِيبًا فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ النَّاسَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتِلْكَ الْمَرْأَةِ فَقُطِعَتْ يَدُهَا فَحَسُنَتْ تَوْبَتُهَا بَعْدَ ذَلِكَ وَتَزَوَّجَتْ قَالَتْ عَائِشَةُ فَكَانَتْ تَأْتِي بَعْدَ ذَلِكَ فَأَرْفَعُ حَاجَتَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Sesungguhnya seorang perempuan pada masa Rasulullah SAW setelah futuh Makkah telah mencuri. Kemudian kaumnya minta tolong kepada Usamah ibn Zaid. Urwah (periwayat hadits ini) berkata: ketika Usamah mengatakan hal ini berubahlah wajah Rasulullah SAW, Beliau pun bersabda apakah kamu akan mengatakan satu hukum di antara hukum-hukum Allah. Usamah berkata: maafkan aku wahai Rasulullah. Kemudian Rasulullah SAW berpaling lalu berdiri dan berkhutbah dengan memuji Allah kemudian bersabda: Amma Ba’du, hanyasannya hancurnya manusia (umat) sebelum kalian karena sesungguhnya mereka apabila ada yang mencuri dari kalangan bangasawan di antara mereka dibiarkan dan apabila dari kalangan lemah mereka mencuri ditegakkan atas orang tersebut hukum. Demi dzat yang diri Muhammad di tanganNya seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri pasti aku potong tangannya. Kemudian Rasulullah SAW menyuruh memotong tangan perempuan tersebut. Maka putuslah tangannya dan taubatnya (dengan memotong tangan itu) adalah taubat yang bagus kemudian setelah kejadian tersebut wanita itu menikah. Aisyah berkata: Wanita itu datang setelah kejadian itu dan dipenuhi kebetuhuannya oleh Rasulullah SAW. HR. Bukhari
Inilah gambaran kebenaran dan keadilan dalam Islam. Hukum berfungsi sebagai jawabir (penebus dosa bagi pelakunya) dan jawazirI (pemberi efek jera bagi pelaku dan orang lain yang menyaksikan). Ini jelas sangat berbeda dengan hukum buatan manusia yang ada saat ini.
Jamaah jumah yang dimuliakan Allah, cobalah bandingkan bagaimana konsep Islam dalam menjalankan hukum ini. Karena dalam Islam penerapan hukum tidak hanya berdimensi manusia dengan manusia tetapi lebih dari itu, ada rasa ketaqwaan bahwa penerapan ini dalam rangka menjalankan perintah Allah yang akan dipertanggungjawabkan tidak hanya di dunia saja tetapi sampai ke pengadilan Allah, Dzat yang Maha Tahu, tidak satu perkara pun baik yang besar maupun yang kecil yang luput dari pengawasanNya.
Itulah urgensi penerapan Syariat Islam dalam bingkai negara. Karena Islamlah satu-satunya sistem yang memberikan keadalinan yang hakiki dan akan memberikan dampak kebahagiaan dunia akhirat. Karena Syariat Islam dijalankan tidak dalam rangka tendensi kepentingan seseorang maupun kelompok tertentu. Untuk itu marilah berjuang bersama dalam upaya penerapan Syariat ini. Dalam hal ini Allah SWT memerintahkan kita untuk mengawal untuk selalu berjalannya Al Khair (Islam) dan mengajak untuk selalu menjalankan apa yang diperintahNya dan menjauhi apa yang dilarangnNya sebagaimana firmanNya:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104) آل عمرا: 104
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan (Islam), menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. QS. Al Maidah: 104

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s