MAKALAH CABANG-CABANG ILMU HADITS “ILMU TALFIQIL HADITS”

MAKALAH
CABANG-CABANG ILMU HADITS
“ILMU TALFIQIL HADITS”

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Studi Hadits
Dosen Pembimbing : Daris Wibowo, M.Ag

Disusun oleh:
1. Miftachul Janah
2. Umi Kultsum
3. Himmatul Aliyatir Rohimah
4. Zulaikha Lusi Purwanti
5. Lina Tri Widiawati

STIT MUHAMMADIYAH TEMPURREJO
Tahun Akademik 2011-2012
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah membimbing dan mendukung kami sehingga makalah ini dapat selesai tepat waktu.

Dan akhirnya, kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak sekali kekurangan. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dalam pembuatan makalah ke depannya bisa lebih baik. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan Pembahasan 1
C. Rumusan Masalah 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Ilmu Talfiqil Hadits 3
B. Metode Yang Digunakan dalam Mengumpulkan Hadits 3
BAB III PENUTUP

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menatap prespektif keilmuan hadits, sungguh pun ajaran hadits telah ikut mendorong kemajuan umat Islam. Sebab hadits Nabi, sebagaimana Al-Qur’an telah memerintahkan orang-orang beriman menuntut pengetahuan. Dengan demikaian prespektif keilmuan hadits, justru menyebabkan kemajuan umat Islam. Bahkan suatu kenyataan yang tidak boleh luput dari perhatian, adalah sebab-sebab dimana Al-Qur’an diturunkan. Bertolak dari kenyataan ini, Prof. A. MuktiAli menyebutkan sebagai metode pemahaman terhadap suatu kepercayaan, ajaran atau kejadian dengan melihatnya sebagai suatu kenyataan yang mempunyai kesatuan mutlak dengan waktu, tempat, kebudayaan, golongan, dan lingkungan dimana kepercayaan, ajaran dan kejadian itu muncul. Dalam dunia pengetahuan tentang agama Islam, sebenarnya benih metode sosio-historis telah ada pengikutsertaan pengetahuan asbab al nuul (sebab-sebab wahyu diturunkan) untuk m,emahami Qur’an, dan asbab al wurud (sebab-sebab hadits diucapkan) untuk memahami al-Sunnah.
Meskipun asbab al-Nuzul dan asbab al-Wurud terbatas pada peristiwa dan pertanyaan yang mendahului nuzul (turun) Al-Qur’an dan wurud (disampaikannya) hadits, tetapi kenyataannya justru tercipta suasana keilmuan pada hadits Nabi SAW. Tak heran jika pada saat ini muncul berbagai ilmu hadits serta cabang-cabangnya untuk mrmshsmi hadits Nabi, sehingga As-Sunnah sebagai sumber hokum Islam yang kedua dapat dipahami serta diamalkan oleh umat Islam sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rasulullah.
Adapun cabang-cabang ilmu hadits tersebut antara lain: ilmu rijalil hadits, ilmu jarhi wa al-ta’dil, ilmu ‘ilal al-hadits, ilmu al-Nasih wa al-Mansuh, ilmu Asbabi Wurudil Hadits, dan Ilmu Talfiqil Hadits. Dalam makalah ini akan dibahas tentang Ilmu Talfiqil Hadits.

B. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan makalah ini adalah:
1. Mengetahui definisi Ilmu Talfiqil Hadits
2. Mengetahui metode yang dugunakan dalam mengumpulkan hadits berdasarkan ketentuan Ilmu Talfiqil Hadits

C. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa definisi Ilmu Talfiqil Hadits
2. Bagaimana metode yang digunakan dalam mengumpulkan hadits berdasarkan Ilmu Talfiqil Hadits

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ilmu Talfiqil Hadits
Yang dimaksud ilmu talfiqil hadits adalah:
ﻋﺍﻡ ﻳﺒﺤﺙ ﻓﻳﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﺗﻔﻳﻖ ﺒﻳﻦ ﺍﻻﺣﺎﺪﻳﺙ ﺍﻟﻤﺗﻧﺎ ﻗﺿﺔ ﻆﺎﮬﺮﺍ
“Ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan (mempertemukan) hadits-hadits yang (secara lahiriyah) isinya tampak berlawanan.”

Ilmu ini dinamai juga dengan Ilmu Mukhtaliful Hadits. Yang dimaksud Ilmu Mukhtalif al-hadits ialah: ﺍﻠْﻌِﻟْﻡُ ﺍﻠﱠﺫِﻯ ﻴَﺒْﺤُﺚُ ِﻔﻰ ﺍَﻻَﺤَﺎﺪﻴْﺚِﺍَﻠﺘِﻰ ﻆَﺎﻫِﺮُﻫَﺎ ﻤُﺘَﻌَﺎﺮِﺾٌ ﻓَﻴَﺰِﻴْلُ
ﺘَﻌَﺎﺮُﻀُﻬَﺎ َﺍْﻮ ﻴُﻮْﻔِﻖُ ﺒَﻴْﻨَﻬَﺎ ﮐَﻣَﺎ ﻴَﺒْﺣَﺚُ ِﻔﻰ ﺍﻻَﺣَﺎﺪِﻴْﺚِ ﺍﻠِﺗﻰ ﻴُﺸْﻜِﻞُ ﻔَﻬْﻣَﻬَﺎ ﺍَﻮﺘَﺼَﻭُﺮُﻫَﺎ ﻔَﻴُﺪْﻔَﻊُ ﺍِﺸْﮏَﺎﻠُﻬَﺎ ﻮَﻴُﻮْﺿَﺢُ ﺣَﻘِﻴْﻘَﺘُﻬَﺎ
“Ilmu yang membahas hadits-hadits yang secara lahiriyah saling bertentangan, lalu dihilangkannya atau keduanya dikompromikan, sebagaimana membahas masalah hadits-hadits yang kandungannya sulit dipahami atau sulit dicari gambaran yang sebenarnya, lalu kesulitan tersebut dihilangkan dan dijelaskan hakikat yang sebenarnya.”1.

Subhi Shalah mendefinisikan sbb:
ﻋِﻟْﻡٌ ﻴَﺑْﺤُﺚُ ﻋَﻦِِ ﺍﻻَﺤَﺎﺪِﻴْﺚِ ﺍﻠﺗﻰِ ﻈَﺎﻫِﺮُﻫَﺎ ﺍﻠﺗﻨَﺎﻘُﺾُ ﻣِﻦْ ﺤَﻴْﺚُ ﺍِﻣْﮑَﺎﻦَ ﺍﻠْﺠَﻣْﻊِ ﺒَﻴْﻧَﻬَﺎ٫ ﺍِﻣﺎ ﺒِﺘَﻘْﻴِﻴْﺪ ﻣُﻃْﻟَﻘِﻬَﺎ ﺍَﻮْ ﺒِﺘَﺨْﺻِﻴْﺺِ ﻋَﺎﻣِﻬَﺎ ﺍَﻮْ ﺣَﻣْﻟِﻬَﺎ ﻋَﻟَﻰ ﺘَﻌَﺪﺪِ ﺍﻟْﺣَﺎﺪِﺜَﺔِ ﺍَﻮْ ﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻙَ
“Ilmu yang membahas hadits-hadits yang secara lahiriyyah saling bertentangan, karena adanya kemungkinan bisa dikompromikan, baik dengan cara membawanya kepada beberapa kejadian yang relevan dengan hadits tersebut dan lain-lain.2.
Dari kedua definisi tersebut dapat diambil pemahaman bahwa obyek pembahasan ilmu ini adalah hadits-hadits yang secara lahiriyyah saling bertentangan, sehingga dengan mempergunakan ilmu ini, tingkat kesulitan bisa teratasi. Begitu juga tingkat kesulitan yang ditemukan di dalam matan hadits. Dengan demikian, ilmu ghoribul hadits berusaha semaksimal mungkin untuk mempertemukan dua atau lebih hadits-hadits yang secara lahiriyyah bertentangan3.
B. Metode Yang Digunakan dalam Mengumpulkan Hadits
Adapun metode untuk mengkompromikannya adalah apabila ada dua hadits yang secara lahiriyyah bertentangan maknanya bisa di-talfiq-kan, maka tidak dibenarkan mengamalkan salah satu dan meninggalakan yang lain4. Sedang metode untuk men-talfiq-kan, dapat dilakukan dengan cara sbb:
a) Menguatkan kemutlakan hadits dan men-takhshish keumumannya
b) Memilih matarantai sanad yang yang lebih kuat atau yang lebih banyak wurud atau berlakunya5.
Dengan demikian, ilmu ghoribul hadits sangat dibutuhkan para ahli, baik ulama’ hadits, ulama’ fiqih maupun lainnya6.
Contoh:
ﺍَﺧْرَﺠَﻪُ ﻤُﺴْﻟِﻡٌ ….ﻻََ ﻋَﺪْﻮَﻯ ﻮَﻻَ ﻄِﻴْﺮَﺓَ ﻮَﻻَ ﻫَﺎﻣَﺔَ
“Tidak ada penularan, tidak ada ramalan jelek dan tidak ada penyusupan kembali (reinkarnasi) roh orang mati pada burung hantu. Hadits riwayat Muslim7

ﻔِﺮَﻤِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺠْﺪُﻭْﻡِ ﻜَﻣَﺎ ﺘَﻔِﺮ ﻣِﻦَ ﺍﻻﺴﺪِ. ﺮَﻭَﺍﻩُ ﺍﻠﺒُﺧَﺎﺮِﻯ ﻭَﻤُﺴْﻠِمٌ
“larilah dari orang yang sakit lepra, sebagaimana kamu lari dari singaa….”. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim8.
Dalam menanggapi dua hadits di atas, para ulama melakukan percobaan untuk mengkompromikan keduanya dengan menggunakan pola pemahaman sbb:
a) Ibnu Sholah melakukan penta’wilan dengan mengatakan bahwa hakikatnya penyakit itu tidak dapat menular dengan sendirinya, tetapi Allah-lah yang membuatnya menular, yang mana proses penularannya diakibatkan oleh terjadinya percampuran antara orang sakit dengan yang sehat melalui berbagai macam sebab yang berbeda9.
b) Al-Baqillqniy berkomentar bahwa ketepatan penularan penyakit lepra dan sebagainya itu, merupakan kekhususan bagi ketiadaan penularan10, sehingga rangkaian kalimat haditsﻻََ ﻋَﺪْﻭَﻯ adalah pengertian bahwa selain penyakit lepra dan sebagainya masuk kedalamnya. Akibatnya pengertian yang terkandung di dalamnya adalah seolah-olah Rasulullah saw mengatakan:
ﻻَﻴُﻌَﺪﱢﻯ ﺸَﻴْﺊٌ ﺷَﻴْﺄً
“Tidak ada satupun penyakit yang menular selain apa yang telah kami jelaskan apa saja yang yang dapat menular”11
c) Perintah lari dari penyakit tersebut hanya untuk bertenggang rasa terhadap orang yang sedang menderita lepra, sebab bila ia dilihat oleh orang sehat, penderitaannya semakin bertambah. Dan ini sesuai dengan sabda Nabi saw:
ﻻَ ﺘُدِﻴْﻤُﻮْﺍ ﺍﻠﻧﱠﻈَﺮَ ﺍِﻟﻰَ ﺍﻠﻣَﺠْﺬُﻮْﻣِﻴْﻦَ
“Jangan lama-lama kamu memandang orang-orang yang sedang sakit lepra”12
Di samping itu ada metode lain dalam mengumpulkan hadits-hadits yang isinya tampak berlawanan, metode ini mirip dengan metode al-Jam’u yang telah berkembang dikalangan ulama hadits. Metode ini meliputi:
a. Penyelesaian berdasar pemahaman dengan pendekatan kaedah ushul fiqih. Cara mengumpulkannya adakalanya dengan menakhsiskan yang ‘amm, atau menaqyidkan yang mutlak, atau dengan mentafsil yang mujmal
b. Penyelesaian berdasar pemahaman kontekstual.
c. Penyelesaian berdasar pemahaman korelatif.
d. Penyelesaian dengan menggunakan pendekatan ta’wil
e. Penyelesaian berdasarkan pemahaman tanawu’ al-ibadah13
Adapun orang pertama yang menyusun kitab yang khusus membahas ilmu mukhtaliful hadits ialah imam Syafi’i dengan bentuk satu jilid dalam kitabnya al-Um, juz VII berjudul:”ﺍِﺨْﺗِﻼَﻑُ ﺍﻠْﺤَﺪِﻴْﺚِ” /ikhtilaf al-hadits”. Lalu disusul oleh beberapa ulama lain, seperti:
a. ﺗَٲْﻭِﻴْﻝُ ﻣُﺨْﺘَﻠِﻴْﻑِ ﺍﻠْﺣَﺪﻴْﺚِ ﻠِﻠﺭﺪ ﻋَﻠَﻰ ﺍَﻋْﺪَﺍﺀِ ﺍﻠْﺣَﺪِﻴْﺚِ/
ta’wil mukhtalif al-hadits li al-raddi ‘ala a’daa il hadits, karya:Imam Ibnu Qutabah (276H)
b. ﻣُﺸْﻛِﻞُاﻵﺛَﺎﺮِ / musykil al-atsar, karya: Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Al-Thahawi (321 H)
c. ﻣﺸﻜﻞ اﻟﺣﻳﺚ ﻮﺒﻳﺎﻧﻪ / musykil al-hadits wa bayaanuhu, karya: Abu Bakar Muhammad bin al-Husain (Ibnu Faurak) al-Anshari al-Asshbihi (w 406 H)
d. “اََََََﻟﺘﱠﺤْﻗِﻴْﻖُ ﻓِﻰ اَﺤَﺎﺪِﻴْﺙِ اﻠْﺧِﻼَﻑِ / al-tahqiq fi ahadits al-khilaf”, Karya: Ibnu Jauzi (597 H). Kitab ini sudah disarahkan oleh Al-Ustadz Muhammad Syakir dan baik sekali nilainya.
Dari kenyataan seperti itu dengan didukung oleh adanya judul dan pembahasan yang terkandung di dalam kitab-kitab tersebut, Ajjaj berkomentar bahwa ilmu mukhtalifil hadits sama artinya dengan yang dimaksud ilmu musykil al-hadits, ilmu talfiq al-hadits dan ilmu ikhtilaf al-hadits14

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, kita dapat mengetahui tentang:
1. definisi dari Ilmu Talfiqil Hadits,
2. obyek pembahasan Ilmu Talfiqil Hadits
3. bagaimana cara/metode dalam mengumpulkan hadits berdasarkan Ilmu Talfiqil Hadits.
4. siapa orang pertama yang menyusun kitab yang khusus membahas Ilmu Talfiqil Hadits yang kemudian berkembang kitab-kitab lain dalam membahas ilmu ini.
5. nama lain dari Ilmu Talfiqil Hadits
6.
B. Saran
Dari pembahasan di atas, sangatlah penting mempelajari Ilmu Talfiqil Hadits karena dengan mempelajari ilmu tersebut kita dapat mengetahui apa itu Ilmu Talfiqil Hadits, objek pembahasannya, bagaimana cara mengumpulkan hadits berdasarkan ilmu ini, dan nama lain ilmu ini. Untuk itu, setelah mempelajari ilmu ini diharapkan ketika kita jumpai hadits-hadits yang isinya tampak berlawanan, kita dapat mengkompromikan/ mengumpulakan hadits tersebut berdasarkan metode-metode yang telah dijelaskan di atas.

CATATAN KAKI

1 Ajjaj, Ushul…, Op-Cit, hal:283 atau Thahan, Taisir…, Op-Cit, hal:183 atau al-Suyuthi, Tadrib…, Op-Cit, hal:467
2 Shubi Shalah, ‘Ulum al-Hadits…….,Op-Cit, hal: 111
3 Ajajj al-Khatib, Nasy’ah ‘Ulum al-Hadits Wa Mushthalahuhu, (Kairo, Maktabah al-Jami’ah al-qohirah Bi Kullaiyyati Dar al-‘Ulum, tth), hal: 274 atau Ajajj, Ushul…, Op-Cit, hal: 284
4 al-Suyuti, Tadrib…,Op-Cit, hal: 468
5 Ajjaj, Ushul…, ibid, hal: 284 al-Suyuthiy, Tadrib…,Ibid, hal: 469
6 al-Sakhawi, Fatah al-Mughits…,Op-Cit, hal: 362-363
7 Muslim, Shahih…, bab al-Thib…, Op-Cit, Juz II, hal: 288. dalam menanggapi masalah arti”haamah ( ﻫَﺎﻣَﺔَ )”, para ahli berbeda pendapat, yaitu:
a. Kelompok Anas bin Malik menyatakan bahwa hal itu sudah menjadi kepercayaan bangsa Arab jika ada burung hantu hinggap di rumah seseorang,dijadikan sebagai isyarat jelek, artinya pemilik rumah akan tertimpa bencana atau bahkan kematian.
b. Mayoritas muhadditsin menyatakan bahwa penduduk Arab saat itu percaya bahwa tulang-tulang atau roh orang yang meninggal dunia itu menyusup kepada burung hantu yang beterbangan.
(Lihat Muhammad Hasbullah, Zaad al-Muslim Fima Ittafaqa Ilaihi al-Bukhariy wa Muslim, Juz V, (Kairo, Mathba’ah Muassasah al-Halabiy,tth.), hal 298)
8 Bukhari, Shahih…, Op-Cit, Juz: I, hal: 68
9 Syaikui Islam, al-Ghazali berpendapat bahwa “ketiadaan penularan” tersebut sudah menjadi ketentuan yang tetap dan bersifat umum. Sedang adanya perintah untuk menjauh dari orang yang sakit merupakan syadzudz Zara’iy / ﺸﺬ ﺍﻠﺬﺮﺍﺌﻊ (menutup munculnya kemungkinan bahaya), agar tidak bertemu terhadap apa yang sedang dicampurinya itu lantaran taqdir Allah semata, bukan sebab penularan yang dianggapnya tidak ada.
Pemikiran yang demikian itu diduga lantaran karena percampuran semata, sehingga ia harus mempercayai bahwa penyakit itu menular. Karena itulah, perintah tersebut hanya bersifat materi belaka. (Lihat: al-Suyuthi, Tadrib…, Op-Cit, hal: 468)
10 al-Suyuthi, Tadrib…,Ibid.
11 al-Turmudi, al-Jami’…, Op-Cit, Juz: IV, Fi Kitab al-Qadar, hal: 450 atau Thahhan, Taisir…, Op-Cit, hal: 57
12 al-Suyuti, Tadrib…,Op-Cit, hal: 468. Sekalipun demikian, pemahaman yang paling tepat dan sesuai dengan Ilmu Kesehatan adalah pemahaman ibnu Sholah, sebab realitasnya penyakit itu akan dapat berpindah lantaran adanya beberapa sebab yang berbeda-beda.
13 Lihat Edisi Safari, A-Imam al-Syafi’I, Metode Penyelesaian Hadits Mukhtalif (Disertasi: IAIN Jakarta, 1990) hal: 152-206
14 Ajjaj, Ushul…,Op-Cit, hal: 283 Thohhan, Ibid, hal: 58

DAFTAR PUSTAKA

Fathurrahman, Drs. Ikhtisar Mushthola Hadits, Bandung: al-Ma’arif,1985.
Ismail, M. Syuhudi, Dr. Pengantar Ilmu Hadits, Bandung: Angkasa, 1991.
Nuruddin Itr. al-Madkhal ila Ulum al-Hadits , Madinah: al-Maktabah al-Ilmiyah. 1972.
Zein, Muh. Ma’sum, Drs. Ulumul Hadits, Jombang: Darul Hikmah. 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s