MAKALAH “MADZAB HANAFI” RINGKASAN MATERI USHUL FIQIH

“MADZAB HANAFI”
RINGKASAN MATERI USHUL FIQIH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ushul Fiqih
Dosen Pembimbing : Drs. Irfan Budi K, MA

Disusun oleh:
1. Ali Rifai
2. Ahmat Muqorrobin

STIT MUHAMMADIYAH TEMPURREJO
Tahun Akademik 2011-2012
MUTHLAQ DAN MUQAYYAD

A. Pengertian Muthlaq
Muthlaq menurut bahasa berarti tidak terikat. Sedangkan menurut istilah adalah suatu lafadz tertentu yang belum ada kaitannya atau batasan dengan lafadz yang mengurangi keseluruhan jangkauannya. (Jumantoro dan Amin, 2005: th)
Ada beberapa pakar yang berlainan pendapat tentang muthlaq, antara lain:
a) Menurut Muhammad Al-Khadan Beik, mendefinisikan:
Muthlaq adalah lafaz yang memberikan petunjuk terhadap satu atau beberapa satuan yang mencakup tanpa ikatan yang terpisah secara lafzi. (Jumantoro dan Amin, 2005: th)
b) Menurut Al-Amidi
Muthlaq adalah lafal yang memberikan petunjuk kepada madlal yang diberi petunjuk yang mencakup dalam jenisnya. (Jumantoro dan Amin, 2005: th)
c) Ibnu Subhi
Muthlaq adalah lafal yang memberikan petunjuk kepada hakikat sesuatu tanpa ada ikatan sesuatu apa-apa. (Jumantoro dan Amin, 2005: th)
d) Abu Zahrah
Muthlaq adalah lafaz yang nenberikan petunjuk terhadap maudhudnya sasaran penggunaan lafal tanpa memandang kepada satu, banyak atau sifatnya, tetapi memberi petunjuk kepada sesuatu menurut apa adanya. (Jumantoro dan Amin, 2005: th)
Contoh lafadz ﺍَﻳْﺪِﻳَﮑُمْ dari lafadz ٦﴾ ﴿ﺍﻠﻤﺎﺌﺪﺓ…ﻓَﺘَﻴَﻤﻤُﻮﺍ ﺼَﻌِﻴْﺪﺍ ﻁَﻴﺑﺎ ﻔَﺎﻤْﺴَﺤُﻮْﺍ ﻮُﺠُﻮْﻫِﮐُﻢْ ﻮَ ﺍَﻴْﺪِﻴَﻜُﻢْ ﻤِﻨْﻪُ “Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih), sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah…”
Lafadz “yad” (tangan) dalam ayat di atas berbentuk muthlaq karena tidak ada lafadz lain yang mengikat lafadz “yad” (tangan). Dengan demikian kesimpulan dari ayat ini ialah keharusan menyapukan tanah ke muka dan kedua tangan, baik itu hingga pergelangan tangan atau sampai siku, tidak ada masalah. Kecuali jika disana ada dalil lain seperti hadits yang menerangkan tata cara tayammum oleh Nabi yang memberikan contoh mengusap tangan hanya sampai pergelangan tangan.
B. Pengertian Muqayyad
Menurut bahasa berarti batasan, sedangkan menurut istilah salah satu ialah salah satu lafal tertentu yang ada batasan atau ikatan dengan lafal lain yang mengurangi keseluruhan jangkauannya. (Jumantoro dan Amin, 2005: th)
Lafal muqoyyad adalah lafal mutlaq yang diberikan kaitannya dengan lafal lain sebagai kaitannya lebih tegas dan terbatas dari pada waktu masih mutlaq. Contoh lafad ﻴَﺎﺍَﻴﻬَﺎ ﺍﻠﺬﻴْنَ ٱﻤَﻧُوﺍ ﺍِﺬَﺍ ﻘُﻤْﺘُﻢْ ٳﻠََﻰ ﺍﻠﺼﻼََﺓِ ﻔَﺎﻏْﺴِﻠُﻮﺍ ﻮﺠُﻮْﻫَﻜُﻡْ ﻮَﺍَﻴْﺪِﻴَﻜُﻡْ ﺇﻠَﻰ ﺍﻠْﻣَﺮَﺍﻓِﻕِِ﴿ﺍﻠﻣﺎﺌﺪﺓ ٦﴾
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku.”
Lafad “yad” dalam ayat wudhu’ ini berbentuk muqayyad karena diikat dengan lafad “ilal maraafiqi”(sampai dengan siku). Ketentuan hukumnya adalah kewajiban mencuci tangan sampai siku.
Menurut Nazar Bakri, muqoyyad adalah suatu lafal yang menunjukkan atas pengertian yang mempunyai batas tertentu berupa perkataan. Seperti firman Allah Swt. dalam Q.S. Al-Nisa’: 92 yang artinya: “Dan barang siapa membunuh seseorang mukmin karena bersalah”. (Bakri, 2003: 60).

C. Hukum Mutlaq dan Muqayyad
1. Hukum Mutlaq
Menurut Ahmad Muhammad Asy-Syafi’i, lafal mutlaq dapat digunakan sesuai dengan kemuthlaqkannya, selama belum ada bukti yang membatasinya. (Usman, 183:52). Misalnya ayat yang menyebabkan “wa ummahatu nisaakum” artinya “dan ibu-ibu dari istri-istrimu “ dalam Q.S. An-Nisa’:23 maka ayat ini tetap dipegangi kemutlaqkannya, yaitu ibu mertua tidak boleh dikawini, baik istri belum dicampuri maupun sudah.
2. Hukum Muqayyad
Menurut A.M. Asy-Syafi’i, lafal muqayyad tetap dinyatakan muqayyad selama belum ada bukti yang membulatkan. “Muqayyad itu ditetapkan berdasarkan batasannya selama belum ada dalil yang menyatakan kemutlaqkannya.” (Usman, 1983:51). Misalnya kiffarat zhihar yaitu menyamakan istri dengan ibunya, dan harus memerdekakan budak atau puasa dua bulan berturut-turut.
3. Hukum Mutlaq yang sudah dibatasi
Menurut A.M. Asy-Syafi’i lafal mutlaq jika telah ditentukan batasannya maka ia telah ada batasan yang membatasinya. (Usman, 1983:52). Misalnya ketentuan “wasiat” dalam Q.S. An-Nisa’:11 masih bersifat mutlaq tanpa adanya batasan berapa jumlah yang dikeluarkan, kemudian ayat tersebut dibatasi ketentuannya dengan sepertiga dari harta yang ada. (HR. Sa’ad Ibnu Abi Waqqas)
4. Hukum Muqayyad yang sudah dihapus
Menurut A.M. Syafi’i, lafal muqayyad jika dihadapkan dalil lain yang menghapuskan kemuqayyadannya maka ia menjadi muthlaq. (Usman, 1983:52). Misalnya keharaman menikahi anak tiri karena anak tiri itu ”dalam pemeliharaan” dan ibunya “sudah dicampuri”. Keharaman menikahi anak tiri sudah dibatasi oleh dua hal di atas, namun batasan kedua tetap dipandang batasan yang muqayyad sedang batasan kedua hanya sekedar pengikut saja, karena anak tiri lazimnya mengikuti ibu atau ayah tirinya, bilamana ayah tiri belum mencampuri ibunya maka anak tiri boleh dinikahi. Karena itu batasan pertama menjadi muthlaq kembali. (Q.S. An-Nisa’:23).

D. Ketentuan Muthlaq dan Muqayyad
Menurut A.M. Hamid Hakim, banyak dalil syara’ yang ditemukan dimana di tempat satu ia menunjukkan kemuqayyadannya. Permasalahan yang muncul apakah muqayyad diikuti muthlaq, ataukah masing-masing berdiri sendiri. Maka permasalahan ini ada empet alternative pemecahannya, yaitu:
a. Hukum dan sebabnya sama, maka yang muthlaq dibawa muqayyad. (Usman, 1983:51)misalnya Allah mengharamkan darah bagi orang-orang mukmin. (Q.S. Almaidah:3). Selanjutnya makan darah itu dibatasi dengan “darah yang mengalir” tercantum pada Q.S. Al-An’am.
Karena sebab dan hukumnya sama, maka selain darah yang mengalir diperbolehkan, misalnya hati atau limpa.
b. Berbeda sebabnya namun sama hukumnya, bagi jumhur ulama Syafi’iah menyatakan muthlaq dibawa pada muqayyad.
Misalnya, kiffarat membunuh dengan tidak sengaja berupa memerdekakan budak yang mukmin. Selanjutnya kaffarat zhihar “memerdekakan budak” tanpa dibatasi mukmin atau tidak. Bagi golongan Hanafiah dan Malikiah mayoritas menetapkan hokum masing-masing muqoyyad dan muthlaq pada posisinya tidak dibawakan satu sama lainnya.
c. Berbeda hukum namun sama sebabnya, menurut Abdul Hamid Hakim, bahwa muthlaq dibawa pada muqayyad.
Maka kaidahnya muthlaq itu tidak dibawa muqayyad jika yang berbeda hanya hukumnya. (Usman,2003: 60). Misalnya, hokum wudhu dan tayamum dibasuh sampai mata siku. Seperti dalam firman Q.S. Al-Maidah:6.
d. Berbeda sebab dan hukumnya, maka muthlaq tidak dibawa pada muqayyad masing-masing berdiri sendiri.
Misalnya hukum potong tangan “aidiyahuma” bagi pencuri laki-laki dan pencuri wanita, seperti firman Allah Swt. yang artinya “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(Q.S. Al-Baqarah:38)
Selanjutnya, kewajiban wudhu ketika akan shalat yakni, salah satunya sampai siku-siku Wa Aidiyakum Ilal Maroofiqi “potong tangan” itu muthlaq, sedang membasuh “membasuh tangan sampai siku-siku” itu muqayyad. Karena sebab dan hukumnya berbeda maka masing-masing ditempatkan pada posisinya. Jika muqoyyad itu lebih dari satu, maka lafal muthlaq tidak boleh diikutkan pada muqoyyad walaupun hukum dan sebabnya sama. Misalnya, mengqada puasa bagi yang sakit dihari yang lain selain puasa, (Q.S. Al-Baqarah:184), denda haji tammatu’ atau mendahulukan umrah atas haji, puasa tiga hari di Mekkah dan tujuh hari di rumah (Q.S. Al-Baqarah:196), dan denda zhihar adalah dua bulan berturut-turut (Q.S. Al-Mujadillah:4). Masing-masing dalam posisinya.

SUMBER BACAAN

Al-Quran al-Karim
Al-Mujiz fi Ushul Fiqh ma’a Mu’jam Ushul Fiqh oleh Muhammad Ubaidillah al-Is’adiy.
Atsar al-Ikhtilaf fi al-qawaid al-Ushuliyah fi Ikhtilafi al Fuqaha’ oleh DR. Musthafa Sa’id al-Khan.
Taisir al-Ushul oleh Hafidh Tsana’ Allah az-Zahid.
Ushul Fiqh al-Islami oleh DR. Wahbah az-Zuhaily.
Ushul Fiqh oleh Prof. DR. H. Amir Syarifuddin.
Fiqh dan Ushul Fiqh, Jakarta: PT. Raja Grafindo, oleh Nazar Bakry.
Kaidah Fiqh: Sejarah dan Kaidah Asasi, Jakarta:Rajawali Pers, oleh Jaih Mubarok, 2002.
Fiqh Islam, Jakarta: Attahiriyah, oleh Sulaiman Rasjid:1976.
Ushul Fiqh 1: Metodelogi Penetapan Hukum Islam, Palembang: IAIN Raden Fatah Press oleh Romli, 2006
Fiqh Madrasah Aliyah Kelas 3, Semarang:Toha Putra oleh Djedjen Zainudin Suparta.
Kampus Ilmu Ushul Fiqh, Amsah oleh Totok Jumantoro, Munir Samsul Amin, 2005.
Mabadi Awwaliyah,Jakarta: Maktabah Sa’adiyah Putra oleh Abdul Hamid, 1927.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s