BERPIKIR MENURUT AL-QUR’AN

Berfikir adalah salah satu dari sekian tindakan yang mampu mengantarkan si pelakunya menuju rumah kebenaran. Berpikir juga menjadi salah satu dari bagian yang tak terpisahkan dari para cendekiawan. Sedangkan pada biasanya alat yang dijadikan media untuk berpikir hanyalah akal. Namun agar hasil pemikiran menuai pengaruh yang lebih benar dalah kehidupan nyata maka diharuskan tidak hanya berpikir mengunakan akal tapi juga dengan hati yang suci, dengan mengkombinasikann antara keduanya. Sebab bila yang digunakan media berpikir hanya bermediakan akal maka akan sering terjadi kerancuan pemikiran dari batas-batas syariat, dengan kehadiran akal saja pada objek yang dipikirkan juga akan berdampak “mendahulukan nafsu dari pada tujuan utama.” Juga karena keberadaan indra yang merupakan salah satu media pembantu dalam berpikir manusia terkadang menipu. Choiruddin Hadhiri SP. menyatakan dalam bukunya, klasifikasi kandungan Al-Qur’an “sasaran rasio adalah segala sesuatu yang hanya ditangkap atau diperoleh dari pengalaman indra manusia. Sedangkan sasaran akal selain unsur rasio juga fitrah yang membuat rasa percaya yang timbul dari hati yang suci.”

Sedangkan Yusuf al-Qardawi dalam bukunya al-’Aqlu wal-’ilmu fil-Qur’anil-Karim edisi Indonesianya, beliau mengutip pernyataan Raghib al-Ashfahani dalam kitabnya Mufradatu-alfazhil-Qur’an “pikiran adalah sesuatu kekuatan yang berusaha mencapai ilmu pengetahuan. Dan, tafakkur (berfikir) adalah bekerjanya kekuatan itu dengan bimbingan akal. Dengan itulah manusia berbeda dengan hewan.”

Pentingnya berpikir

Al-Qur’an sering menyinggung mengenai pentingnya berpikir yang menjadi sarana seseorang untuk sampai pada kebenaran. Baik anjuran berpikir yang disebutkan di dalam al-Qur’an secara eksplisit ; tersurat atau implicit ; tersirat, yang kesemuanya menyimpulkan akan anjuran terhadap pentingnya berpikir dalam segala hal.

Dari sekian contoh terhadap pentingnya berpikir adalah firman Allah I. Sebagai berikut

“Katakanlah: “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu”. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?. (QS, Yunus [10] : 16).

Nabi Muhammad SAW ketika diperintahkan Allah untuk menyampaikan suatu hal mengenai terutusnya beliau dengan membawa Al-Qur’an semata-mata karena kehendak Allah bukan kehendaknya sendiri. Padahal sebelum datangnya Islam hingga Beliau terutus. Kira-kira kurang lebih selama empat puluh tahun Muhammad hidup disekitar kabilah Arab Quraisy. Mereka kenal dan tahu betul siapa Muhammad Bin Abdillah, salah seorang keturunan Hasyim yang populer dengan budi pekerti, sopan santun, memiliki nilai etika tinggi, tawaduk dan berbagai sifat kemuliaan yang disandangnya. Semua penduduk Arab sepakat akan kejujuran Beliau , bahkan beliau digelari dengan Al-Amin; yang terpecaya, lanratan karena tingkah lakunya dikalangan mereka. Maka bagaimana mungkin orang yang telah dijuluki Al-Amin melakukan tindakan menyimpang dari kebiasaannya dengan mendakwahkan diri sebagai utusan Allah , mendapatkan wahyu dari-Nya, dan semua orang diperintahkan untuk mengikuti agama yang telah dibawanya, padahal sebelumnya beliau tidak pernah melakukannya.

Bila seseorang berfikir, pastinya setelah dia berfikir kemudian berusaha mencari asal-muasal kejadian, menganalisis, dan bertindak netral maka pada akhirnya dia temukan kebenaran yang sejati. Hal seperti inilah yang biasanya dilakukan oleh orang–orang yang telah mendapatkan hidayah-Nya. Dan harus dilakukan oleh mereka yang memiliki akal untuk mencapai kebenaran hakiki. bukan malah mendustakan dengan tanpa mengetahui kejadian sebenarnya, tanpa berpikir.

Sama halnya dengan cerita di atas adalah kutipan ayat berikut;

“Dan dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?”. (QS, al-Mu’minun [23] : 80).

Dalam ayat ini dijelaskan bagaimana aktivitas Allah di dalam kosmos-Nya, yaitu meliputi menghidupkan, mematikan, juga yang mengatur pertukaran antara siang dan malam. Ini merupakan tanda-tanda akan kesempurnaan kekuasaan-Nya, keluasan kehendak-Nya, ketinggian hikmah-Nya bagi mereka yang berpikir, cerdas dan mampu merenung. Sebagaimana hukum natural alam adalah adanya sebab-musabbab bagi terwujudnya sesuatu, seperti yang telah dikenal di sekitar manusia adalah sebuah robot dan operatonya, komputer dengan perancangnya, atau kotoran hewan dengan hewan yang mengeluarkan kotoran. Semua itu tidak akan ada dengan sendirinya, tapi robot bisa bergerak dengan adanya tombol-tombol perintah dari operator, begitu pula yang terjadi pada seperangakat komputer tidak akan bisa menjalankan program yang tersedia dengan tanpa kehadiran pengguna komputer, juga kotoran hewan tidak akan pernah ada dengan ketiadaan hewan yang mengeluarkan kotoran. Begitu pun sebaliknya. Dan seterusnya.

Juga apa yang telah menimpa kaumnya Nabi Luth A.S

 

“Dan Sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?”. (QS, ash-Shaffat [37] : 137-138).

Ketika anda melewati daerah yang pernah ditempati oleh kaum Luth maka anda akan menemukan kejanggalan, dan kejanggalan akan terkelupas bila anda telah berpikir dan melakukan obserfasi terhadapnya. Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli Geografis. Harun Yahya menyatakan dalam salah satu karyanya mengenai kaum Luth “Jejak-jejak dari danau Luth akan nampak kentara … Jika seseorang bersampan melintasi Danau Luth ke titik paling Utara dan sang Surya sedang bersinar tepat di arahnya, maka ia akan melihat sesuatu yang menakjubkan. Dari kejauhan pantai akan nampak secara jelas di bawah permukaan air segaris bentuk hutan yang secara luar biasa diawetkan oleh kandungan garam yang tinggi dari Laut Mati. Batang pepohonan dan akar-akaran di dalam kilauan air yang hijau nampaklah sangat kuno. Lembah Siddim di mana pepohonan ini dahulu daunnya pernah bermekaran menutupi batang dan rantingnya adalah merupakan salah satu lokasi yang paling indah di daerah ini.”

Setidaknya dengan tiga contoh di atas adalah sekelumit dari beberapa fakta kongkrit yang membutuhkan penalaran untuk sampai pada kebenaran. Yang pastinya tindakan berpikir bisa dilakukan oleh mereka; siapa saja yang menghendaki kebenaran tidak hanya tertentu para intelektual, meskipun al-Qur’an sering menyebut kata-kata ulul-albab yang kira-kira berjumlah 23 kata dalam al-Qur’an dan para pemikir Islam masih terjadi selisih pendapat mengenai apakah arti yang dikehendaki dengan ulul-albab, namun yang  pasti ulul-albab adalah orang yang memiliki akal untuk berpikir.

Allah SWT mengunakan redaksi afala ta’qilun yang berarti sebuah susunan yang dikenal dalam literatur Islam dengan istilah Istimhaf Inkari; pertanyaan negative dengan 13 kali penyebutan, yang menurut Yusuf Qardhawi Istimhaf Inkari memiliki tujuan memberikan dorongan dan membangkitkan semangat. Dalam hal ini adalah berpikir.

Al-Biqa’i berkata dalam tafsirnya, Nadhmud-Durar. Mengenai maksud dari ayat la’allakum tatafakkarun “adalah agar engkau menjadi orang yang menggunakan pikiranmu, sedangkan orang yang menggunakan pikirannya berarti dia telah mengambil kemanfaatan dari pemikirannya.” Masih dalam kitab yang sama Al-Harali berkata “sehingga engkau menilai dan melakukan dengan cermat, tidak ada kebaikan dalam ibadah kecuali dengan berpikir. Seperti halnya dengan arsitek yang hendak membangun suatu gedung, ia harus memikirkan apa yang sedang dibangunnya.” Orang bijak berkata “permulaan berpikir adalah akhir dari sebuah pekerjaan, dan awal pekerjaan adalah akhir dari sebuah pemikiran.” Demikian pula yang berkaitan dengan masalah ibadah yang diwajibkan tidak akan terjadi kecuali dengan berpikir, yaitu memperhatikan dengan cermat segala tingkah laku dari awal hingga akhir ibadahnya.

Objek Berpikir

Rasanya tidak pas bila hanya berpikir tanpa adanya objek yang dipikirkan. Sebagaimana di atas adanya pentingnya berpikir disebutkan dalam al-Qur’an, begitu juga dengan “objek berpikir” juga disebutkan di dalam al-Qur’an, bahkan penyebutuan objek berpikir tidak kalah banyak dengan contoh pentingnya berpikir.

Antara berpikir dan objek yang dipikir adalah satu kesatuan yang tidak mungkin untuk dipisahkan, sama halnya antara bumbu dengan garam, tidak bisa dipisahkan.

Sedangkan sesuatu yang menjadi objek untuk dipikirkan adalah segala sesuatu yang ada di bumi, meliputi segala hal, baik suatu yang absrtak atau tidak, materiil atau immaterial, maknawi atau lafdli. Hanya saja ketika seseorang memikirkan sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh indra; abstrak, maka terjadi sedikit kejanggalan, sulit dipercaya oleh rasio manusia. Sebab sasaran rasio adalah berkisar pada sesuatu yang bisa dinalar oleh indra. Meskipun nantinya rasio percaya akan adanya sesuatu yang abstrak maka akan membutuhkan durasi waktu yang agak lama untuk memberikan pemahaman pada rasio.

Setidaknya objek yang bisa dinalar akal terbagi menjadi dua;

Pertama Bersifat Materiil

“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui”. (QS ad-Dukhan [44] : 38-39).

Ayat ini menjelaskan akan segala ciptaan Allah tidaklah bermain-main, perkara yang hak, diyakini kebenarannya. Pastinya ciptaan Allah tidak sama dengan game seperti nitendo, sega, playstasion dan sejenisnya. Di dalam game tersebut si pemain setelah mati hidup kembali dan memulai kehidupannya dengan energi dan tenaga baru. Sangat berbeda dengan ciptaan Allah yang semuanya tidak main-main. Siapa yang maha menang ?

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya”. (QS, ar-Rum [30] : 8).

Andaikan mereka berpikir mengenai diri sendiri mereka, akan adanya hari akhir, hari kiamat, maka tanpa diperintah sekalipun mereka akan langsung menyiapkan segala sesuatu yang mungkin akan dihadapinya, ketika kelak akan bertemu dengan Tuhannya. Dan keberadaan langit dan bumi di dunia akan diganti dengan kedatangan hari kiamat. Namun mereka enggan untuk berpikir yang pada akhirnya mereka mengingkari akan pertemuan dengan Tuhannya. Siapa yang berkuasa ?

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”. (QS ar-Ra’d [13] : 4).

Dengan air yang sama, turun dari langit atau yang bersumber dari mata air bumi. Namun tumbuhan yang tumbuh berbeda-beda, dengan rasa yang beceda-beda pula, juga warna yang berbeda dan seterusnya. Siapa yang memilikinya ?


Kedua Bersifat Immaterial

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS, ar-Rum [30] : 21).

Dengan diciptakannya makhluk yang berpasang-pasang. Manusia menjadikan pasangan dari jenisnya sendiri dan melabuhkan rasa cinta kasihnya pada pasangannya sendiri. Begitu pula sebalinya, sang pasangan melabuhkan cinta kasihnya padanya. Siapa yang menjadikan ?

mereka adalah Pakaian bagimu, dan kamupun adalah Pakaian bagi mereka…(QS al-Baqarah [2] : 187).

Menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi, saling mengisi, saling menambah. Bila dipisahkan akan nampak kekurangan pada setiap satu dari keduanya. Siapa yang mengatur ?

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang Telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan[1313]. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. (QS az-Zumar [39] : 42).

Tidur adalah kematian kecil, sedangkan mati adalah tidur yang besar. Tidak jarang seseorang duduk nyantai sambil menikmati nikmatnya hidup atau sedang berbaring di atas permadani sutra dengan kondisi sehat dan fit. Tertidur dengan tidak terasa atau bahkan mati secara tiba-tiba, tidak didahului oleh sakit. Atau masih berusia belia. Itulah kekuasaan Allah. Siapa yang melakukannya?

http://guesdur.wordpress.com/2012/05/06/berpikir-menurut-al-quran/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s