CONTOH MAKALAH MAKALAH GEJALA KEMAUAN

MAKALAH

 

GEJALA KEMAUAN

 

 

 

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Psikologi

Dosen Pembimbing : Dra. Wibawati Bermi, Ma

 

Disusun Oleh :

 

  1. 1.                   Ridhon Khoirul Annas
  2. 2.                   Sabab Jalal
  3. 3.                   Nuruddin
  4. 4.                   Munfa’at
  5. 5.                   Umi Qulsum

 

 

 

 

 

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH TEMPURREJO-NGAWI

Tahun Akademik 2010-2011


Pergaulan

Manusia adalah “homo significans” yang memberi makna hidupnya dalam budaya. Manusia selalu berusaha mengatasi lingkungannya dengan menciptakan suatu instrument simbolis untuk berkomunikasi dengan sesama. Salah satu instrumen terpenting adalah bahasa. Bahasa merupakan totalitas tanda baik lisan maupun tulisan yang dengannya, manusia dapat berinteraksi dan memberi makna pada lingkungannya. Dengan bahasa, manusia dapat berinteraksi dan bersosialisasi dengan yang lain dan menamai jagat ini.

Dalam makalah ini, penulis hanya memfokuskan pembahasan pada bahasa pergaulan atau tangue/bahasa ibu. Bahasa pergaulan mengambil peran yang sangat penting dalam kehidupan suatu kebudayaan sekaligus menentukan atau menunjukkan nilai-nilai dalam hidup bersama. Senada dengan pembatasan penulisan di atas, makalah ini pun mau menelusuri pengaruh bahasa pergaulan (tangue) terhadap kemampuan berbahasa para siswa SMP Pax Ecclesia. Apakah bahasa pergaulan ini membawa pengaruh yang positif dan efektif pada kemampuan berbahasa baku seturut Ejaan Yang Disempurnahkan. Apakah yang ditimbulkan oleh keduanya?

Masalah Bahasa Pergaulan Manusia hidup bersama dan dalam korelasi dengan yang lain. Manusia tidak sendirian. Karena kebersamaan inilah, manusia mesti membutuhkan suatu sarana untuk mengkomunikasikan dirinya dan bersosialisasi dengan yang lain. Inilah yang menjadi ciri manusia sebagai makhluk sosial. Urgensitas kebutuhan inilah yang menuntut manusia untuk menciptakan bahasa sebagai sarana dalam bersosial. Bahasa muncul sebagai pemenuh kebutuhan asali manusia untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk sosial. Tanpa bahasa, manusia tidak mungkin memaknai segala yang ada di sekitarnya. Bahasa merupakan totalitas atau keseluruhan tanda baik lisan maupun tulisan, yang melaluinya manusia mengungkapkan segala perasaan, simpati dan keinginan atau pengetahuan kepada orang lain.

Di sinilah bahasa mengambil tiga (3) fungsi sekaligus yaitu fungsi komunikatif sebagai sarana untuk berkomunikasi, fungsi ekspresif yang memberikan kesaksian tentang kenyataan diri kita kepada orang lain dan fungsi deskriptif yakni menghasilkan pengetahuan tentang sesuatu.

Dalam suatu kelompok sosial, masyarakat menciptakan suatu bahasa pergaulan atau tongue untuk mengkomunikasikan segala yang hendak dikomunikasikan antara anggota kelompok tersebut. Ia menjadi begitu dekat bahkan melekat dalam diri anggota kelompok tersebut. Tanpa bahasa pergaulan, masyarakat tersebut tidak mungkin terbentuk menjadi suatu masyarakat. Ia menjadi syarat penting yang dengannya masyarakat secara bersama-sama bersepakat untuk membangun dan membentuk suatu masyarakat.

Karena relasi yang begitu dekat antara bahasa pergaulan atau tongue dengan masyarakat maka, bahasa juga menggambarkan dengan jelas nilai-nilai atau apa yang ada dalam masyarakat, seperti perkembangan masyarakat itu sendiri. Ia membahasakan dengan jelas karakter dan sikap masyarakat tersebut secara komunal atau kelompok. Dengan demikian, untuk mengetahui suatu kelompok, orang perlu mengenal dan mempelajari bahasanya.

Tidak berlebihan jika seseorang yang pandai berbahasa suatu bahasa, ia akan merasa diterima dan dihargai oleh kelompok pengguna bahasa tersebut. Misalnya, ketika kita sebagai orang Jogja pandai berbahasa Sunda di suatu lingkungan yang berbahasa Sunda, sudah pasti kita mudah diterima karena orang merasa dihargai dan dihormati.

Pengaruh Bahasa Pergaulan Terhadap Pendidikan Formal Di Sekolah

Ada beberapa indikator yang menentukan mengapa seseorang dalam hal ini para siswa sangat kuat dan erat bahasa ibu atau pergaulannya. Pertama, sejak dini atau lahir, anak sudah diperbiasakan dengan bahasa pergaulan. Proses pembiasaan ini akan sangat mempengaruhi perkembangan anak terutama dalam berbahasa. Bagi mereka, kesan atau pengalaman awal inilah yang sangat mempengaruhi proses perkembangannya ke depan. Sesuatu yang sudah dibiasakan akan sangat sulit untuk ditinggalkan atau diperbaharui. Kalau pun mungkin, proses itu butuh waktu yang cukup.

Kedua, lingkungan yang ada. Faktor lingkungan pun turut mempengaruhi perkembangan bahasa pada anak. Lingkungan tidak saja menjadi obyek atau tempat namun turut mempengaruhinya. Anak yang sudah dibiasakan dengan bahasa ibu atau pergaulan yang demikian dan berada di lingkungan yang sama dalam bahasa maka akan memunculkan daya ingat dan daya serap yang sangat kuat.

Kedua indikator inilah yang menimbulkan mengapa seorang anak akan sangat sulit melupakan bahasa ibu atau pergaulan. Pengaruh bahasa pergaulan ini akan jelas terlihat dalam pendidikan di sekolah sebagai proses lanjut dari pendidikan di rumah. Masalah kedekatan atau kekentalan bahasa pergaulan siswa di atas akan membawa kesulitan tersendiri pada kemampuan berbahasa siswa terutama dalam kemampuan berbahasa secara baku yakni sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Kesulitan Itu Meliputi :

  1. Kemampuan berujar secara tepat. Kekuatan dan kemampuan bahasa pergaulan menghipnotis siswa begitu kuat hingga siswa terus saja membawanya dalam bahasa-bahasa resmi yang baku. Pengucapan beberapa kata akan terlihat janggal karena faktor pembiasaan dari rumah dan lingkungan yang sudah mengeras. Contoh, menyebutkan kata “pegang”. Siswa cenderung menyebutkan kata “pegang” dengan sebutan “pegang” dengan e seperti menyebutkan “keju”. Padahal sebutan yang tepat adalah “pegang” dengan e seperti menyebutkan “belajar”.
  2. Selain itu, kelekatan pada bahasa pergaulan akan sangat menyulitkan anak dalam bahasa penulisan yang tepat. Anak cenderung menuliskan secara lurus apa yang dipikirkan termasuk kata-kata yang diadopsi dalam bahasa pergaulan tanpa suatu proses pengolahan yang tepat.
  3. Penempatan tanda baca. Siswa yang sudah sangat kental bahasa pergaulannya, akan sulit juga untuk menempatkan tanda baca yang tepat terutama tanda baca koma. Proses pembiasaan bahasa pergaulan secara lisan sejak dini akan sangat sulit bagi para siswa ketika menterjemahkan bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan secara tepat.

Dari beberapa tantangan berbahasa di atas, saya sebagai pengajar Bahasa Indonesia berusaha semampu mungkin untuk membiasakan anak berbahasa secara tepat yakni sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Ada beberapa solusi yang saya tawarkan antara lain :

  1. Menyadarkan siswa akan perbedaan dan fungsi dari bahasa pergaulan dan bahasa yang baku. Upaya pembedaan ini dimaksud untuk mengajak anak menyadari porsi dan tempat yang tepat bagi penggunaan kedua bahasa tersebut. Kapan mereka harus menggunakan bahasa pergaulan dan kapan bahasa yang baku mengambil peran.
  2. Sebagaimana bahasa pergaulan, proses berbahasa secara tepat yang sesuai dengan EYD pun membutuhkan suatu upaya pembiasaan. Artinya, anak dilatih untuk berbahasa secara tepat baik secara lisan maupun tulisan setiap saat setidaknya selama berada di sekolah. Pembiasaan ini akan sangat mempengaruhi perkembangan kemampuan berbahasa pada siswa.
  3. Proses penyadaran dan pembiasaan ini membutuhkan suatu kekuatan atau sanksi yang mengikat semisal hukuman menuliskan suatu alinea atau paragraf dengan bahasa yang baku atau jenis sanksi yang lain bagi mereka yang menggunakan bahasa pergaulan tidak pada waktu dan tempatnya. Sanksi inipun mesti disepakati bersama agar tidak menimbulkan masalah baru dan sejauh tidak memberatkan para siswa.

Proses pendidikan di sekolah tidak menghapus proses pendidikan di rumah atau lingkungan artinya bahasa pergaulan yang sudah dihidupi anak sejak kecil tidak harus dihilangkan oleh pendidikan bahasa baku di sekolah. Upaya yang ditawarkan adalah bagaimana anak menyadari dan memutuskan secara dewasa dan bertanggung jawab, kapan kedua bahasa itu digunakan.

Memberanguskan bahasa pergaulan akan menimbulkan bahaya baru karena berbahasa merupakan suatu kebutuhan manusia. Ketika bahasa ini didiamkan, para siswa akan mencari model lain untuk mengekspresikan gelora jiwanya. Sama seperti ketika terlalu banyak kata, hidup menjadi terlalu prosa dan ketika terlalu mini kata, hidup menjadi terlalu puisi, demikian juga pada waktu mana bahasa pergaulan mendapatkan saluran ekspresinya dan kapan bahasa baku digunakan.


BAGIAN TEORITIS

A.     Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan.

a.   Pendidikan dan Pergaulan

Menyemak pada pengertian pendidikan nyatalah bahwa pendidikan yang sebenarnya berlaku dalam pergaulan antara orang dewasa dan anak. Pergaulan pendidikan bersifat memberikan pengaruh dan pengaruh itu diberikan dengan landasan tujuan serta dalam keadaan sadar. Mendidik berarti juga memimpin.

  1. B.     Tujuan Pendidikan
    1. Tujuan umum: tujuan di dalam pendidikan yang seharusnya menjadi tujuan orang tua atau pendidik lain, yang telah ditetapkan oleh pendidik dan selalu dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang terdapat pada anak didik itu sendiri dan dihubungkan dengan syarat-syarat dan alat-alat untuk mencapai tujuan umum.
    2. Tujuan tak sempurna: tujuan mengenai segi-segi keputusan manusia (segi-segi yberhubungan dengan nilai-nilai hidup yang tertentu seperti kesusilaan, keagamaan dan lain-lain).
    3. Tujuan sementara: merupakan tempat-tempat perhentian sementara pada jalan yang menuju ke tujuan umum seperti anak dilatih untuk belajar dan lain-lain).
    4. Tujuan-tujuan perantara: saat-saat yang terlepas pada jalan yang menuju kepada tujuan umum.

Tujuan pendidikan terbagi menjadi 5

  1. C.     Beberapa Pendapat Tentang Tujaun Pendidikan

Tujuan pendidikan ditentukan oleh zaman. Pandangan manusia berbeda-beda jadi titik berat yang hendak dituju berbeda-beda seperti :

a)      Lebih meninitkiberatkan kepada ketuhanan atau agama (tujuan lengkap)

b)      Ada yang menitikberatkan pada kemerdekaan/kebebasan/kemandirian.

c)      Dan lain-lain

c)  Tujuan dan pengajaran di Indonesia

Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.

c) Tujuan pendidikan nasional

Tujuan pendidikan nasional: tujuan akhir yang akan dicapai oleh semua lembaga pendidikan, baik formal, non formal maupun informal yang berada di tengah-tengah masyarakat dan negara Indonesia.

Tujuan pendidikan dan pengajaran dapat dibedakan menjadi:

1. Tujuan umum: tujuan pendidikan yang berlaku untuk seluruh lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh suatu negara.

  1. Tujuan institusional: tujuan pendidikan yang akan dicapai menurut serius dan tingkatan sekolah/lembaga pendidikan masing-masing.
  2. Tujuan kurikuler: tujuan kurikulum sekolah yang telah diperinci menurut bidang studi atau mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran.
  3. Tujuan institusional: tujuan pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang akan diajarkan oleh guru.
  4. D.    Kewibawaan (Gezag) dalam pendidikan

Gezag berasal dari zeggen yang berarti “berkata”. Siapa yang perkataannya mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain berarti mempunyai kewibawaan/gezag terhadap orang lain.

  • Macam-macam kewibawaan

1)      Kewibawaan pendidikan

2)      Kewibawaan keluarga

  • Fungsi kewibawaan dalam pendidikan adalah membawa si anak ke arah pertumbuhannya yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya juga.
  • Kewibawaan  dalam masyarakat orang dewasa tidak menjadi berkenang tetapi harus stabil
  • Kewibawaan dalam pendidikan harus berstandar kepada perwujudan norma-norma  dalam diri anak si pendidik sendiri.
  • Kewibawaan dan identifkasi

a)      Spanduk mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan dan kebahagiaan si anak

b)      Sianak mengidentifikasikan dirinya terhadap pendidiknya.

  1. E.     Hubungan pembawaan Keturunan  dan Lingkungan di Dalam Pendidikan
    1. Pembawaan dan Lingkungan

Tentang pembawaan dan lingkungan terhadap beberapa pendapat.

a)   Aliran nativisme: berpendapat bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir.

b)   Aliran naturalisme: berpendapat bahwa pada hakikatnya semua anak sejak dilahirkan adalah baik.

c)   Aliran empirisme berpendapat bahwa perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu ditentukan oleh lingkungan.

d)   Hukum konvergensi berpendapat bahwa pembawaan  dan lingkungan kedua-duanya menentukan perkembangan manusia.

e)   Tut Wuri Handayani berpendapat perkembangan anak (manusia) ditentukan oleh interaksi oleh interaksi antara pembawaan/potensi-potensi yang dimiliki anak yang bersangkutan dan lingkungan.

  1. Keturunan dan Pembawaan

Semua yang dibawa oleh sinak sejak dilahirkan: diterima karena kelahirannya jadi memang adalah pembawaan. Tetapi pembawaan itu tidaklah semuanya diperoleh karena keturunan.

  1. Berperan Macam Pembawaan dan Pengaruh Keturunan
  • Macam-macam pembawaan

1)         Pembawaan jenis

2)         Pembawaan ras

3)         Pembawaan jenis kelami

4)         Pembawaan perseorangan

  • Pembawaan yang paling banyak ditentukan oleh keturunan ialah pembawaan ras, pembawaan jenis dan pembawaan kelamin.
  1. Lingkungan

Lingkungan meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku pertumbuhan, perkembangan atau life processes kita kecuali gen-gen.

Sifat-sifat dan watak kita adl hasil interaksi antara pembawaan keturunan dan lingkungan kita.

 


BAGIAN PRAKTIS

 

A.     Pendidikan dalam Lingkungan Keluarga

  1. Pentingnya pendidikan dalam keluarga

Anak yang diserahkan kepada sekolah untuk dididik bukan berarti tanggung jawab pendidikan itu berada pada sekolah akan tetapi keluarga juga harus turut berperan dalam mendidik anak yang sedang berkembang. Keluarga bertanggung jawab atas anak-anaknya baik di rumah maupun di sekolah.

  1. Peranan anggota keluarga terhadap pendidikan anak-anak

a) Peranan ibu

  • Sumber dan pemberi kasih sayang
  • Pengasuh dan pemelihara
  • Tempat mencurahkan isi hati
  • Dan lain-lain

b) Peranan ayah

  1. Sumber kekuasaan di dalam keluarga
  2. Pendidi dalam segi-segi rasional
  3. Pelindung  terhadap ancaman dari luar
  4. Dan lain-lain

c) Peranan nenek

Nenek itu merupakan sumber kasih sayang yang mencurahkan kasih sayangnya yang berlebih-lebihan terhadap cucu-cucunya.

d) Peranan pembantu rumah tangga

Peranan pembantu rumah tanggal hanyalah sebagai pembantu dalam mengasuh dan mendidik anak-anak dalam keluarga.

  1. Pengaruh lingkungan keluarga terhadap pendidikan anak-anak

Segala sesuatu yang ada dalam keluarga, baik yang berupa benda-benda dan orang-orang serta peraturan-perauran dan adat istiadat yang berlaku dalam keluarga itu sangat berpengaruh dan menentukan corak perkembangan anak-anak.

a)   Pentunjuk-petunjuk penting bagi pendidikan dalam lingkungan keluarga

1)      Usahakan suasana yang baik dalam lingkungan keluarga

2)      Tttetapi anggota keluarga hendaklah belajar berpegang pada hak dan tugas kewajiban masing-masing.

3)      Orang tua serta orang dewasa lainnya dalam keluarga itu hendak mengetahui tabiat dan watak anak-anak.

4)      Hindarkan segala sesuatu yang dapat merusak pertumbuhan jiwa anak-anak.

5)      Dan lain-lain.

4.   Beberapa kesukaran dalam pendidikan

1)      Keras hati dan keras kepala

Keras hati dapat timbul karena pembawaan anak, perkembangan rohani, keadaan badan terganggu dan kesalahan dalam pendidikan orang tua.

2)      Anak manja

3)      Perasaan takut pada diri anak

4)      Dusta anak

5)      Agresi (suatu keinginan menyerang orang lain yang menghalangi tercaoainya suatu tujuan) dan frustasi.

5.   Pendidkan Di Lingkungan Sekolah

a)   Perbedaan pendidikan di lingkunga sekolah dan keluarga

Pendekatan di lingkungan sekolah berbeda dengan pendidikan di lingkungan keluarga. Diantara perbedaan itu adalah:

1)         Perbedaan lingkungan

Di lingkungan keluarga perasaan kewajiban dan tanggung jawab yang ada pada orang tua untuk mendidik anak timbul secara alami. Sedangkan perasaan kewajiban  dan tanggungjawab dalam lingkungan sekolah untuk mendidik timbul karena status seorang sebagai pendidik.

2)         Perbedaan suasana

Suasana dikeluarga senantiasa diliputi oleh rasa (kasih sayang) diantaranya anggota-anggota nya. Sedangkan dilingkungan sekolah kehidupan dan pergaulan bersifat lebih zakelling dan lebih lugas.

3)         Perbedaan tanggung jawab

Orang tua (keluarga) menerima tanggung jawab mendidik anak-anak dari Tuhan/karena kodratnya. Keluarga bertanggung jawab penuh atas pemeliharaan anak-anaknya sejak lahir dan bertanggung jawab atas pendidikan watak anaknya. Sedangkan sekolah lebih merasa bertanggung jawab th pendidikan itelek serta yang berhubungan dengan kebutuhan anak untuk hidup di masyarakat.

b) Kerja sama antara keluarga dan sekolah

Sekolah pun harus mengadakan kerjasama dengan keluarga0keluarga. Karena dengan demikian guru dapat memperoleh keterangan-keterangan dari orang tua tentang kehidupan dan sifat-sifat nanaknya. Dianatara cara mempererat hubungan kerjasama sekolah dengan keluarga:

1)   Mengadakan pertemuan dengan orang tua pada hari penerimaan murid baru

2)   Adanya daftar nilai raport setiap semester

3)   Mendirikan perkumpulan orang tua murid dengan guru (Porag)

c)   Taman kianak sebagai jembatan antara keluarga dan sekolah

Manfaat taman kanak dapat kita lihat dari tujuan frobel mendirikan taman kanak-kanak.

1)      Memberikan pendidikan yang lengkap kepada anak-anak (± 3 – 6 tahun) dengan perkembangannya yang wajar.

2)      Memebri prtolongan dan bimbingan kepada para ibu dalam mendidik anak-anaknya.

3)      Mendidik dan menyiapkan para calon ibu dalam teori dan praktis untuk menjadi pemimpin kindergarten dan tugasnya sebagai ibu di kemudian hari.

6)   Guru sebagai pendidik

a)   Syarat menjadi pendidik

  • Berijazah
  • Sehat jasmani dan rohani
  • Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  • Bertanggungjawab
  • Berjiwa sosial
  • Berkelakuan baik
  • Menguasai mata pelajaran

7)   Segi pendidikan

a)   Pendidikan jasmani: pendidikan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan kesehatan jasmani anak-anak.

b)   Pendidikan rohani:

Pendidikan ini terdiri dari:

  • Pendidikan kecakapan: pendidikan yang bertujuan mengembangkan daya pikir menambah pengetahuan
  • Pendidikan agama
  • Pendidikan kesusilaan
  • Pendidikan keindahan
  • Pendidikan kemasyarakatan

8)   Alat pendidikan

a)     Pembiasaan

Pembiasaan adalah merupakan salah satu alat pendidikan yang penting sekali terutama bagi anak-anak yang masih kecil.

Para penganut aliran Behaviorisme dan psikologi individual terlalu mengutamakan pentignya pembiasaan dalam pendidikan.behaviorisme menganggap bahwa dasar atau keturunan itu tidak ada, hasil pendidikan terutama ditentukan oleh pengaruh yang diterima anak dari dunia sekiranya,termasuk juga pendidikan.Demikian pula psikologi individual memandang kecil arti bakat dan keturunan, sedangkan pengaruh lingkungan dan pendidikan sangat dilebih-lebihkan.

b)    Pengawasan

Suatu pembiasaan yang baik tentu membutuhkan pengawasan .pengawasan penting sekali dalam pendidikan,terutama dalam mendidik anak-anak. Tanpa pengawasan berarti membiarkan anak berbuat sekehendaknya. Anak tidak dapat membedakan yang baik dan yang buruk, tidak mengetahui mana yang seharusnya dihindari dan mana yang boleh dilaksanakan, mana yang membahayakan dan mana yang tidak.

Anak yang dibiarkan tumbuh sendiri menurut alamnya, akan menjadi manusia yang hidup menurut hawa nafsunya saja. Kemungkinan besar anak itu menjadi tidak patuh dan tidak dapat mengetahui kemana arah tujuan hidup yang sebenarnya.

c)     Perintah

Perintah bukan hanya berupasuatu perkataan yang keluar dari mulut, akan tetapi termasuk pula peraturan-peraturan umum yang harus ditaati oleh anak-anak.

d)    Larangan

Larangan itu biasanya diberikan jika anak melakukan sesuatu yang tidak baik, yang merugikan atau yang membahayakan. Tetapi seorang pendidik tidak boleh terus menerus memberikan larangan kepada anak didiknya namun hendaknya larangan itu diubah menjadi perintah. Suatu contoh ketika ada anak yang membawa pisau maka seorang ibu tidak boleh mengatakan “jangan membawa pisau” namun hendaknya kata itu diubah menjadi suruan misalnya “bawa pisaunya ke sini, ibu mau mengiris bawang.” Seorang anak yang sering dilarang berbuat sesuatu akan terhambat perkembangan rohani dan jasmaninya.

6)    Ganjaran: salah satu alat pendidikan yang berfungsi sebagai alat untuk mendidik anak-anak supaya anak dapat merasa senang karena perbuatan/pekerjaannya mendapat penghargaan.

7)    Hukuman

Macam-macam hukuman menurut Wiliam Stern

1)      Hukuman asosiatif

2)      Hukuman logos

3)      Hukuman normatif

KEWIBAWAAN

  1. 1.        Pengertian Kewibawaan (Gezag)

Gezag berasal dari kata zeggen yang berarti “berkata”. Siapa yang “perkataannya” mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain, berarti mempunyai kewibawaan atau gezag terhadap orang itu. (Tim Prima Pera: 2006=147)

Gezag atau kewibawaan itu ada pada orang dewasa, terutama pada orang tua. Dapat kita katakan bahwa kewibawaan yang ada pada orang tua (ayah dan ibu) itu adalah asli. Orang tua dengan langsung mendapat tugas dari Tuhan untuk mendidik anak-anaknya. Orang tua atau keluarga mendapat hak untuk mendidik anak-anaknya, suatu hak yang tidak dapat dicabut, karena terikat oleh kewajiban. Hak dan kewajiban yang ada pada orang tua itu keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan. Untuk jelasnya dapat penulis kemukakan contoh dibawah ini.

Pada suatu sekolah ada seorang guru yang bernama Bapak Budi yang sangat disegani oleh murid-muridnya. Mereka (murid-murid) sangat takut dan patuh kepadanya. Setiap harinya, sebelum Pak Budi masuk ke dalam kelas, murid-murid sudah duduk dengan tenang dan tertib menantikan Pak Budi itu mengajar. Semua perintah dan larangannya serta nasihatnya yang diberikan kepada murid-muridnya, diturut dan dipatuhi oleh anak-anaknya. Anak-anak hormat kepadanya.

Sebaliknya dengan Bapak Salim yang ada di sekolah itu. Ia kurang disegani anak-anak muridnya. Setiap pak Salim mengajar, anak-anak ada saja yang selalu membuat ribut dalam kelas, sehingga kelas menjadi ribut. Peringatan-peringatan dan nasihat-nasihat yang diberikannya tidak atau kurang dihiraukannya oleh murid-muridnya. Anak-anak tidak merasa segan atau patuh kepadanya. Perintah-perintah atau tugas-tugas yang diberikannya, sering kalau tidak dikerjakan oleh murid-muridnya. Karena itu pak Salim seringkali marah dan menghukum anak dalam kelas. Tetapi anak itu bukan semakin patuh atau menurut kepadanya, bahkan sebaliknya. Anak-anak mau mengerjakan apa yang diperintahkannya karena mereka takut; jadi bukan karena insaf atau percaya kepadanya.

Dari contoh di atas dapat kita mengatakan, bahwa Bapak Budi lebih berwibawa, lebih mempunyai kewibawaan atau gezag daripada Bapak Salim. Anak-anak lebih patuh dan lebih segan terhadap Bapak Budi. Segala sesuatu yang diperintahkan atau dinasihatkan ataupun diperingatkan oleh Bapak Budi, lebih meresap dan lebih mudah serta dengan senang menjalankan daripada Bapak Salim. Atau dengan kata lain: pengaruh yang ditimbulkan oleh Bapak Budi lebih dipatuhi oleh anak-anak.

  1. Kewibawaan Orang Tua dan Kewibawaan Guru
    1. Orang tua (ayah dan ibu) adalah pendidik yang terutama dan yang sudah semestinya. Merekalah pendidik asli, yang menerima tugasnya dari kodrat, dari Tuhan untuk mendidik anak-anaknya. Karena itu sudah semestinya mereka mempunyai kewibawaan terhadap anak-anaknya.
      Adapun kewibawaan orang tua itu terdiri dari 2 sifat :

1)        Kewibawaan pendidikan

Ini berarti bahwa dengan kewibawaannya itu orang tua bertujuan memelihara keselamatan anak-anaknya, agar mereka dapat hidup terus, dan selanjutnya berkembang jasmani dan rohaninya menjadi manusia dewasa. Adapun nasihat-nasihat yang dimintanya atau diterimanya dari orang tua meskipun orang yang meminta atau menerima nasihat itu sudah dewasa, dan banyak juga yang dituruti. Tetapi hal itu hendaknya timbul dari hati yang tulus ikhlas, tidak karena keharusan.

2)        Kewibawaan keluarga

Orang tua merupakan kepala dari suatu keluarga. Tiap-tiap keluarga merupakan “masyarakat kecil”, yang sudah tentu dalam “masyarakat” itu harus ada peraturan-peraturan yang harus dipatuhi dan dijalankan. Tiap-tiap anggota keluarga harus patuh kepada peraturan-peraturan yang berlaku dalam keluarga itu. Dengan demikian orang tua sebagai kepala keluarga dan dalam hubungan kekeluargaannya mempunyai wibawa terhadap anggota-anggota keluarganya. Kewibawaan keluarga itu bertujuan untuk pemeliharaan dan keselamatan keluarga. Tiap anggota keluarga harus tunduk kepada kewibawaan keluarga, selama ia menjadi anggota keluarga itu. Soal sudah dewasa atau belum, itu bukan soal yang penting lagi.

  1. Kewibawaan guru atau pendidik (yang bukan orang tua) menerima jabatannya sebagai pendidik bukan dari kodrat (dari Tuhan), melainkan ia menerima jabatan itu dari pemerintah. Ia ditunjuk, ditetapkan, dan diberi kekuasaan sebagai pendidik oleh negara atau masyarakat. Maka dari itu kewibawaan yang ada padanya pun berlainan dengan kewibawaan orang tua.
    Kewibawaan guru atau pendidik juga ada 2 sifat :

1)        Kewibawaan pendidikan

Sama halnya dengan kewibawaan pendidikan yang ada pada orang tua, guru atau pendidik karena jabatan berkenaan dengan jabatannya sebagai pendidik, telah diserahi sebagian dari tugas orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Selain itu, guru atau pendidik karena jabatan menerima kewibawaannya sebagian lagi dari pemerintah yang mengangkat mereka. Kewibawaan pendidikan yang ada pada guru ini terbatas oleh banyaknya anak-anak yang diserahkan kepadanya, dan setiap tahun berganti murid.

2)        Kewibawaan memerintah

Selain memiliki kewibawaan pendidikan, guru atau pendidik karena jabatannya juga mempunyai kewibawaan memerintah. Mereka telah diberi kekuasaan oleh pemerintah atau instansi yang mengangkat mereka. Kekuasaan tersebut meliputi pimpinan kelas; di sanalah anak-anak telah diserahkan kepadanya. Bagi kepala sekolah kewibawaan ini lebih luas, meliputi pimpinan sekolahnya. (Ngalim Purwanto, 2000 : 49)

3)        Fungsi Kewibawaan dalam Pendidikan

Pendidikan itu terdapat dalam pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak. Sebab pergaulan antara orang dewasa sesamanya, orang menerima dan bertanggung jawab sendiri terhadap pengaruh-pengaruh pergaulan itu.

Demikian pula pergaulan antara anak-anak dengan anak-anak biarpun sering kali seorang anak menguasai dan dituruti oleh anak-anak lainnya tetapi kekuasaan atau gezag yang terdapat pada anak itu tidak bersifat gezag pendidikan, karena kekuasaan itu tidak tertuju kepada tujuan pendidikan.

Dalam pergaulan baru terdapat pendidikan jika di dalamnya telah terdapat kepatuhan dari si anak, yaitu bersikap menuruti atau mengikuti wibawa yang ada pada orang lain; mau menjalankan suruhannya dengan sadar. Tetapi tidak semua pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan pendidikan; ada pula pergaulan semacam itu yang mempunyai pengaruh-pengaruh jahat atau pergaulan yang netral saja.
Satu-satunya pengaruh yang dapat dinamakan pendidikan ialah pengaruh yang menuju ke kedewasaan si anak: untuk menolong si anak menjadi orang yang kelak dapat atau sanggup memenuhi tugas hidupnya dengan berdiri sendiri.

Tidak setiap macam tunduk menurut terhadap orang lain (seperti menurut perintah-perintah anak lain) dapat dikatakan “tunduk terhadap wibawa pendidikan”. Bagaimana sikap anak terhadap kewibawaan pendidik? Dalam hal ini Langeveld menjelaskan dengan dua buah kata:

a)           Sikap menurut atau mengikut (volagen), yaitu mengakui kekuasaan orang lain yang lebih besar karena paksaan, takut, jadi bukan tunduk atau menuruti yang sebenarnya.

b)           Sikap tunduk atau patuh (), yaitu dengan sadar mengikuti kewibawaan, artinya mengakui hak pada orang lain untuk memerintah dirinya, dan dirinya merasa sendiri terikat akan memenuhi perintah itu.
Dalam hal yang terakhir inilah tampak fungsi wibawa pendidikan, yaitu membawa si anak ke arah pertumbuhannya yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya. (Athiyah Alabrasy, 2001 : 55)

  1. 3.        Kewibawaan dalam Masyarakat dan Kewibawaan dalam Pendidikan

Agar lebih jelas mengenai apa yang dimaksud dengan kewibawaan pendidikan dan bagaimana melaksanakan kewibawaan itu didalam praktek mendidik anak-anak, perlu kiranya penulis adakan perbandingan antara kewibawaan yang berlaku di dalam masyarakat dengan kewibawaan yang berlaku bagi pendidikan.

  1. Kewibawaan dalam Masyarakat

1)         Dalam masyarakat harus ada wibawa, supaya dapat tercapai maksud masyarakat itu, yaitu: kesejahteraan umum. Di dalam negara (yang berdasar demokrasi) ada 3 badan yang memegang kewibawaan, yaitu badan kekuasaan legisltif, eksekutif dan yudisial.
Anggota-anggota masyarakat adalah orang-orang yang telah “dewasa”, yang berarti bahwa mereka sudah seharusnya mempunyai cukup kesadaran akan keharusan dan faedahnya kewajiban-kewajiban itu mengurangi kebebasan mereka. Jadi mempunyai pengertian tentang norma-norma atau ukuran hidup.

2)         Masyarakat menurut atau patuh kepada pendukung-pendukung kekuasaan pemerintah itu bukan karena sempurnanya kepribadiannya, tetapi hanya karena orang-orang itu telah mendapat pengangkatannya untuk menjalankan kewajiban-kewajibannya. Kita menurut kepada seorang bupati; dan sebagai bupati ia berhak mengeluarkan peraturan-peratutan dan melaksanakannya, dengan sendirinya dalam batas-batas kekuasaannya saja.

3)         Sebaliknya, pemerintah meminta kita semua mentaati segala peraturannya. Bagaimana kebatinan kita (masing-masing orang) yang sebenarnya – setuju atau tidak, mengeritik atau tidak – pemerintah tidak mengindahkannya, asal kita taat kepada apa yang diperintahkannya. Jadi kekuasaan pemerintah hanya mengenai perbuatan-perbuatan kita yang lahir; selama perbuatan-perbuatan kita yang lahir ini sesuai dengan peraturan-peraturan, kita adalah warga negara yang baik, dan kita telah memenuhi kewajiban kita.

4)         Kewibawaan dan pelaksanaan kewibawaan dalam masyarakat tidak menjadi berkurang, melainkan tetap stabil, karena tujuannya ialah hendak mengatur perputaran masyarakat yang baik. Selama kita hidup dalam masyarakat, kita tetap taat di bawah kewibawaannya dan negara tetap akan melaksanakan kewibawaannya di atas kita.

  1. Kewibawaan dalam Pendidikan

1)       Pelaksanaan kewibawaan dalam pendidikan itu harus bersandarkan perwujudan norma-norma dalam diri si pendidik sendir. Justru karena wibawa itu mempunyai tujuan untuk membawa si anak ke tingkat kedewasaannya, yaitu mengenal dan hidup yang sesuai dengan norma-norma, maka menjadi syaratlah bahwa si pendidik memberi contoh dengan jalan menyesuaikan dirinya dengan norma-norma itu sendiri.
Tidak ada seorang pun yang lebih banyak kewibawaannya daripada mereka yang mewujudkan kewibawaan itu dalam dirinya sendiri.

2)       Dalam pendidikan, pertama-tama yang kita tuju ialah bahwa si anak dengan sepenuh kepercayaannya menyerahkan dirinya kepada pendidiknya (orang tuanya), dan dengan demikian mencapai peryesuaian batin. Bila tidak, kita tidak akan dapat mencapai tingkatan di atas dresur, yang berarti si anak hanya mengerjakan apa yang diperintahkan saja, dan kita tidak dapat mencapai: si anak itu mengenal nilai-nilai, dan dengan keyakinan hidup menyesuaikan diri dengan nilai-nilai itu.

3)       Wibawa dan pelaksanaan wibawa dalam masyarakat tetap, akan tetapi dalam pendidikan akan selalu menjadi berkurang, dan akhirnya selesai bila telah tercapai tingkat kedewasaan.
Ini tidak berarti bahwa si anak (yang telah dewasa itu) tidak lagiperlu mengakui adanya kewibawaan; sebaliknya dengan kesukarelaan dan keikhlasan sendirilah si anak mengakui adanya wibawa negara, Tuhan, dan berusaha hidup sesuai dengan kewibawaan itu. Itulah arti “kedewasaan” yang tepat. (Ngalim Purwanto, 2000 : 57)

4)       Kewibawaan dan Identifikasi

Di atas telah dikatakan bahwa tujuan dari wibawa dalam pendidikan itu ialah, dengan wibawa itu di pendidik hendak berusaha membawa anak itu ke arah kedewasaannya. Ini berarti, secara berangsur-angsur anak dapat mengenal nilai-nilai hidup atau norma-norma (seperti norma-norma kesusilaan, keindahan, ketuhanan dan sebagainya) dan menyesuaikan diri dengan norma-norma itu dalam hidupnya.

Syarat mutlak dalam pendidikan ialah adanya kewibawaan pada si pendidik. Tanpa kewibawaan itu, pendidikan tidak akan berhasil baik.
Dalam setiap masam kewibawaan terdapatlah suatu identifikasi sebagai dasar. Artinya, dalam melakukan kewibawaan itu si pendidik mempersatukan dirinya dengan didik, juga yang dididik mempersatukan dirinya terhadap pendidiknya.

Jadi dalam hal ini identifikasi mengandung dua arti :

  1. Si pendidik mengindentifikasi dirinya dengan kepentingan dan kebahagiaan si anak. Ia berbuat untuk anak karena anak belum dapat berbuat sendiri; ia memilih untuknya; jadi untuk anaknya itulah ia mengambil tanggung jawab, yang semestinya menjadi tanggung jawab anak itu sendiri. Jadi si pendidik seakan-akan mewakili kata hati didiknya untuk sementara.

Si pendidik memilih, mempertimbangkan, dan memutuskan untuk anak didiknya. Hal sedemikian dapat dipertanggung jawabkan dan memang perlu, selama si anak itu sendiri belum dapat memilih, mempertimbangkan dan mengambil keputusan untuk dirinya.
Tetapi lambat-laun camput tangan orang tua atau pendidik itu harus makin berkurang. Itulah syarat untuk membuat si anak berdiri sendiri.

  1. Si anak mengidentifikasi dirinya terhadap pendidiknya. Identifikasi anak sebagai makhluk yang sedang tumbuh, tentu saja berlain-lainan menurut perkembangan umurnya, menurut pengalamannya.
    Pada anak dua kemungkinan cara mengidentifikasi itu :

1)          Ia menurut dengan sempurna, tidak menentang; perintah dan larangan dilakukan secara pasif saja. Bahanyanya ialah, di dlam diri anak itu tidak tumbuh kesadaran akan norma-norma sehingga karena itu ia tidak akan mungkin sampai pada tingkatan “penentuan sendiri” (mandiri).

2)          Karena ikatan dengan sang pemegang-wibawa (pendidik) terlalu kuat-erat sehingga merintangi perkembangan “Aku” anak itu. Tetapi ikatan yang sangat erat itu dapat juga menimbulkan usaha yang sangat aktif untuk mencapai persamaan dengan pendidiknya: “berbuat seperti apa yang diharapkan dari pendidiknya” atau “si anak ingin menjadi sang pemegang-wibawa” itu. Di sini pun masih ada pula bahayanya, yaitu menututnya itu tidak seperti yang kita kehendaki, yakni memperoleh norma-norma bagi diri pribadinya.
Anak yang menurut dapat memberikan gambaran seakan-akan kita mencapai hasil baik dalam pendidikan kita. Tetapi kita harus ingat, bahwa si anak harus kita didik tidak saja dengan hak, melainkan dengan kwajiban membawa dirinya ke suatu tingkatan untuk makin dapat berdiri sendiri. Jadi hal itu berarti, identifikasi si anak terhadap orang tua atau pendidiknya lambat-laun harus dilepaskan dari sifat perseorangan, dan harus ditujukan kepada norma-normanya. Artinya: si anak harus menunjukkan sifat menurut bukan karena diri si pendidik itu, melainkan karena norma-norma dan nilai-niali dalam pribadi pendidiknya itu; si anak harus ditujukan kepada norma-norma itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s