CONTOH LAPORAN PELAKSANAAN MUZARO’AH DI DESA BANYUBIRU

LAPORAN PELAKSANAAN MUZARO’AH DI DESA BANYUBIRU

Disusun Guna Melengkapi Tugas Mata Kuliah FIQIH 2

Dosen Pembimbing : Drs. Irfan

Disusun Oleh :

Nama       : Yuning Rahmawati

Nim         :2010.520.101.236

SEKOLAH TINGGI ILMU  TARBIAH MUHAMMADIYAH

TEMPURREJO- NGAWI

2010-2011

Rumusan masalah :

  1. apa yang di maksud muzaro’ah?
  2. sistem  muzaro’ah seperti apa yang terjadi di desa sekaralas ?
  3. bagaimana pendapat penulis tentang system muzaro’ah  di desa sekaralas, sesuai hukum islam atau tidak?
  4. apa manfaat atau hikmah yang di rasakan masyarakat sekaralas dengan adanya muzaro’ah

 

 

 

 

 

Sistem muzaro’ah di desa sekaralas:

Di desa sering kali terjadi interaksi kerjasama antar warga karena masyarakat desa cenderung masih memepunyai rasa persaudaraan yang masih kuat di banding masyarakat perkotaan, masyarakat kota sangat cenderung egois dan memikirkan kehidupannya masing-masing.

Banyak sekali kita jumpai pada masyarakat desa yang saling bekerja sama atau tolong menolong dalam berbagai aspek, social, ekonomi,dsb. Mayoritas penduduk desa biasanya bermata pencahariaan sebagai petani. Begitu juga yang terjadi di desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi.banyak di antara warga desa yang mempunyai sawah yang cukup luas,dengan di tanami berbagai jenis tanaman dan tentunya juga memperkerjakan banyak orang. Namun ada juga warga yang mempunyai sawah yang tidak luas biasanya di kelola sendiri, karena jika mempekerjakan orang tidak mempunyai cukup biaya.

Bagi yang mempunyai sawah yang luas mereka terkadang meminta seseorang untuk menggarap sawah mereka, di desa sekaralas banyak warga yang menggarap sawah seseorang dengan system bagi hasil yang biasanya benihnya biasanya di peroleh dari orang yang menggarap sawah atau petaninya dalam islam di sebut muzaro’ah.

Dari pengamatan saya bamnyak system paroan sawah dengan system muzaro’ah di banding mukhobaroh di desa sekaralas terjadi dua macam muzaro’ah yaitu:

1. Sistem MUZARO’AH yang pemilik sawah menyerahkan sepenuhnya penggarapan sawah kepada petaninya atau penggarapnya,mulai dari benih, pupuk, membajak lahan, pengairan, pemelihaan tanaman, seperti mencabuti rumput(matun), menyemprot. Untuk menyemprot dan memupuk bila lahannya tidak begitu luas mereka memilih untuk mengerjakannya sendiri, karena untuk menghemat biaya sampai pada saat memanenpun juga menggunakan biaya semua itu di tanggung oleh pengelolasawah atau petani. Bila pemilik sawah atau pengolah sawah bersepakat melakukan kerja sama paroan sawah(muzaro’ah) dengan system seperti ini  dengan menyerahkan semua biaya pengelolaan, pemeliharaan sampai pada pemanenan kepada penggarap sepenuhnya sehingga pemilik sawah tinggal menerima hasil bersihnya, maka di desa sekaralas disebut(mertelon),dengan system bagi hasil 1/3 untuk pemilik sawah dan 2/3 untuk penggarap sawah.

2. Sistem Muzaro’ah yang pemilik sawah dan penggarap sawah telah sepakat sebelumnya bahwa cara pengelolaan sawah di lakukan dengan biaya pengelolaan dengan setengah-setengah (paroan) mulai dari bibt, pengolahan lahan, pemeliharaan sampai saat padi di panen. Maka bagi hasilnya juga di lakukan dengan cara mendapat bagian ½ untuk pemilik sawah dan ½ pemilik sawah.

Bila terjadi gagal panen untuk system muzaro’ah dengan cara (mertelon) maka kerugian ditanggung penggarap sepenuhnya, otimatis karena penggarap juga sudah bersepakat untuk mengelolanya, sedangkan bagi pemilik sawah tidak ikut menanggung kerugian karena sudah menyerahkan sepenuhnya pengelolaan sawahny pada penggarap sawah. Sedangkan untuk system muzaro’ah dengan cara (paroan) jika terjadi gagal panen maka di tanggung setengah-setengah juga. Misalnya bila berhasil panen sawah menghasilkan 2 ton padi namun karena terserang hama wereng hasil panen berkurang menjadi 1 ton maka untuk kerugian pemeliharaan padi 1 ton tersebut di bagi setengah-setengah.

Sistem muzaro’ah seperti tersebut diatas berlaku untuk senmua jenis tanaman dan sistem paroan sawah atau muzaro’ah seperti ini sudah menjadi hal yang tidak asing lagi di desa sekaralas sehingga jarang terjadi salah paham pada saat pembagian hasil panennya.

Pendapat penulis tentang system muzaro’ah

Menurut saya sistem muzaro’ah (paroan sawah) yang terjadi di desa sekaralas sangat baik berjalan dengan aturan islam .

Untuk sistem muzaro’ah yang pertama dengan sistem bagi hasil 1/3 untuk pemilik sawah dan 2/3 untuk petani atau penggarap sawah atau di desa sekaralas disebut(mertelon), menurut saya masuk akal dan juga tidak menyimpang dari aturan islam karena disana saya lihat terjadi dengan adil bisa di lihat dari cara bagi hasilnya, karena pemilik sawah benar-benar menyerahkan pengelolaan sawah sepenuhnya kepada petani mulai dari bibit, penanaman, pemeliharaan sam pai pemanenan, maka wajar saja bila bagian ny lebih banyak untuk pengelola, begitu juga terjadi kerugian pengelolalah yang menanggung semua kerugian karena pemilik sawah tidak ikut campur dalam urusan pengelolaan sawah dan bagianya pun hanya 1/3 dari hasil panen.

Sedangkan sestem muzaro’ah dean cara kedua atau paroan menurut saya juga sesuai kaidah atau aturan islam. Disini cara bagi hasilnya di lakukan secara adil yaitu ½ untuk pemilik sawah dan ½ untuk petani karena pengelolaan dari mulai menaman sampai panen juga di lakukan sama-sama dengan modal uamg ataupun jasa masing-masing setengah-setengah. Walaupun terkadang pemilik sawah lebih banyak memberikan modal dalam bentuk uang begitu pun jika terjadi kerugian di tanggung bersam biaya kerugiannya.

Untuk dua cara dalam melakukan paroan sawah(muzaro’ah) ini sama-sama menguntungkan menurut saya dan pembagiannya sama-sama terjadi dengan adil. Berdasarkan pengamatan dan sedikit wawancara yang saya lakukan dengan salah seorang warga dapat saya simpulkan bahwa system muzaro’ah  baik dan benar menurut atura islam,karena selain terjadi keadilan dalamm pembagian hasil panen juga terjadi kesepakatan sebelumnya antara kedua belah pihak(penggarap dan pemilik sawah) mereka sama saling terbantu dengan adanya kerja sama paroan sawah(muzaro’ah). Kalaupun terjadi gagal panen menurut saya juga hal yang lumprah dalam srbuah usaha, apalagi disini sudah ada kesepakatan sebelumnya tentang untung(panen) dan rugi (gagal panen) dan sudah di setujui oleh kedua belah pihak.

Hikmah(manfaat)yang di rasakan masyarakat di desa sekaralas dengan adanya muzaro’ah   

Berdasarkan pengamatan singkat yang saya lakukan , dan beberapa wawancara pendek dengan warga,ada beberapa manfaat muzaro’ah:

  1. membuka lapangan pekerjaan untuk warga yang tidak punya sawah.
  2. memebantu pemilik sawah untuk bias mengerjakan sawahnya karena tidak mampu untuk di kerjakan sendiri.
  3. memupuk rasa solodaritas dan tolong menolong antara warga.
  4. mensejah terakan kehidupan warga desa sekaralas.
  5. memupuk rasa saling percaya antara warga(yang pemilik dan penggarap sawah)
  6. meningkatkan etos kerja petani untuk memberikan yang terbaik untuk pemilik sawah sehingga pemilik sawah dapat mempercayakan lahan nya untuk kembali di kelola.

 

 

 

 

Kesimpulan

Muzaro’ah bias di katakan suatu kerja sama   dalam pengolahan lahan/sawah yang dapat meringankan pihak pemilik sawah untuk menggarap sawahnya,dan dapat memberikan pihak pemilik sawah untuk menggarap sawahnya dan dapat memberikan pekerjaan bagi petani yang tidak mempunyai sawah. Muzaro’ah harus dilakukan sesuai dengan kesepakatan sebelumnya antara pemilik sawah dengan petani(penggarap sawah)dan tentunya dalam pembagian hasil harus di lakukan sesuai kesepakatan sebelumnya.

Muzaro’ah di desa sekaralas baik, karena sudah sesuai dengan atura islam,dan kedua belah pihak tidak merasa di rugikan bahkan sebaliknya, mereka merasa  sama-sama mendapatkan kebaikan dan keuntugan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s