MAKALAH MENGENAL POLA INTERAKSI DI KELAS DALAM AGAMA ISLAM

MENGENAL POLA INTERKASI DI KELAS

DALAM AGAMA ISLAM

MAKALAH

Disusun untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan Islam

Dosen Pengampu : SYAMSUL MA’ARIF, M. Pdi

Oleh :

KELOMPOK VI

v         M. ALIMUDIN

v         MUH. SAMSUL MA’ANI

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH TEMPURREJO

MANTINGAN – NGAWI

Tahun Akademik 2012 – 2013

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai waktu  yang ditentukan. Shalawat dan salam kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW yang telah menuntun manusia dari jalan kesesatan menuju jalan kebenaran.

Adapun judul makalah ini adalah “Mengenal Pola Interaksi di Kelas dalam Pendidikan Islam”. Penulis menyusun makalah ini guna menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah Sosiologi Pendidikan Islam, semoga dengan adanya makalah ini menjadi salah satu penambahan wawasan keilmuan kita.

Karena keterbatasan kemampuan dari penulis, sudah barang tentu makalah ini masih terdapat kekurangan. Untuk itu kritik dan saran dari berbagai pihak sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah kami.

Akhirnya kepada semua pihak  yang telah  membantu terselesaikannya makalah ini, kami ucapkan terimakasih.

Ngawi, 05 Oktober 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul………………………………………………………………………………………………..

Kata Pengantar……………………………………………………………………………………………….

Daftar Isi……………………………………………………………………………………………………….

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah………………………………………………………………………..
  2. Rumusan Masalah…………………………………………………………………………………
  3. Tujuan Penulisan…………………………………………………………………………………..

BAB II PEMBAHASAN MENGENAL POLA INTERAKSI DI KELAS

DALAM PENDIDIKAN ISLAM…………………………………………………………..

  1. Guru Sebagai Guru……………………………………………………………………………….
  2. Guru Sebagau Orang Tua………………………………………………………………………
  3. Guru Sebagai Teman…………………………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………………..

BAB III

PEMBAHASAN

MENGENAL POLA INTERAKSI DI KELAS

DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Dalam bekerja guru cenderung mengelompokan siswa dalam interaksi yang berbeda, mereka mengelompokan sebagai “golongan siswa berkemampuan tinggi” yang mereka anggap sebagai siwa yang cerdas, patuh, tertib, rajin, rapi dan sebagainya. Interaksi kedua adalah “golongan siswa berkempuan rendah”, mereka adalah yang termasuk siswa yang mempunyai nilai rendah, bandel, pemberontak, malas, dan sebagainya.

Martin Seligman, Psikolog dari Universitas Pennsylvania menemukan bahwa setiap sebagian orang bereaksi lebih sensitif terhadap prasangka. Dalam ekspreimennya ia menguji sekelompok perenang untuk menentukan tingkat optimisme dan pesimisme pribadi mereka. Perenang yang dikelompokan sebagai perenang yang memiliki pesimise diberikan catatan rekor renang palsu yang sengaja dibuat buruk, ternyata akan memberikan umpan balik yang sama pula, catatan waktu yang mereka peroleh semakin buruk dan ini berbalik dengan perenang yang optimis, mereka memberikan umpan balik negatif, prestasi mereka terus membaik.

  1. A.        INTERAKSI GURU TERHADAP SISWA
    1. Siswa Berkemampuan Tinggi Siswa Berkemampuan Rendah
    2. Cenderung lebih murah senyum Cenderung berbicara lebih keras
    3. Lebih banyak ngobrol Ngobrol seperlunya
    4. Akrab Jarang senyum
    5. Berbicara secara intelektual Berbicara lambat
    6. Humoris Instruksional
    7. Bertindak lebih matang Otoriter
    8. Menggunakan kosa kata yang kompleks Menggunakan kalimat mentah

Keyakinan guru akan potensi manusia dan kemampuan semua anak untuk belajar dan berprestasi merupakan hal yang penting diperhatikan. Aspek-aspek teladan mental guru sangat berpengaruh terhadap iklim belajar siswa. Siswa menangkap pandangan penilaian guru terhadap dirinya lebih cepat dan akurat dibandingkan menangkap pelajaran yang diterangkan oleh gurunya.

Saat siswa mendapatkan penilaian negatif dari gurunya, otak terasa terancam oleh tekanan-tekanan tersebut, kapasitas syaraf untuk berpikir rasional mengecil. Otak “dibajak” secara emosional menjadi mode bertempur atau kabur [Inilah yang disebut siswa sebagai pelajaran yang tidak sukai, membosankan, menakutkan dan sebagainya], akibatnya otak tidak dapat mencerna lebih baik, Higher Order Thinking Skills.

Fenomena ini sering disebut dengan downshifting yakni tanggapan psikologis yang dapat menghentikan proses belajar saat itu dan sesudahnya. Untunglah otak juga dapat melakukan sebaliknya, dengan tekanan positif dan supportif, dikenal dengan eustress, otak dapat melibatkan secara emosioal dan memungkinkan kerja syaraf secara maksimal dalam proses belajar anak. Kuncinya adalah membangun ikatan emosional dengan menciptakan kesenangan belajar, menjalinkan hubungan antara guru dan siswa yang lebih akrab dan ramah dan menyingkirkan ancaman-ancaman yang dapat mempengaruhi suasana belajar.

Sedangkan menurut Suparman, S.Pd, pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Banyak komponen-komponen mempengaruhi proses belajar mengajar diantaranya penggunaan media dan metode pembelajaran. Selain itu faktor interaksi antara guru dan siswa juga sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Untuk itu perlu diciptakan interaksi antara guru dan siswa yang kondusif.

Untuk menciptakan interaksi antara siswa dan guru dalam melakukan proses komunikasi yang harmonis sehingga tercapai suatu hasil yang diinginkan dapat dilakukan contact-hours atau jam-jam bertemu antara guru dan siswa, dimana guru dapat menanyai dan mengungkapkan keadaan siswa dan sebaliknya siswa mengajukan persoalan-persoalan dan hambatan-hambatan yang dihadapinya.

Adapun interaksi pembelajaran yang dapat dilakukan sebagai berikut ;

  1. Interaksi satu arah, dimana guru bertindak sebagai penyampai pesan dan siswa penerima pesan.
  2. Interaksi dua arah antara siswa dan guru dimana guru memperoleh balikan dari siswa.
  3. Interaksi dua arah antara guru dan siswa dimana guru mendapat balikan dari siswa selain itu saling berinteraksi atau saling belajar satu dengan yang lainnya.
  4. Interaksi optimal antara guru, siswa dan antara siswa-siswa.
  1. A.      GURU-ANAK DIDIK SEBAGAI DWITUNGGAL

Guru dan anak didik adalah dua sosok manusia yang tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Figur guru yang mulia adalah sosok guru yang dengan rela hati menyisihkan waktunya demi kepentingan anak didik, demi membimbing anak didik, mendengarkan keluhan anak didik, menasehati anak didik, membantu kesulitan anak didik dalam segala hal yang bias menghambat aktivitas belajarnya. Guru dan anak didik adalah sebagai dwitunggal.

  1. B.      GURU SEBAGAI MITRA ANAK DIDIK

Di sekolah, guru adalah orang tua kedua bagi anak didik. Tugas dan tanggung jawab guru adalah meluruskan tingkah laku dan perbuatan anak didik yang kurang baik, yang dibawahnya dari lingkungan keluarga dan masyarakat.

Kegiatan proses belajar mengajar tidak lain adalah menanamkan sejumlah norma ke dalam jiwa anak didik. Guru dan anak didik berada dalam suatu relasi kejiwaan. Interaksi antara guru dan anak didik terjadi karena saling membutuhkan. Anak didik ingin belajar dengan menimba sejumlah ilmu dari guru dan guru ingin menimba dan membimbing anak didik dengan memberikan sejumlah ilmu kepada anak didik yang membutuhkan.

  1. C.      PENDEKATAN YANG DIHARAPKAN DARI GURU

Dalam interaksi edukatif, guru berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan bijaksana, sehingga tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara guru dan anak didik.

  1. Pendekatan Individual

Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual karena perbedaan individual anak didik tersebut memberikan wawasan kepada guru, bahwa strategi pengajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individual. Persoalan kesulitan belajar anak didik lebih mudah dipecahkan dengan menggunakan pendekatan individual, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.

  1. Pendekatan Kelompok

Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Pendekatan kelompok diharapkan dapat ditimbulkan dan dikembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendaliakn rasa egoisme dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di kelas. Anak didik yang dibiasakan hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan kelebihan.

  1. Pendekatan bervariasi

Dalam mengajar biasanya guru hanya menggunakan satu metode, sehingga sukar untuk menciptakan suasana yang kondusif. Jadi jika terjadi perubahan sulit dinormalkan kembali. Permasalahan yang dicapai oleh setiap anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan pun akan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula.

Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik dalam belajar bermacam-macam. Kasus ini biasanya dengan berbagai motif, sehingga pendekatan bervariasi ini sebagai alat yang dapat guru gunakan untuk kepentingan pengajaran.

  1. Pendekatan Edukatif

Pendekatan yang benar bagi seorang guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap tindakan, sikap, dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, norma sosial, dan norma agama.

Dalam pendidikan Islam, pada dasarnya, pendidikan berintikan interaksi antara guru dan siswa. Guru merupakan komponen utama dalam pendidikan karena tanpa guru pendidikan mustahil berlangsung. Begitu pentingnya guru dalam pendidikan sehingga perlu guru profesional. Guru yang profesional selain mampu menguasai materi peiajaran dan teknik mengajar juga harus memiliki moral atau akhlak yang baik. Pentingnya moral dan kode etik dalam interaksi dengan para siswa tersehut didasarkan pada tujuan pendidikan yang menurut Al-Qur’an adalah membina manusia seutuhnya (Insan Kamil,).

Dewasa ini, pola interaksi guru dan siswa jauh dan nilainilai Islam. Banyak guru yang hanya mengajar tanpa mendidik untuk mengejar keuntungan materi sehingga pola interaksi guru dan siswa bernuansa bisnis materiafistis. Pola ini menjadikan siswa kurang menghormati guru karena kurangnya nilai-nilai agama yang ditanamkan oleh guru yang akan menyebabkan krisis akhlak dikalangan para siswa.

Oleh karena itu, perlu saatnya diterapkan pola interaksi guru dan siswa yang Islami. Masalah yang muncul adalah, pertama, bagaimana pola sikap guru terhadap siswa dalam interaksi pendidikan pada pendidikan Islam? Kedua, bagaimana pola sikap siswa terhadap guru dalam interaksi pendidikan pada pendidikan Islam? Ketiga, bagairnana pola komunikasi guru dan siswa dalam interaksi pendidikan pada pendidikan Islam?

Tujuan penelitian ini adalah, pertama, mengetahui pola sikap guru terhadap siswa dalam interaksi pendidikan pada pendidikan Islam. Kedua, rnengetahui pola sikap siswa terhadap guru dalarn interaksi pendidikan pada pendidikan Islam. Ketiga, mengetahui pola komunikasi guru dan siswa dalam interaksi pendidikan pada pendidikan Islam.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian analisis isi (Content Analysis) terhadap berbagai sumber data yang dikumpulkan melalui teknik studi pustaka atau dokumenter untuk memperoleh kesimpulan-kesimpulan dan teori-teori.Setelah dilakukan penelitian dan pembahasan, hasilnya adalah pertama, pola sikap guru terhadap siswa dalam interaksi pendidikan pada pendidikan Islam berdasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam.

Ada beberapa pola interaksi pendidikan yaitu pola keikhlasan, pola kekeluargaan, pola kesederajatan, pola uswah al-hasanah dan pola kebebasan. Kedua, pola sikap siswa terhadap guru dalani inleraksi pendidikan pada pendidikan Islam berdasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam.

Ada beberapa pola ineteraksi pendidikan yaitu pola ketaatan, pola kasih sayang dan pola kritis. Ketiga, pola komunikasi guru dan siswa dalam interaksi pendidikan pada pendidikan Islam terbagi menjadi dua yaitu pola komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah dalam pendidikan dan komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi banyak arah dalam interaksi pendidikan.

Studi-studi menunjukkan bahwa siswa lebih banyak belajar jika pelajarannya memuaskan, menantang, hubungan yang ramah antara guru dan siswa, dan mempunyai kesempatan yang sama untuk membuat keputusan. Bila demikian siswa pun akan tertarik melakukan hal-hal secara sukarela yang berhubungan dengan bahan pelajaran. Disamping itu, ikatan emosi juga mempengaruhi memori dan ingatan mereka akan bahan-bahan yang dipelajari. Seperti yang dikatakan oleh ilmuwan syaraf otak Joseph LeDoux; … perangsangan amigdala agaknya lebih kuat mematrikan kejadian dengan perangsangan emosional dalam memori…. Semakin kuat rangsangan amigdala, semakin kuat pula pematrikan dalam memori (Joseph LeDoux, 1994, Emotion, Memory and the Brain)

Untuk para guru, berlatihlah untuk mengubah pandangan Anda terhadap siswa, tidak ada siswa yang dapat dikategorikan dalam stage tertentu sebagai siswa cerdas atau tidak cerdas, semua siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk berprestasi, ubahlah cara pandang Anda dengan membayangkan angka sempurna pada setiap kepala siswa seolah-olah mereka adalah semua murid top generasi Einstein-Einstein baru yang akan Anda poles… dan perhatikan perbedaan yang terjadi [PD/ayed]

  1. B.        PERAN GURU DI DALAM KELAS

Proses pembelajaran akan efektif, jika komunikasi dan interaksi antara guru dengan siswa terjadi secara intensif. Guru dapat merancang model-model pembelajaran sehingga siswa dapat belajar secara optimal. Guru mempunyai peran ganda dan sangat strategis dalam kaitannya dengan kebutuhan siswa. Peran dimaksudkan adalah guru sebagai guru, guru sebagai orang tua, dan guru sebagai sejawat belajar.

  1. Guru sebagai guru.

Pekerjaan utama guru adalah mengajar dan mendidik siswa siswa, yang berusaha agar semua siswanya mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang diajarkan dengan baik.

  1. Guru sebagai orang tua.

Tempat mencurahkan segala perasaan siswa, tempat mengadu siswa ketika mengalami gangguan. Siswa merasa aman dan nyaman ketika dekat dengan guru, bahkan merasa rindu jika tidak bertemu guru. Interaksi guru dan siswa bagaikan hubungan orang tua dan anak, hangat, akrab, harmonis, dan tulus.

  1. Guru sebagai teman.

Sebagai pasangan untuk berbagai pengalaman dan beradu argumentasi dalam diskusi secara informal. Guru tidak merasa direndahkan jika siswa tidak sependapat, atau memang pendapat siswa yang benar, dan menerima saran siswa murid yang masuk akal. Hubungan guru dan siswa mengutamakan nilai-nilai demokratis dalam proses pembelajaran.

  1. PERAN GURU SEBAGAI GURU

Peran guru sebagai guru lebih dominan dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas. Dalam proses pembelajaran sehebat apapun perangkat pembelajaran dibuat oleh guru dan kompetensi guru yang baik tanpa interaksi antara guru dan siswa yang harmonis maka tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai optimal. Guru harus mampu menguasahi pola interaksi dan tehnik komonikasi yang baik dalam proses pembelajaran. Interaksi dalam pembelajaran lebih dikenal dengan istilah interaksi edukatif. interaksi edukatif secara spesifik merupakan proses atau interaksi belajarmengajar itu, memiliki ciri-ciri khusus yang membedakan dengan bentuk interaksi lain. ciri-ciri interaksi belajar mengajar tersebut yaitu:

  1. Interaksi belajar-mengajar memiliki tujuan,

yakni untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud interaksi belajar-mengajar itu sadar tujuan, dengan menempatkan siswa sebagai pusat perhatian. Siswa mempunyai tujuan, unsur lainnya sebagai pengantar dan pendukung.

  1. Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang terencana.

Agar dapat mencapai tujuan secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu adanya prosedur atau langkah-langkah sistematis dan relevan. Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang satu dengan yang lain, mungkin akan membutuhkan prosedur dan desain yang berbeda pula. Sebagai contoh misalnya tujuan pembelajaran agar siswa dapat menunjukkan Kota Banjarmasin, tentu kegiatannya tidak cocok kalau disuruh membaca dalam hati, dan begitu seterusnya.

  1. Interaksi belajar-mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus.

Dalam hal ini materi harus didesain sedemikian rupa sehingga cocok untuk mencapai tujuan. Sudah barang tentu dalam hal ini perlu memperhatikan komponenkomponen yang lain, apalagi komponen anak didik yang merupakan sentral. Materi harus sudah didesain dan disiapkan sebelum berlangsungnya interaksi belajar-mengajar.

  1. Ditandai dengan adanya aktivitas siswa.

Sebagai konsekuensi bahwa siswa merupakan sentral, maka aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajarmengajar. Aktivitas siswa dalam hal ini, baik secara fisik maupun secara mental aktif. Inilah yang sesuai dengan konsep KTSP. Jadi tidak ada gunanya guru melakukan kegiatan interaksi belajar-mengajar, kalau siswa hanya pasif saja. Sebab para siswalah yang belajar, maka merekalah yang harus melakukannya.

  1. Dalam interaksi belajar-mengajar, guru berperan sebagai pembimbing.

Dalam peranannya sebagai pembimbing ini guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Guru harus siap sebagai mediator dalam segala situasi proses belajar-mengajar, sehingga guru akan merupakan tokoh yang akan dilihat dan akan ditiru tingkah lakunya oleh anak didik. Guru (“akan lebih baik bersama siswa”) sebagai designer akan memimpin terjadinya interaksi belajar-mengajar.

  1. Di dalam interaksi belajar-mengajar membutuhkan disiplin.

Disiplin dalam interaksi belajar-mengajar ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh semua pihak dengan secara sadar, baik pihak guru maupun pihak siswa. Mekanisme konkrit dari ketaatan pada ketentuan atau tata tertib ini akan terlihat dari pelaksanaan prosedur. Jagi langkah-langkah yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang sudah digariskan. Penyimpangan dari prosedur, berarti suatu indikator pelanggaran disiplin.

  1. Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu

dalam sistem berkelas (kelompok siswa), batas waktu menjadi salah-satu ciri yang tidak bisa ditinggalkan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu harus sudah tercapai.

  1. PERAN GURU SEBAGAI ORANG TUA

Peran guru sebagai orang tua dilakukan di lingkungan sekolah lebih bersifat hubungan emosional dan penyeteraan perasaan guru dan siswa. Siswa akan merasa aman dan nyaman di lingkungan sekolah. Interaksi lebih berdasarkan kasih sayang dan saling pengertian oleh karenanya keterbukaan siswa dalam hal permasalahan pribadi maupun masalah yang berhubungan dengan pembelajaran dapat terungkap. Dalam hal ini guru harus tahu betul karakteristik siswa untuk menentukan sikap yang berkaitan dengan kebijakan pembelajaran.

Hal yang harus diperhatikan guru berkenaan dengan karakteristik siswa antara lain :

  1. Setiap siswa memiliki pengalaman dan potensi belajar yang berbeda.
  2. Setiap siswa memiliki tendensi untukmenentukan kehidupanya sendiri.
  3. Siswa lebih memberikan perhatian pada hal-hal menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannya.
  4. Siswa lebih menyenangi hal-hal yang bersifat kongkrit dan praktis.
  5. Siswa lebih suka menerima saran-saran daripada diceramahi.
  6. Siswa lebih menyukai pemberian penghargaan (reward) dari pada hukuman (punishment )

Jika dalam menyelesaikan masalah siswa baik dalam proses pembelajaran maupun masalah individual siswa dirasakan kurang optimal hasilnya maka guru bisa menggunakan pendekatannya sebagai teman. Peran guru sebagai teman bisa dilakukan di lingkungan sekolah maupun luar lingkungan sekolah. Dalam peran ini guru akan mudah memasukkan nilai-nilai hidup maupun pranata-pranata sekolah dalam menangani permasalahan siswa.

  1. PERAN GURU SEBAGAI TEMAN

Dalam berperan sebagai orang tua dan sebagai sahabat seorang guru dalam proses pembelajaran dan berinteraksi harus memperhatikan hal-hal dibawah ini:

  1. Mendengarkan dan tidak mendominasi.

Karena siswa merupakan pelaku utama dalam pembelajaran, maka guru harus memberi kesempatan agar siswa dapat aktif. Upaya pengalihan peran dari fasilitator kepada siswa bisa dilakukan sedikit demi sedikit.

  1. Bersikap sabar.

Aspek utama pembelajaran adalah proses belajar yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. Jika guru kurang sabar melihat proses yang kurang lancar lalu mengambil alih proses itu, maka hal ini sama dengan guru telah merampas kesempatan belajar siswa.

  1. Menghargai dan rendah hati.

berupaya menghargai siswa dengan menunjukan minat yang sungguh-sungguh pada pengetahuan dan pengalaman mereka

  1. Mau belajar.

Seorang guru tidak akan dapat bekerja sama dengan siswa apabila dia tidak ingin memahami atau belajar tentang mereka.

  1. Bersikap sederajat.

Guru perlu mengembangkan sikap kesederajatan agar bisa diterima sebagai teman atau mitra kerja oleh siswanya

  1. Bersikap akrab dan melebur.

Hubungan dengan siswa sebaiknya dilakukan dalam suasana akrab, santai, bersifat dari hati ke hati (interpersonal realtionship), sehingga siswa tidak merasa kaku dan sungkan dalam berhubungan dengan guru.

  1. Tidak berusaha menceramahi.

Siswa memiliki pengalaman, pendirian, dan keyakinan tersendiri. Oleh karena itu, guru tidak perlu menunjukkan diri sebagai orang yang serba tahu, tetapi berusaha untuk saling berbagai pengalaman dengan siswanya, sehingga diperoleh pemahaman yang kaya diantara keduanya.

  1. Berwibawa.

Meskipun pembelajaran harus berlangsung dalam suasana yang akrab dan santai, seorang fasilitator sebaiknya tetap dapat menunjukan kesungguhan di dalam bekerja dengan siswanya, sehingga siswa akan tetap menghargainya.

  1. Tidak memihak dan mengkritik.

Di tengah kelompok siswa seringkali terjadi pertentangan pendapat. Dalam hal ini, diupayakan guru bersikap netral dan berusaha memfasilitasi komunikasi di antara pihak-pihak yang berbeda pendapat, untuk mencari kesepakatan dan jalan keluarnya.

  1. Bersikap terbuka.

Biasanya siswa akan lebih terbuka apabila telah tumbuh kepercayaan kepada guru yang bersangkutan. Oleh karena itu, guru juga jangan segan untuk berterus terang bila merasa kurang mengetahui sesuatu, agar siswa memahami bahwa semua orang selalu masih perlu belajar

  1. Bersikap positif.

Guru mengajak siswa untuk mamahami keadaan dirinya dengan menonjolkan potensi-potensi yang ada, bukan sebaliknya mengeluhkan keburukan-keburukannya. Perlu diingat, potensi terbesar setiap siswa adalah kemauan dari manusianya sendiri untuk merubah keadaan

http://sihalohoarzainal.blogspot.com/2011/04/interaksi-guru-dalam-proses-belajar.html

2 thoughts on “MAKALAH MENGENAL POLA INTERAKSI DI KELAS DALAM AGAMA ISLAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s