MAKALAH SEKOLAH SEBAGAI SUATU SITEM STRUKTUR ORGANISASI / BIROKRASI

PEMBAHASAN

MEMAHAMI SEKOLAH SEBAGAI SUATU SITEM STRUKTUR ORGANISASI / BIROKRASI

  1. A.            SEKOLAH SEBGAI ORGANISAI

Secara etimologi sekolah adalah sistu tempat atau lembagauntuk memberi pelajaran atau pembelajaran serta pengajaran sesuatu dengan starta masing-masing sebagai usaha untuk mendewasakan manusia dan memanusiakan manusia (Tri Ratna ; 2004).

Sekolah memegang peranan penting terhadap hidup dan kehidupan manusia sebab pengaryhnya snagt besar sekali pada jiwa anak serta peserta didik. Sekolah juga mempunyai fungsi sebagai pusat pendidikan untuyk membentuk pribadi anak. Dengan sekolah juga banyak himpunan, golongan bahkan juga pergerakan mendidik kadernya masing-masing untuk meneruskan perjuangan cita – cita masing – masing daripadanya.

Bentuk Sekolah Sebagai Suatu Modal dari Masyarakat

Pada prinsipnya Jhon Dewey menerangkan bahwa sekolah sebagai suatu modal dari masyarakat yang aktivitasnya terletak pada peserta didik. Jadi, peserta didik beraktivitas terhadap sekolahnya , mereka belajar agar supaya dapat hidup sebagai seorang manusia yang cakap dan baik dalam kehidupan bermasyarakat.

Type Sekolah Masyarakat

Pada dasarnya, sekolah menjadi jembatan antara seseorang individu dengan masyarakat yang hubungannya sangat erat. Selain sebagai pelaksanaan agar masyarakat menjadi baik, serta menjadikan peserta didik menjadi aktiv dalam bagian kehidupan masyarakat tersebut. Dari hal ini ada sebuah anggapan bahwa masyarakat adalah sebagai dasar dari pendidik dan peserta didik dan ada kecenderungan berfikir bahwa keseluruan masyarakat adalah sebagai Educatif Agent (masyarakat sebaga pendidik).

Di Indonesi type ini sudah muncul sejak awal kemerdekaan yaitu pada 1945 dengan sifat – sifat sebagai berikut :

  1. Sekolah ini mengajarkan anak-anak untuk mendapatkan, memperkembangkan dan menggunakan sumber-sumber dari kedaan setempat.
  2. Sekolah ini melayani keseluruhan masyarakat, tidak hanya untuk kelompok anak-anak saja.

Konsep sekolah masyarakat didasarkan bhwa pendidikan selalu merupakan pola-pola penduduk untuk kehidupan di dalam bagian masyarakat dengan penyiapan anak-anak untuk hidup di dalam cara-cara yang lebih baik daripada sejarah mereka.

Selain type sekolah masyarakat, ada juga type seolah tradisonal, type sekolah pembangunan yang mempunyai perbedaan masing-masing.

Fungsional Sekolah Sebagai Sebuah Organisasi

Membahas masalah sekolah sebagai lembaga pendidikan formal perlu diketahui dikatakan formal karena diadakan disekolah / ditempat tertentu seperti pada pembahasan awal tadi secara sistimatis, mempunyai jenjang dan dalam kurun waktu tertentu, serta berlangsung mulai dari TK sampai ke PT, berdasarkan aturan resmi yang telah ditetapkan.

Pada umumnya lembaga formal adalah tempat yang paling mungkin bagi seseorang untuk meningkatkan pengetahuan, dan paling mudah untuk membina generasi muda yang dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat.

Sekolah merupakan lembaga dengan organsasi yang tersusun rapih dan segala aktivitasnya direncanakan dengan sengaja yang disebut dengan istilah kurikulum.

Adapun fungsinya adalah sebagai berikut :

  1. membantu lingkungan keluarga untuk mendidik dan mengajar, memperbaikidan memperdalam/memperluas, tingkah laku anak/peserta didik yang dibawa dari keluarga serta membantu pengembangan bakat serta pendewasaan sikap.
  2. Mengembangkan kepribadian peserta didik lewat kurikulum agar :
    1. peserta didik dapat bergaul dengan guru, karyawan, dengan temannya sendiri dan masyarakat sekitar.
    2. Peserta didik beljar ta’at kepada peraturan/tahu disiplin.
    3. Mempersiapkan peserta didik terjun di masyarakat berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Sekolah  juga memberia pembelajaran bagaimana mereka melakukan pembiasaan akan sikap kedewasaan sebagai bekal bagi mereka sebagai modal harapan masyarakat kelak. Mereka juga dibiasakan untuk hidup dlam suatu yang semestinya berjalan secara sistematis dan prosedural bukan amburadul tidak karuan serta mengesampingkan tugas inti dia sebagai insan akademis tetapi tidak menampik tugas lain juga sebagai seorang reformis atau aktivis.

Birokrasi Pendidikan

Apabila sekelompok orang berkumpul untuk mencapai suatu sasaran umum, maka sesuatu bentuk organisasi social sangat diperlukan. Bermacam-macam aktor dalam pencarian umum ini memainkan peran yang berbeda-beda. Kita menunjuk kepda berbvagai keterkaitan antara peran-peran ini sebagai sebuah struktur. Berbagai organisasi dapat berjangka dari yang sangat sederhana hingga yang paing kompleks. Semuany mempunyai sifat-sifat yang khas yaitu suatu pemberian tugas dan lainnya. Ketika struktur itu menjadi lebih kompleks, maka orang-orang akan semakain menjadi saling ketergantungan natara satu dengan yang lainnya maka struktur tersebut akan menjadi sebuah  jurusan organisasi atau yang lebih telah menjadi suatu oraganisasi yang formal. Unsur organisasi tersebut dimaksudkan mengatur dan membuat sesuatu yang dapat diramal mengenai berbagai interaksi manusia yang terlibat  di dalamnya, jika tidak maka akan terjadi suatu ketidakberesan, ketidak tentuan bahkan akan terjadi kekacauan.

Organisasi yang kompleks mempunyai berbagai jenis rangkaian-rangkaian sasran, dan kita dapat menganggap organisasi itu sebagai jumlah keseluruhan dari makna-makan yang diterapkan oleh sejumlah anggotanya masing masing.

Adalah sasaran-sasarn dari organisasi yang sebagian besar menentuan makna struktur itu. Gordon (1975) menyebut lima jenis sasaran organisasi. Kita harus mengerti maknanya jika kita ingin mengertinya dengan baik apa sebenarnya organisasi persekolahan yang kompleks tersebut.

Pertama, sasaran formal. Biasanya inilah yang sering disebut sebagai tujuan umum dan diuraikan bahkan ditulis, sama halnya seperti sebuah konstitusi yang dibentuk melalui pengesahan badan perundang – undangan dan seringkali memberikan batas-batas hokum pada organisasi tersebut. Kedua, sasaran informal. Merupakan interpretasi dan modifikasi sasaran formal oleh mereka yang sudah terlinat langsung, dengan memberikan suatu interpretasi kolektif mengenai apa tujuan dan struktur yang dilakukannya. Ketiga, sasaran pribadiyang dianut oleh ndividu-individu didalam organsasi. Hal ini menyangkut tujuan untuk dirinya  sendiri. Keempat, sasaran ideologis, seperti tersirat dalam istilah itu, terletak di dalam suatu system eksternal atau istem nilai yang luas. Pada gilirannya maka hal-hal ini dapat mempengaruhi suatu organisasi secara luas. Kelima, sasaran lembam, tak berdaya. Hal ini hanya menunjuk pada kecenderungan suatu organisasi untuk mengekalkan diri, walau sasaran yang remi telah tercapai. Sulitlah menilai sasaran ini sehubungan dengna keseluruhan anggota lembaga persekolahan. Lebih mudah memandangnya dari segi presfektifnya atau bagaian sub unitnya.

Birokrasi merupakan bentuk tertinggi organisasi yang kompleks. Struktur-struktur birokrasi sering dipandang dengan suatu unsure ketidakpuasan, pun adakalanya dengan rasa curiga. Baiklah untuk diingat bahwa berbagai jenis birokrasi merupakan organisasi-organisasi yang paling mangkus yang pernah berkembang, dan sering kali sifat-sifat khas yang membuatnya tidak disukai oleh lainnya adalah yang sama yang membuatnya mangkus bagi mereka yang menjalankannya. Birokrasi adalah sejenis organisasi formal yang dmaksudkan mencapai tugas-tugas administrative berskala luas dengan secara sistematis mengkoordinasi pekerjaan dari banyak individu.

Max Weber merupakan pionir besar dalam mempelajari hal birokrasi, dan analisis modern hanya merupakan kehalusan dari pengetahuan yang diberiakannya. Mengikuti analisisnya, maka ada beberapa daftar sifat-sifat khas dai birokrasi tersebut antara lain :

  1. Terdapat suatu bagaian terspesialisasi dari pekerjaan dalam mana kegiatan-kegiatan teratur yang diperlukan untuk mencapai sasaran-sasaran disebarkan dengan cara-cara yang sudah ditentukan.
  2. Jabatan-jabatan disusun melalui hirarki.
  3. Operasi-operasi distandarisasi.
  4. Pera pegawai harus melakukan jabatan-jabatannya secara impersonal, dengan rasa ketaatan tinggi terhadap lembaga daripada terhadap individu.
  5. Jabatan adalah berdasarkan kualifikasi teknis yang terkait pada kecakapan, kompetensi.
  6. Suatu organisasi birokrasi adalah sanggup mencapai bentuk kemangkusan dari siatu prespektif teknis.

PENUTUPAN

Sekolah sebagai oraganisasi formal mempunyai aspek utama yaitu penyusunan tahap persekolahan dan penyusunan manajeman persekolahan yang terbentuk dalam satu buah birokrasi pendidikan. Kedua aspek tersebutdapat kita ketahui sebuah kerangka kerka untuk sebuah pengertian organisasi pendidikan serta efek – efek yang terdapat terhadap persekolahan tersebut.

Sebagaimana telah kita bahas bahwa sekolah adalah lembaga dengan organsasi yang tersusun rapih dan segala aktivitasnya direncanakan dengan sengaja yang disebut dengan istilah kurikulum.

Dengan alasan inilah kekompekan sebuah organisasi sekolah perlu berbentuk birokrasi agar dapat berjalan sesuai denga tujuannya dan sampai usahanya.

  1. B.            SEKOLAH SEBAGAI SISTEM SOSIAL
    1. Sekolah

Kata sekolah berasal dari bahasa Latin, yakni skole, scolae atau skhola yang memiliki arti waktu luang atau waktu senggang, dimana waktu itu sekolah adalah kegiatan diwaktu luang bagi anak-anak ditengah kegiatan utama mereka yakni bermain dan menghabiskan waktu menikmati masa kanak-kanak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang adalah berhitung, mempelajari cara membaca huruf, mengenal etika/budi pekerti dan estetika/seni

(http://id.Wikipedia.org/wiki/sekolah).

Kini, kata sekolah dikatakan Sunarto (1993) dalam Abdullah Idi telah berubah berupa bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran. Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa (murid) dibawah pengawasan pendidik (guru) dalam upaya menciptakan anak didik (murid) agar dapat mengalami kemajuan setelah melalui proses melalui pembelajaran. Edzioni (1964) dalam Robinson mengemukakan bahwa Sekolah telah “dengan sengaja diciptakan” dalam arti bahwa pada saat tertentu telah diambil sebuah keputusan untuk mendirikan sebuah sekolah guna memudahkan pengajaran yang sangat beraneka ragam. Sekolah juga dibentuk kembali dalam arti bahwa setiap hari orang-orang berhubungan dalam konteks sekolah; ada yang mengajar, ada yang bersusah-payah untuk belajar, dan ada lagi yang membersihkan ruangan, menyediakan makanan dan melakukan berbagai kegiatan sekolah.

Nama-nama sekolah bervariasi, tetapi pada umumnya sekolah dasar untuk anak-anak dan sekolah menengah untuk remaja yang telah menyelesaikan pendidikan dasar, perguruan tinggi untuk orang dewasa yang telah menyelesaikan sekolah menengah. Sekolah juga kadang didedikasikan untuk satu bidang tertentu seperti sekolah ekonomi, sekolah teknik dan sekolah pariwisata.

Selain sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah, ada pula sekolah non pemerintah yang disebut sekolah swasta (private schools). Sekolah swasta merupakan partner pemerintah dalam menyediakan kebutuhan sekolah bagi penduduknya. Sekolah swasta mungkin untuk anak-anak berkebutuhan khusus, seperti sekolah keagamaan, atau sekolah khusus lainnya yang memiliki standar lebih tinggi dalam mempersiapkan prestasi pribadi anak didik(murid) seperti

  1. Sekolah Luar Biasa (SLB).

Sekolah sebagai Organisasi Pendidikan Formal

  1. Pengertian Organisasi Formal

Organisasi adalah aktivitas dalam membagi-bagi kerja, menggolong-golongkan jenis pekerjaan, memberi wewenang, menetapkan saluran perintah dan tanggung jawab. Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya, sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

Beberapa ahli mengemukakan pengertian tentang organisasi. Victor A. Thompson, 1969 dalam Karsidi menyatakan bahwa sebuah organisasi adalah integrasi impersonal dan sangat rasional atas sejumlah spesialis yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. Chester I. Barnard,1970 mendefinisikan organisasi sebagai sebuah sistem yang memaksakan koordinasi kerja antara dua orang atau lebih. E. Wright Bakke,1967 mengatakan suatu organisasi adalah suatu sistem yang berkelanjutan atas kegiatan manusia yang bermacam-macam dan terkoordinasi berupa pemanfaatan, perubahan dan penyatuan segenap sumber-sumber manusia, materi dan modal, gagasan dan sumber alam untuk memenuhi suatu kebutuhan manusia tertentu dalam interaksinya dengan sistem-sistem kegiatan manusia dan sumber-sumbernya yang lain, dalam suatu lingkungan tertentu.

Dari beberapa pengertian tersebut diatas, dapat kita tarik kesamaan teoritis mengenai 0rganisasi, yaitu:

1)       Mempunyai tujuan tertentu dan merupakan kumpulan berbagai macam manusia;

2)       Mempunyai hubungan sekunder (impersonal);

3)       Mempunyai tujuan khusus dan terbatas;

4)       Mempunyai kegiatan kerja sama pendukung;

5)       Terintegrasi dalam sistem sosial yang lebih luas;

6)       Menghasilkan barang atau jasa untuk lingkungan, dan

7)       Sangat terpengaruh dengan setiap perubahan lingkungan.

Sebuah organisasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1)       Rumusan batas-batas operasionalnya (organisasi) jelas

2)       Memiliki identitas yang jelas

3)       Keanggotaan formal, status dan peran http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/arti-penting-organisasi-sosial

Jelaslah, bahwa dari pengertian dan ciri-ciri di atas akan mudah membedakan mana yang dikatakan organisasi dan mana yang bukan sebuah organisasi.

  1. Sekolah Sebagai Organisasi

Sekolah sebagai sebuah organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, bak yang berbadan hukum maupun tidak berbadan hukum dan berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai mahluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat dicapai sendiri. Pada masyarakat modern kehidupan manusia tidak pernah lepas dari pergulatan aktivitasnya dengan organisasi. Tiap anggota menjalankan peran berbeda dan di antara berbagai peran tersebut menumbuhkan rasa saling ketergantungan. Dalam hal pendidikan masyarakat membutuhkan organisasi sekolah, universitas maupun institusi departemen yang mengelola sistem pendidikan negara untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan. Oleh karena itu, keberadaan sekolah sebagai salah satu institusi pendidikan formal merupakan keniscayaan peradaban modern yang lekat dengan renik-renik pergulatan ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi.

Dari wujudnya, sekolah merupakan organisasi yang memiliki komponen-komponennya dan memenuhi persyaratan sebagai sebuah organisasi formal.Beberapa kriteria organisasi yang diuraikan di bagian atas dapat kita lihat manifestasi spesifik dalam lembaga sekolah.

1)       Sekolah memiliki tujuan kelembagaan yang jelas ,

2)       Sekolah memiliki keanggotaan yang formal dimana status dan peran anggotanya diatur dalam batas-batas operasional yang jelas

3)       Sekolah memiliki pola jaringan kerja dari sejumlah posisi yang saling berkaitan dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

Keberadaan sekolah patut dimasukkan sebagai salah satu organisasi yang memanfaatkan mekanisme birokratis dalam mengelola beragam kerja institusinya. Sebagai organisasi, sekolahpun memanfaatkan prinsip-prinsip birokrasi dalam melayani kerja dan agenda-agenda aktivitasnya.

Weber dalam Robinson (1986) mengidentifikasi enam prinsip birokrasi, yakni :

1)       Aturan dan prosedur yang tetap dengan mana birokrat menyelesaikan tugasnya.

2)       Hierarki jabatan yang dikaitkan dengan struktur pimpinan.

3)       Arsip yang mendokumentasikan tindakan yang diambil.

4)       Pendidikan khusus bagi berbagai fungsi dalam birokrasi.

5)       Struktur karir yang dapat diidentifikasikan.

6)       Metode-metode yang tidak bersifat pribadi dalam berurusan dengan pegawai dank lien dalam birokrasi.

Keenam prisip tersebut diatas dapat kita jumpai dalam organisasi sekolah , walaupun sekolah memang tidak menggunakan semua prinsip Weber diatas secara ketat dan linier. Bidwell dalam Robinson (1986) berpendapat bahwa sekolah memiliki ciri ”struktur yang longgar”. Hal tersebut dapat diartikan bahwa tiap pendidik mempunyai kebebasan tertentu untuk menentukan bagaimana dapat mengajar di kelas, walaupun perangkat materialnya telah ditentukan oleh kurikulum diatasnya. Dalam hal ini secara spesifik sekolah sebagai organisasi memiliki penekanan dan kekhasan sendiri dalam aplikasi sebagai prinsip yang relevan seperti yang diungkapkan Weber.

Menurut Reinhard Bendix, 1960 dalam Robinson (1986) organisasi birokrasi mengandung sejumlah prinsip yaitu sebagai berikut.

1)       Urusan kedinasan dilaksanakan secara berkesinambungan;

2)       Urusan kedinasan didasarkan pada aturan dalam suatu badan administratif;

3)       Tanggung jawab dan wewenang tiap pejabat merupakan bagian dari suatu hierarki wewenang;

4)       Pejabat dan pegawai administratif tidak memiliki sarana dan prasarana yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas;

5)       Para pemangku jabatan tidak dapat memperjualbelikan jabatan; dan

6)       Urusan kedinasan dilaksanakan dengan menggunakan dokumentasi tertulis.

Beberapa prinsip birokrasi tersebut diterapkan dalam komposisi peran dan tugas pada masing-masing warga di sekolah. Semuanya disusun menjadi satu susunan struktur kepemimpinan birokratis di mana kepala sekolah menempati pucuk pimpinan formal.

Ravik Karsidi (2007) mengungkapkan secara sederhana sekurang-kurangnya ada 4 jenis sasaran organisasi sekolah, di mana akan kita dapatkan pengertian yang cukup lengkap tentang kompleksitas organisasi sekolah.

1)       Sasaran formal.

Ruang lingkup sasaran ini meliputi tujuan formal dari sebuah organisasi. Wujud dari sasaran ini tercantum dalam aturan-aturan tertulis, konstitusi dan segala ketentuan formal yang melandasi orientasi organisasi.

2)       Sasaran informal.

Merupakan interpretasi dan modifikasi sasaran-sasaran formal dari seluruh anggota yang terlibat langsung pada wadah organisasi. Sasaran ini mencakup pula persepsi masing-masing individu dan menjadi tujuan kegiatan pribadi di dalam organisasi.

3)       Sasaran ideologis.

Sasaran ini menyangkut seperangkat sistem eksternal atau sistem nilai yang diyakini bersama. Sasaran ini menyoroti pengaruh interaktif kultur-ideologis yang dianut oleh sebagian besar manusia dalam menangkap, menyikapi dan merespon eksistensi organisasi. Masyarakat kita memiliki semangat yang tinggi untuk meraih prestasi vertikal, sementara sekolah merupakan wadah yang cukup strategis bagi manusia untuk menopang ambisi mobilitas vertikalnya. Maka bisa diasumsikan hampir sebagian besar warga sekolah maupun masyarakat akan mengarahkan keyakinan kultural tersebut dalam memaknai keberadaan sekolah

4)       Sasaran-sasaran lain yang kurang begitu kuat.

Penekanan sasaran ini akan menonjol pada suatu proses aktivitas organisasi yang tengah mempertahankan eksistensinya dalam situasi di luar kondisi biasa. Berkurangnya pendaftaran di sekolah-sekolah dan universitas dapat merubah secara luas peran para guru atau organisasi ruang sekolah, termasuk rasio guru terhadap siswa beserta kelas-kelas yang terspesialisasi. Jika tidak, maka sejumlah besar guru akan terancam menganggur.

Keempat sasaran atau pandangan organisasi tersebut mengisyaratkan suatu pola pandangan yang berbeda dari pandangan umum tentang sekolah. Sebagai organisasi, sekolah bukan sekadar tumpukan peran-peran struktural yang kaku, statis serta jalur-jalur kerja yang serba mekanistis belaka. Mekanisme tersebut mengalami dinamika aktualisasi melalui aneka ragam penafsiran para anggota yang melatarbelakangi perilaku manusia dalam mengemban peran dan status yang berbeda-beda di dalam organisasi sekolah (Karsidi.2007)

  1. Sekolah Sebagai Sistem Sosial

Sebagai suatu sistem, sekolah memiliki beberapa komponen yang terdiri dari : input, raw input, proses, output, dan outcome. Komponen tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena merupakan satu kesatuan yang utuh yang saling terkait, terikat, mempengaruhi, membutuhkan dan menentukan. Perubahan satu komponen saja akan berpengaruh terhadap komponen-komponen lainnya.

Input sekolah adalah segala masukan yang dibutuhkan sekolah untuk terjadinya pemprosesan guna mendapatkan output yang diharapkan. Input merupakan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat suatu generasi yang disebut sebagai manusia seutuhnya. Input sekolah antara lain manusia (man), uang (money), material/bahan-bahan (materials), metode-metode (methods), dan mesin-mesin (mechine).

Manusia yang dibutuhkan sebagai masukan bagi proses pendidikan adalah siswa sebagai bahan utama atau bahan mentah (raw input). Untuk menghasilkan manusia seutuhnya diperlukan input manusia yang memiliki potensi untuk dididik, dilatih, dibimbing, dan dikembangkan menjadi manusia seutuhnya. Input dapat dikategorikan menjadi dua yaitu input sumberdaya, dan input manajemen atau kepemimpinan. Input sumber daya meliputi sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya (kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya). Sedangkan sumber daya lainnya meliputi uang, peralatan, perlengkapan, bahan, bangunan, dan lain sebagainya. Sedangkan input manajemen adalah input potensial bagi pembentukan sistem yang efektif dan efisien.

Komponen masukan (raw input), adalah kualitas siswa yang akan mengikuti proses pendidikan. Kualitas tersebut dapat berupa potensi kecerdasan, bakat, minat belajar, kepribadian siswa, dan sebagainya.

Menurut Komariah & Triatna, 2005:5, proses penyelenggaraan sekolah adalah kiat manajemen sekolah dalam mengelola masukan-masukan agar tercapai tujuan yang telah ditetapkan (output sekolah). Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input, sedangkan sesuatu dari hasil proses disebut output. Proses berlangsungnya sekolah pada intinya adalah berlangsungnya pembelajaran, yaitu terjadinya interaksi antara siswa dengan guru yang didukung oleh perangkat lain sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Sekolah sebagai suatu sistem, seharusnya menghasilkan output yang dapat dijamin kepastiannya. Output dari aktivitas sekolah adalah segala sesuatu yang kita pelajari di sekolah, yaitu seberapa banyak yang dipelajari dan seberapa baik kita mempelajarinya. Apa yang kita pelajari bisa berupa pengetahuan kognitif, ketrampilan dan sikap-sikap. Output sekolah yaitu berupa kelulisan siswa. Output sekolah berfokus pada siswa, tetapi siswa yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan.

Jika ditinjau dari sudut lulusan, output sekolah adalah lulusan yang berguna bagi kehidupan, yaitu lulusan yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungannya. Artinya, lulusan semacam ini mencakup outcome, hasil dari investasi pendidikan yang selama ini dijalani siswa untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat. Outcome pada pendidikan dasar dan menengah adalah siswa dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan jika ia tidak melanjutkan maka dalam kehidupannya dapat mencari nafkah dengan bekerja kepada orang lain atau mandiri, hidup layak, dapat bersosialisasi, dan bermasyarakat.

Komariah & Triatna (2004:75) menyebutkan sekolah efektif sebagai sekolah yang menetapkan keberhasilan pada input, proses, output dan outcome yang ditandai dengan berkualitasnya komponen-komponen sistem tersebut.

Salah satu konsep perbaikan input, proses, dan output adalah TQM (Total Quality Manajemen). TQM diartikan sebagai manajemen kualitas secara total dimana merupakan suatu pendekatan yang sistematis, praktis, dan strategis bagi penyelenggaraan pendidikan yang mengutamakan kepuasan pelanggan yang bertujuan meningkatkan mutu (Sallis, 1993:35 dalam Komariah & Triatna, 2004:29)

Lebih dari itu, sekolah merupakan suatu sistem sosial yang di dalamnya terdapat seperangkat hubungan mapan, interaksi, konfrontasi, konflik, akomodasi, maupun integrasi yang menentukan dinamika para warganya di sekolah. Oleh sebab itu, di dalam sekolah akan selalu mengandung unsur-unsur dan proses-proses sosial yang kompleks seperti halnya dinamika sosial masyarakat umum.

Beberapa unsur tersebut memproduk konsep-konsep sosial di dalam sekolah yaitu :

1)         Kedudukan dalam Sekolah

Sekolah, seperti sistem sosial lainnya dapat dipelajari berdasarkan kedudukan anggota dalam lingkungannya. Setiap orang di dalam sekolah memiliki persepsi dan ekspektasi sosial terhadap kedudukan atau status yang melekat pada diri warga sekolah. Disana kita memiliki pandangan tentang kedudukan kepala sekolah, guru-guru, staf administrasi, pesuruh, murid-murid serta asumsi-asumsi hubungan ideal antarbermacam kedudukan tersebut. Hal ini selaras dengan pendapat Weber (dalam Robinson, 1986)

a)          Kedudukan berdasarkan jenis kelamin

b)         Kedudukan berdasarkan struktur formal di lembaga,

c)          Kedudukan berdasarkan usia.

d)         Kedudukan berdasarkan lahan garap di sekolah.

2)         Interaksi di Sekolah

3)         Klik Antar Siswa

Klik-klik yang muncul di sekolah beragam wujudnya, tergantung pada perbedaan murid. Ada kemungkinan terbentuknya kelompok berdasarkan kesukuan dari kalangan siswa satu daerah atau karena mereka merupakan mioritas. Ada kelompok “elite” yang terdiri atas anak-anak orang kaya atau menunjukkan prestasi akademis tinggi dan kepribadian tinggi. Adapula kelompok rendahan, yang berasal dari keluarga tidak berpendidikan.

  1. C.            BIROKRASI PENDIDIKAN DITINJAU DARI PERSPEKTIF ONTOLOGI

Hampir sepuluh tahun setelah Indonesia memasuki era “reformasi” (pascakepemimpinan Soeharto), negara ini tetap belum mampu membangun sebuah tata kelola pemerintahan yang baik, yang menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya dan mampu meredam ambisi pribadi para pengelolanya.

Kekuatan birokrasi Indonesia sebetulnya bisa menjadi mesin penggerak yang luar biasa apabila mampu didayagunakan untuk memajukan kesejahteraan rakyat. Namun, yang saat ini terjadi justru sebaliknya. Birokrasi Indonesia-sebut saja sekitar 3,6 juta pegawai negeri di luar polisi dan militer-justru menjadi beban negara. Sampai-sampai pemerintah sempat mengeluarkan kebijakan zero growth untuk mengurangi kemubaziran tenaga pemerintah di instansi-instansi sipil.

Mengapa birokrasi kita tak mampu menjadi sebuah kekuatan pengubah? Bisa jadi karena pemerintah memang tak memiliki visi kepemimpinan maupun grand design untuk melakukan reformasi. Belum lagi struktur kepegawaian sipil di Indonesia begitu “gemuk”. Terdiri dari lima eselon (tertinggi eselon 1), empat golongan (tertinggi golongan IV), Begitu juga birokrasi dalam pendidikan belum mampu memberikan konstribusi yang berarti bagi peningkatan mutu pendidikan. Dalam tulisan ini ingin dikaji tentang hakikat birokrasi pendidikan (aspek ontologi) yang mungkin bisa mengurai benang kusut birokrasi pendidikan.

Asumsi Dasar

Dalam dunia pendidikan, sebuah organisasi sangat diperlukan dalam rangka memperlancar fungsi dan proses pendidikan. Dalam menjalankan fungsi organisasi pendidikan tidaklah dapat dipisahkan dengan birokrasi. Pada dasarnya, birokrasi ini hakikatnya adalah salah satu perangkat yang fungsinya untuk memudahkan pelayanan publik. Birokrasi digunakan untuk dapat membantu mempermudah dalam memberikan layanan pendidikan yang pasti akan mempengaruhi dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Birokrasi merupakan instrumen pembangunan pendidikan. Kekuatan birokrasi Indonesia sebetulnya bisa menjadi mesin penggerak yang luar biasa apabila mampu didayagunakan untuk memajukan kesejahteraan rakyat. Jika birokrasi dijalankan dengan benar, konsisten dan bertanggungjawab, maka kualitas pendidikan akan maju. Singapura, Hongkong, Malaysia dan Thailand merupakan contoh nyata negara yang menerapkan birokrasi dengan baik, sehingga pendidikan mereka mempunyai kualitas lebih baik dikarenakan birokrasinya yang profesional, tegas dan efisien.

Namun terdapat gejala atau fakta yang menunjukkan bahwa birokrasi tidak mampu memberikan layanan yang baik kepada pelanggan pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari fakta-fakta berikut ini :

  1. Adanya keterlambatan dalam mensosialisasikan tentang perubahan kurikulum.
  2. Menurut laporan banyaknya pungutan liar pada instutusi pendidikan yang bermula dari birokrasi yang salah.
  3. Penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara birokratik-sentralistik;(Husaini Usman, 2002)
  4. Pembayaran tunjangan guru yang lamban dikarenakan rumitnya birokrasi
  5. TV trans7 memberitakan bahwa keterlambatan penerbitan ijazah SD s/d SLTA disinyalir karena birokrasi yang lamban.
  6. Menurut penelitian ditemukan bahwa birokrasi pendidikan ternyata mengidap patologis yang tingkat keparahannya cukup memprihatinkan. Paling tidak dalam penelitian tersebut ditemukan empat jenis penyakit

1)       Rigiditas pelayanan,

2)       Pungutan birokrasi,

3)       Formalitas aktivitas birokrasi, dan

4)       Sikap instruktif aparat. (Sugeng Bayu Wahyono (1997:11-12)

  1. Jajak pendapat Kompas 16-17 Maret 2005 menyimpulkan bahwa mentalitas birokrasi yang dilumuri KKN rupanya masih melekat dimata publik setiap kali berhadapan dengan aparatur pemerintah dan cara kerja mereka yang lambat dan berbelit-belit serta berbiaya tinggi. Anggapan negatif menemukan aktualisasinya pada keefektifan dan ketidakefienan mereka dalam melayani masyarakat. (Kompas g,2005:50)

Pengertian Birokrasi

Birokrasi berasal dari bahasa Prancis “bureau” yang berarti meja. Pengertian meja ini berkembang menjadi kekuasaan yang diwenangkan kepada meja kantor. Dalam kamus bahasa Indonesia, birokrasi mempunyai 3 (tiga) arti (1) pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai bayaran yang tidak dipilih oleh rakyat (2) cara pemerintahan yang dikuasai oleh pegawai negeri (3) cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lambat (WJS. Purwadaminta, 2007:164)

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa birokrasi selalu identik dengan pegawai negeri yang kerjanya lamban, bertele-tele dan berliku-liku dalam memberikan layanan.

Sementara itu birokrasi menurut Weber memiliki 6 pokok:

  1. Dalam organisasi ada pembagian tugas dan spesialisasi
  2. Hubungan dalam organisasi bersifat impersonal
  3. Dalam organisasi ada hiearki wewenang, dimana yang rendah patuh kepada perintah yang lebih tinggi.
  4. Administrasi selalu dilaksananakan dengan dokumen tertulis.
  5. Orientasi pengembangan pegawai adalah pengembangan karir yang berarti keahlian merupakan ktiteria utama yang diterima atau ditolaknya seseorang sebagai suatu organisasi dan berlaku pula untuk mempromosikannnya.
  6. Untuk mendapatkan efisiensi maksimal, setiap tindakan yang diambil harus selalu dikaitkan dengan besarnya sumbangan terhadap pencapaian tujuan organisasi,

Selanjutnya dari enam pokok tersebut diatas, Weber membagi birokrasi dalam 2 tipe;

  1. Organisasi karismatik, organisasi yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki pengaruh pribadi yang sangat besar bagi anggotanya.
  2. Organisasi tradisional, organisasi yang pemimpinnya diangkat berdasarkan warisan.

Dalam mengambil keputusan, Weber berpendapat bahwa keputusan yang diambil harus menghindari penggunaan emosi dan perasaan suka atau tidak suka. Birokrasi menurutnya adalah usaha untuk menghilangkan tradisi organisasi yang membuat keputusan secara emosional atau berdasarkan ikatan kekeluargaan yang dapat menyebabkan organisasi tidak efektif dan efisien serta tidak sehat. Dilihat dari berbagai teori tentang birokrasi yang dikemukakan Weber, dapat diambil kesimpulan bahwa kelebihan birokrasi Weber antara lain :

  1. Cocok dengan budaya Indonesia yang paternalistic
  2. Dapat menstabilkan kesatuan dan persatuan bangsa
  3. Ketepatan, kejelasan, kontinuitas, keseragaman memudahkan kontrol dan kepatuhan pegawai.

Namun dibalik kelebihan tersebut diatas terdapat pula kelemahan dari birokrasi Weber

  1. Merangsang berpikir mengutamakan konformitas
  2. Merupakan rutinitas yang membosankan
  3. Ide-ide inovatif tidak sampai kepada pengambilan keputusan karena panjangnya jalur komunikasi
  4. Tidak memperhitungkan organisasi nonformal yang seringkali lebih berpengaruh kepada organisasi formal.
  5. Dijalankan secara berlebihan sehingga terjadi over bureaucratization
  6. Kecendrungan menjadi parkinsonian, yaitu terlalu banyak aturan yang berbelit-belit (simpul-simpul birokrasi) yang diatur oleh orang-orang yang menjadikan simpul-simpul birokrasi untuk menyelewengkan wewenang
  7. Kecendrungan menjadi orwelian, yaitu keinginan birokrasi mencampuri (turut melaksanakan) bukan mengendalikan urusan.

Menurut Husaini birokrasi berkembang secara berlebihan karena :

  1. Lemahnya control
  2. Ambisi berlebihan untuk menambah pemasukan daerah
  3. Adanya unjuk kekuasaan pejabat bahwa dirinya harus diangggap penting, sehingga segala sesuatunya harus melalui persetujuannya
  4. Memang dikondisikan untuk membuka peluang pungutan liar, kolusi, dan korupsi.

Birokrasi Pendidikan

Sebelum masuk pada pengertian birokrasi pendidikan, alangkah baiknya diluas pengertian pendidikan. Pendidikan dalam arti luas adalah segala kegiatan pembelajaran yang berlangsung sepanjang zaman dalam segala situasi kegiatan kehidupan. Pendidikan berlangsung disegala jenis, bentuk dan tingkat lingkungan hidup yang kemudian mendorong pertumbuhan segala potensi yang ada dalam diri individu. Dengan kegiatan pembelajaran seperti itu, individu mampu mengubah dan mengembangkan diri menjadi semakin dewasa, cerdas dan matang. Jadi singkatnya, pendidikan merupakan system proses perubahan menuju pendewasaan, pencerdasan dan pematangan diri. Pada dasarnya pendidikan adalah wajib bagi siapa saja dan kapan saja dan dimana saja, karena menjadi dewasa, cerdas dan matang adalah hak asasi manusia pada umumnya.

Sedangkan dalam arti sempit, pendidikan adalah seluruh kegiatan belajar yang direncanakan, dengan materi terorganisasi, dilaksanakan secara terjadwal dalam system pengawasan dan diberikan evaluasi berdasar pada tujuan yang telah ditentukan. Kegiatan belajar seperti itu dilaksanakan didalam lembaga pendidikan sekolah. Tujuan utamanya adalah pengembangan potensi intelektual dalam bentuk penguasaan bidang ilmu khusus dan kecakapan merakit system tekhnologi.

Dari pendekatan dikotomis antara arti luas dan dan arti sempit, muncul pemikiran alternative. Secara alternative, pelaku pendidikan adalah keluarga, masyarakat, dan sekolah (dibawah otoritas pemerintah) dalam suatu sistem integral yang disebut tripartite pendidikan. Fungsi dan peran tripartit pendidikan adalah menjembatani pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan masyarakat luas. Tujuannya, agar aspirasi pendidikan yang tumbuh dari setiap keluarga dapat dikembangkan didalam kegiatan pendidikan sekolah, untuk kemudian dapat diimplementasikan didalam kehidupan masyarakat luas.

Sementara itu birokrasi pendidikan yang dimaksud disini adalah penggunaan praktik-praktik birokrasi dalam pendidikan. Banyak persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan segera menjadi berlarut-larut karna rumitnya birokrasi contoh kasus tentang usulan perbaikan dan perawatan sarana dan prasarana serta perlengkapan ¬pendidikan yang diajukan oleh sekolah kepada pemerintah bahkan diajuka¬n setiap tahun, namun tidak ada respon dan penyelesaian yang memadai dari birokrasi pemerintah daerah di provinsi dan kabupaten/kota maupun pemerintah pusat. Kondisi objektif ini menunjukkan bahwa sistem sentralistik kebijakan pendidikan, penentuan alokasi anggaran yang selama ini terjadi, meskipun sudah dilakukan kebijakan desentralisasi pemerintahan, bagi sekolah pola sentralistik dari sekolah ke pemerintah ¬daerah masih berjalan.

PP No. 38 tahun 1992 masih berlaku hingga kini, dan dalam PP ¬tersebut tidak dinyatakan bahwa Kantor Departemen Pendidikan maupun Dinas Pendidikan di Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai institusi pendidikan yang diurus atas dasar profesionalisme kependidikan, kemudian persyaratan para pimpinan : pejabatnya juga bukan berlatar belakang tenaga kependidikan.

Hal yang sama dalam Pasal 1 Ayat 10 UUSPN No. 20 tahun 2003 mengatatakan bahwa satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada jenjang dan jenis pendidikaN. ¬Hal ini berarti Dinas Pendidikan di Provinsi dan Kabupaten/Kota merupakan unsur pelaksana Pemerintah Daerah. Oleh karena itu persyaratan pejabat yang ada pada ¬lingkungan Dinas Pendidikan adalah persyaratan pengangkatan jabatan pada Pemerintah Daerah yaitu pengangkatan personal yang menduduki jabatan pada Dinas Pendidikan pada umumnya atas dasar golongan kepangkatan, pendidikan kedinasan eselon jabatan sebelumnya, dan DP3 terakhir bukan atas dasar profesionalitas pendidikan dalam arti berijazah pendidikan dan pengalamannya dalam bidang pengelolaan pendidikan. Pernyataan ini diperjelas oleh PP No. 38 tahun 1992 Pasal 4 Ayat 1 mengatakan hirarki yang diberlakukan untuk tenaga pendidik di masing-masing satuan pendidikan didasarkan atas dasar wewenang dan tanggung jawab dalam kegiatan belajar mengajar, Ayat 2 mengatakan hirarki yang diberlakukan untuk tenaga kependidikan yang bukan tenaga pendidik didasarkan pada pengaturan wewenang dan tanggung jawab dalam bidang pekerjaan masing-masing. Penempatan dan formasi bagi tenaga kependidikan pada pemerintah provinsi dan kabupaten/kota tidak jelas atau kabur.

Sekolah dalam Birokrasi Pemerintah

Rendahnya biaya pendidikan yang disediakan negara pada negara berkembang menjadi alasan klasik rendahnya kemampuan pemerintah mendukung penyelenggaraan pendidikan yang memenuhi kebutuhan sekolah yang sangat mempengaruhi kualitas pendidikan. Hal inilah yang membedakan kualitas pendidikan pada negara berkembang dengan negara maju (Fangerlind, I dan Saha, L. J., 1983). Dunia pendidikan kita telah terpuruk. Pendidikan telah mendapat perhatian yang tinggi dari para birokrasi pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Tetapi perhatian itu hanya berbentuk sloganisme, secara faktual fasilitas dan sarana pendidikan memburuk, kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan rendah yaitu hanya mampu memenuhi kebutuhan dan pangan tetapi tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan anak¬-anaknya dan kesehatan keluarganya. Jika hanya mengandalkan gaji dari guru, fasilitas pembelajaran tidak memadai, penerapan strategi belajar mengajar di kelas tidak memadai (monoton), dan kualitas lulusan seadanya saja tidak mempunyai daya saing yang memadai.

Sebagai implikasinya bagi generasi muda potensial memandang jabatan guru dan tenaga kependidikan adalah lahan kering, tidak memberikan jaminan kesejahteraan. Oleh karena itu generasi yang merasa memiliki kemampuan dan kecerdasan yang memadai tidak memilih jabatan guru atau tenaga kependidikan sebagai pilihan. Hal ini menggambarkan kemerosotan kualitas sumber daya manusia pendidikan yang cukup memprihatinkan. Dewasa ini satuan pendidikan atau sekolah pada semua jenjang dan jenis dihadapkan pada persaingan mutu yang ketat dan manajemen sekolah yang kompleks, sehingga pemahaman yang akurat tentang tujuan serta metode oleh setiap kepala sekolah untuk mencapai tujuan amat vital.

Namun dilihat dari posisi kepala sekolah di hadapan birokrasi pemerintahan seperti birokrasi Dinas Pendidikan di provinsi dan kabupaten/kota, birokrasi ini tidak banyak memberi dorongan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pendekatan yang dilakukan pendekatan birokrasi antara bawahan dan atasan. Berbagai hasil penelitian menunjukkan para birokrat pendidikan pada pemerintah daerah tersebut menempatkan diri sebagai atasan yang dipandang dapat mengambil kebijakan yang mengancam posisi kepala sekolah. Kepala sekolah dapat saja diusulkan oleh kepala dinas kepada bupati/walikota untuk diganti dalam waktu-waktu yang mengejutkan kepala sekolah. Kondisi demikian menjadikan kepala sekolah pada posisi yang gamang, tidak dapat melaksanakan tugas dengan optimal, tidak ada jaminan programnya menjadi perhatian memadai dinas pendidikan maupun pemerintah daerah di mana sekolah itu berada. Birokrasi tersebut cenderung memperlakukan kepala sekolah hanya sebagai unit kerja mereka, bukan dipandang sebagai pemimpin institusi profesional kependidikan yang memiliki otonomi atas dasar profesional tersebut. Perlakuan birokrasi yang demikian ini terhadap kepala sekolah tentu saja berkontribusi positif terhadap rendahnya mutu dan martabai pendidikan, bahkan menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Perilaku birokrat yang sangat mempersempit ruang profesional kepala sekolah dan para guru serta tenaga kependidikan lainnya yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pembelajaran. Meskipun demikian, tentu saja ada birokrat pendidikan dan kepala dinas pendidikan yang visioner dan memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan pendidikan dan juga memperhatikan serta mempertahankan kepala sekolah yang menunjukkan kinerja yang berkualitas. Tetapi kita tidak dapat menunjukkan seberapa banyak birokrat pendidikan dan kepala dinas yang visioner.

Kesimpulan

  1. Pada dasarnya, birokrasi ini hakikatnya adalah salah satu perangkat yang fungsinya untuk memudahkan pelayanan publik. Birokrasi pendidikan diharapkan dapat mempercepat peningkatan mutu pendidikan.
  2. Namun, fakta yang berbicara adalah birokrasi selalu saja hanya sebatas propaganda yang bersifat “melayani”, memudahkan hubungan antarwarga dan hubungan warga dengan negara.Yang sungguh sangat ironis lagi, birokrasi telah menjadi alat kontrol negara serta menjadi mesin penyedot uang bagi negara dan sekelompok oknum di dalamnya, atau dengan kata lain birokrasi justru menjadi “raja zalim” yang harus selalu “diabdi dan dilayani”.
  3. Birokrasi akan berjalan efektif, jika strukturnya ramping. Namun sebaliknya, jika strukturnya gemuk, maka pelayanannya akan semakin lambat, bertele-tele dan tidak profesional.
  4. D.           PROSES SOSIALISASI PESERTA DIDIK DI SEKOLAH
    1. A.            PENGERTIAN SOSIALISASI

Manusia disamping sebagai mahluk individu juga sebagai mahluk sosial yang mana manusia yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan. Sedangkan kalau dilihat dari kaca mata agama manusia memiliki dua sisi hubungan yang sangat mendasar yaitu hubungan secara vertikal dan hubungan secara horisontal. Hubungan vertikal yaitu hubungan manusia dengan sang pencipta, dan hubungan secara horisontal yaitu hubungan manusia dengan manusia atau dengan kata lain sosialisasi.

Sosialisasi merupakan suatu hal yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup antar sesama manusia karena dengan adanya sosialisasi akan membawa manfaat baik bagi manusia itu sendiri maupun bagi lingkungan tempat ia tinggal. Manusia bisa saling mengenal, mengerti, dan memahami satu dengan lainnya sehingga memungkinkan akan terjadi sikap saling toleran, saling menjaga dan melindungi.

Pengertian sosialisasi banyak disampaikan oleh para ahli antara lain yaitu proses sosialisasi adalah proses membimbing individu ke dalam dunia sosial. Menurut pandangan Kimball Young (Gunawan: 2003), sosialisasi ialah hubungan interaktif yang dengannya seseorang mempelajari keperluan-keperluan sosial dan kultural yang menjadikan seseorang sebagai anggota masyarakat. Pendapat dua ahli tersebut sama-sama menyatakan bahwa sosialisasi merupakan proses individu menjadi anggota masyarakat.

Pendapat tentang pengertian sosialisasi juga disampaikan oleh Gunawan (2003) yang menyatakan bahwa sosialisasi dalam arti sempit merupakan proses bayi atau anak menempatkan dirinya dalam cara atau ragam budaya masyarakatnya (tuntutan-tuntutan sosiokultural keluarga dan kelompok-kelompok lainnya). Sedangkan Soekanto (1990:71) menyatakan bahwa sosialisasi mencakup proses yang berkaitan dengan kegiatan individu-individu untuk mempelajari tertib sosial lingkungannya, dan menyerasikan pola interaksi yang terwujud dalam konformitas, nonkonformitas, penghindaran diri, dan konflik. Dari pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa dalam sosialisasi individu belajar menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi adalah proses individu dalam mempelajari keperluan-keperluan sosial dan kultural di sekitarnya yang mengarah ke dunia sosial.

  1. B.            PENGERTIAN PROSES SOSIALISASI

Sosialisasi itu sebagai proses belajar yang membimbing anak ke arah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi proses perlakuan dan bimbingan orangtua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial atau norma-norma kehidupan bermasyarakat. Proses membimbing yang dilakukan oleh orangtua tersebut disebut proses sosialisasi.

Dalam proses sosialisasi, kegiatan-kegiatan yang dicakup adalah sebagai berikut.

  1. Belajar (learning)

Belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman yang lalu. Proses belajar individu berlangsung sepanjang hayat, yaitu belajar dari individu itu lahir sampai ke liang lahat.

Proses sosialisasi individu mempelajari kebiasaan, sikap, idea-idea, pola-pola dan tingkah laku dalam masyarakat di mana dia hidup. Sosialisasi adalah masalah belajar. Dalam proses sosialisasi individu belajar tentang kebudayaan dan keterampilan sosial seperti bahasa, cara berpakaian, cara makan, dan sebagainya. Segala sesuatu yang dipelajari individu mula-mula dipelajari dari orang lain di sekitarnya terutama anggota keluarga. Individu belajar secara sadar dan tak sadar. Secara sadar individu menerima apa yang diajarkan oleh orang di sekitarnya, misal seorang ibu mengajarkan anaknya berbahasa dan bagaimana cara makan yang benar. Secara tidak sadar, individu belajar dari mendapatkan informasi dalam berbagai situasi dengan memperhatikan tingkah laku orang lain, menonton televisi, mendengar percakapan orang lain, dan sebagainya.

  1. Penyesuaian Diri dengan Lingkungan

Penyesuaian diri merupakan kemampuan untuk mengubah diri sesuai dengan lingkungannya atau sebaliknya mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dirinya. Penyesuaian diri individu terbagi dua yaitu penyesuaian diri terhadap lingkungan fisik yang sering disebut dengan istilah adaptasi, dan penyesuaian diri dengan lingkungan sosial yang disebut adjustment. Adaptasi merupakan usaha individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya yang lebih bersifat fisik.Sedangkan adjusment merupakan penyesuaian tingkah laku terhadap lingkungan sosialnya, di mana dalam lingkungan tersebut terdapat aturan-aturan atau norma-norma yang mengatur tingkah laku dalam lingkungan sosial tersebut. Untuk menilai berhasil atau tidaknya proses penyesuaian diri, ada empat kriteria yang harus digunakan yaitu sebagai berikut.

  1. Kepuasan psikis

Penyesuaian diri yang berhasil akan menimbulkan kepuasan psikis, sedangkan yang gagal akan menimbulkan rasa tidak puas.

  1. Efisiensi kerja

Penyesuaian diri yang berhasil akan nampak dalam kerja/kegiatan yang efisien, sedangkan yang gagal akan nampak dalam kerja/kegiatan yang tidak efisien. Misal, murid yang gagal dalam pelajaran di sekolah.

  1. Gejala-gejala fisik

Penyesuaian diri yang gagal akan nampak dalam gejala-gejala fisik seperti: pusing kepala, sakit perut, dan gangguan pencernaan.

  1. Penerimaan sosial

Penyesuaian diri yang berhasil akan menimbulkan reaksi setuju dari masyarakat, sedangkan yang gagal akan mendapatkan reaksi tidak setuju masyarakat.

Proses penyesuaian diri individu khususnya remaja dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu meliputi:

  1. Motif-motif sosial, motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat
  2. Konsep diri, yaitu cara seseorang memandang dirinya sendiri, baik mencakup aspek fisik, psikologis, sosial maupun kepribadian.
  3. Persepsi, yaitu pengamatan dan penilaian seseorang terhadap obyek, peristiwa dan realitas kehidupan, baik itu melalui proses kognisi maupun afeksi untuk membentuk konsep tentang obyek tersebut.
  4. Sikap remaja, yaitu kecenderungan seseorang untuk beraksi kearah hal-hal yang positif atau negatif.
  5. Intelegensi dan minat.
  6. Kepribadian.

Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi proses penyesuaian diri remaja yaitu sebagai berikut.

  1. Keluarga dan pola asuh, meliputi pola demokratis, permisive (kebebasan), dan otoriter.
  2. Kondisi sekolah, yaitu antara kondisi yang sehat dan tidak sehat.
  3. Kelompok sebaya, yaitu merupakan teman sepermainan.
  4. Prasangka sosial, yaitu adanya kecenderungan sebagian masyarakat yang menaruh prasangka terhadap kehidupan remaja.
  5. Faktor hukum dan norma sosial, yang dimaksudkan di sini adalah pelaksanaan tegaknya hukum dan norma-norma dalam masyarakat.

Faktor internal dan eksternal tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Penyesuaian diri dilakukan melalui proses belajar sehingga terjadi kebiasaan.

  1. Pengalaman mental

Pengalaman seseorang akan membentuk suatu sikap pada diri seseorang dimana didahului oleh sikap terbentuknya suatu kebiasaan yang menimbulkan reaksi yang sama terhadap masalah yang sama. Seorang anak yang sejak kecil terbiasa dengan bantuan orang lain untuk setiap pekerjaan yang harusnya dapat dikerjakan sendiri, setelah dewasa nanti dia akan tergantung dengan orang lain.

Perkembangan diri individu dimulai dengan proses sosialisasi, dan proses ini berlangsung terus selama hidup. Proses sosialisasi terbagi menjadi dua periode, yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder. Robinson (1986:58) mengungkapkan bahwa lazimnya ahli-ahli ilmu pegetahuan sosial menamakan periode sosialisasi yang pertama ketika seorang anak untuk pertama kali memperoleh identitasnya sebagai pribadi (person) yang disebut dengan sosialisasi primer (primary socialization).Sedangkan sosialisasi sekunder (secondary socialization) berlangsung sesudah sosialisasi primer, yaitu dimana anak menjadi anggota masyarakat yang luas.

Seluruh proses sosialisasi berlangsung dalam interaksi individu dengan lingkungannya. Sosialisasi tercapai melalui komunikasi dengan anggota masyarakat lainnya.

  1. C.            FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES SOSIALISASI

Individu akan berkembang menjadi makhluk sosial melalui proses sosialisasi. Dalam proses ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Menurut (Ahmadi, 2009), ada lima faktor yaitu:

    1. Sifat dasar, yaitu merupakan keseluruhan potensi-potensi yang diwarisi oleh seseorang dari ayah dan ibunya.
    2. Lingkungan prenatal, yaitu lingkungan dalam kandungan ibu. Dalam periode ini individu mendapatkan pengaruh-pengaruh tidak langsung dari ibu, misal beberapa jenis penyakit (diabetes, kanker, siphilis) berpengaruh secara tidak langsung terhadap pertumbuhan mental, penglihatan, pendengaran anak dalam kandungan.
    3. Perbedaan individual, meliputi perbedaan dalam ciri-ciri fisik (bentuk badan, warna kulit, warna mata, dan lain-lain), ciri-ciri fisiologis (berfungsinya sistem endokrin), ciri-ciri mental dan emosional, ciri personal dan sosial.
    4. Lingkungan, meliputi lingkungan alam (keadaan tanah, iklim, flora dan fauna), kebudayaan, manusia lain dan masyarakat di sekitar individu.
    5. Motivasi, yaitu kekuatan-kekuatan dari dalam diri individu yang menggerakkan individu untuk berbuat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses sosialisasi tersebut berasal dari luar dan dalam diri individu. Faktor yang berasal dari dalam diri individu yaitu sifat dasar, perbedaan individual, dan motivasi.Sedangkan faktor yang berasal dari luar individu yaitu lingkungan prenatal, dan lingkungan sekitar.

  1. D.           KENDALA DAN PENDUKUNG PROSES SOSIALISASI

Dalam proses sosialisasi tidak selalu berjalan lancar karena adanya sejumlah kendala, yaitu:

  1. Kesulitan komunikasi.

Komunikasi merupakan suatu proses interaksi dengan suatu stimulus (rangsangan) yang memperoleh suatu arti tertentu dijawab oleh orang lain (respon) secara lisan, tertulis maupun dengan aba-aba. Kesulitan komunikasi dalam proses sosialisasi yaitu terjadi bila anak tidak mengerti apa yang diharapkan darinya atau tidak tahu apa yang diinginkan oleh masyarakat atau tuntutan kebudayaan tentang kelakuannya.

  1. Adanya pola kelakuan yang berbeda-beda atau yang bertentangan.
  2. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat sebagai akibat modernisasi, industrialisasi, dan urbanisasi.

Dalam proses sosialisasi bisa terjadi kendala atau hambatan, hal ini  disebabkan sebagai berikut.

  1. Terjadinya kesulitan komunikasi.

Kesulitan komunikasi terjadi karena yang berkomunikasi adalah manusia dengan segala perbedaannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi dalam keluarga yaitu: citra diri dan citra orang lain, suasana psikologis, lingkungan fisik, kepemimpinan, bahasa, dan perbedaan usia. Citra diri yaitu ketika orang berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain, dia merasa dirinya sebagai apa dan bagaimana. Suasana psikologis mempengaruhi komunikasi, komunikasi sulit berlangsung jika seseorang dalam keadaan marah, kecewa, bingung, diliputi prasangka, dan suasana psikologis lainnya. Lingkungan fisik juga mempengaruhi komunikasi, karena komunikasi dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja dengan gaya dan cara yang berbeda. Selain itu cara kepemimpinan (otoriter, demokratis), penggunaan bahasa, dan perbedaan usia juga mempengaruhi proses komunikasi.

  1. Adanya pola kelakuan yang berbeda-beda atau bertentangan.

Pola kelakuan berbeda-beda atau bertentangan yang diperoleh anak dapat mempengaruhi proses sosialisasi. Anak akan merasa bingung dengan perbedaan tersebut.

Pendapat para ahli di atas pada dasarnya sama, yaitu menyatakan bahwa kendala dalam proses sosialisasi meliputi adanya kesulitan komunikasi, pola kelakuan yang berbeda, dan akibat perubahan dalam masyarakat.

Proses sosialisasi selain memiliki kendala juga memiliki pendukung. Sosialisasi yang sukses bila disertai dengan toleransi yang tulus, disiplin dan patuh terhadap norma-norma masyarakat, hormat-menghormati, dan saling menghargai.Dengan pendukung tersebut, proses sosialisasi dapat berjalan dengan baik.

  1. E.            FUNGSI DAN PERANAN SEKOLAH DALAM PROSES SOSIALISASI PESERTA DIDIK

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa jalur pendidikan sekolah/formal merupakan jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang (Pasal 1 ayat 10). Peranan sekolah sebagai lembaga yang membantu lingkungan keluarga, maka sekolah bertugas mendidik dan mengajar serta memperbaiki dan memperhalus tingkah laku anak didik yang dibawa dari keluarganya. Sementara dalam perkembangan kepribadian anak didik, peranan sekolah dengan melalui kurikulum, antara lain yaitu sebagai berikut.

  1. Anak didik belajar bergaul sesama anak didik, antara guru dengan anak didik, dan antara anak didik dengan orang yang bukan guru (karyawan).
  2. Anak didik belajar mentaati peraturan-peraturan sekolah.
  3. Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa dan negara.

Bisa dikatakan bahwa sebagian besar pembentukan kecerdasan (pengertian), sikap dan minat sebagai bagian dari pembentukan kepribadian, dilaksanakan oleh sekolah. Kenyataan ini menunjukkan, betapa penting dan besar pengaruh dari sekolah. Tentang fungsi sekolah itu sendiri adalah sebagai berikut.

  1. Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan; di samping bertugas untuk mengembangkan pribadi anak didik secara menyeluruh, fungsi sekolah yang lebih penting sebenarnya adalah menyampaikan pengetahuan dan melaksanakan pendidikan kecerdasan. Fungsi sekolah dalam pendidikan intelektual dapat disamakan dengan fungsi keluarga dalam pendidikan moral.
  2. Spesialisasi; sebagai konsekuensi makin meningkatnya kemajuan masyarakat ialah makin bertambahnya diferensiasi sosial yang melaksanakan tugas tersebut. Sekolah mempunyai fungsi sebagai lembaga sosial yang spesialisasinya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
  3. Efisiensi; terdapatnya sekolah sebagai lembaga sosial yang berspesialisasi di bidang pendidikan dan pengajaran, maka pelaksanaan pendidikan dan pengajaran dalam masyarakat menjadi lebih efisien, sebab

1)      Apabila tidak ada sekolah dan pekerjaan mendidik hanya harus dipikul oleh keluarga, maka hal ini tidak akan efisien, karena orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya, serta banyak orang tua tidak mampu melaksanakan pendidikan dimaksud.

2)      Oleh karena pendidikan sekolah dilaksanakan dalam program yang tertentu dan sistematis.

3)      Di sekolah dapat dididik sejumlah besar anak secara sekaligus.

Jadi dalam hal ini sekolah mempunyai peranan yang penting dalam proses sosialisasi yaitu proses unutk membantu perkembangan individu menjadi makhluk sosial serta makhluk yang dapat beradaptasi dengan baik di masyarakat.

  1. E.            MENGEMBANGKAN INTERAKSI GURU DAN SISWA YANG BAIK

Proses pembelajaran akan efektif, jika komunikasi dan interaksi antara guru dengan siswa terjadi secara intensif. Guru dapat merancang model-model pembelajaran sehingga siswa dapat belajar secara optimal. Guru mempunyai peran ganda dan sangat strategis dalam kaitannya dengan kebutuhan siswa. Peran dimaksudkan adalah guru sebagai guru, guru sebagai orang tua, dan guru sebagai sejawat belajar.

Proses pembelajaran akan efektif, jika komunikasi dan interaksi antara guru dengan siswa terjadi secara intensif. Guru dapat merancang model-model pembelajaran sehingga siswa  dapat belajar secara optimal. Guru mempunyai peran ganda dan sangat strategis dalam kaitannya dengan kebutuhan siswa. Peran dimaksudkan adalah guru sebagai guru, guru sebagai orang tua, dan guru sebagai sejawat belajar.

  1. Guru sebagai guru.

Pekerjaan utama guru adalah mengajar dan mendidik siswa siswa, yang berusaha agar semua siswanya mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang diajarkan dengan baik.

  1. Guru sebagai orang tua.

Tempat mencurahkan segala perasaan siswa, tempat mengadu siswa ketika mengalami gangguan. Siswa merasa aman dan nyaman ketika dekat dengan guru, bahkan merasa rindu jika tidak bertemu guru. Interaksi guru dan siswa bagaikan hubungan orang tua dan anak, hangat, akrab, harmonis, dan tulus.

  1. Guru sebagai teman.

Sebagai pasangan untuk berbagai pengalaman dan beradu argumentasi dalam diskusi secara informal. Guru tidak merasa direndahkan jika siswa tidak sependapat, atau memang pendapat siswa yang benar, dan menerima saran siswa murid yang masuk akal. Hubungan guru dan siswa mengutamakan nilai-nilai demokratis dalam proses pembelajaran.

Peran guru sebagai guru lebih dominan dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas. Dalam proses pembelajaran sehebat apapun perangkat pembelajaran dibuat oleh guru dan kompetensi guru yang baik tanpa interaksi antara guru dan siswa yang harmonis maka tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai optimal. Guru harus mampu menguasahi pola interaksi dan tehnik komonikasi yang baik dalam proses pembelajaran. Interaksi dalam pembelajaran lebih dikenal dengan istilah interaksi edukatif. interaksi edukatif secara spesifik merupakan proses atau interaksi belajarmengajar itu, memiliki ciri-ciri khusus yang membedakan dengan bentuk interaksi lain. ciri-ciri interaksi belajar mengajar tersebut yaitu:

  1. Interaksi belajar-mengajar memiliki tujuan,

yakni untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud interaksi belajar-mengajar itu sadar tujuan, dengan menempatkan siswa sebagai pusat perhatian. Siswa mempunyai tujuan, unsur lainnya sebagai pengantar dan pendukung.

  1. Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang terencana..

Agar dapat mencapai tujuan secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu adanya prosedur atau langkah-langkah sistematis dan relevan. Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang satu dengan yang lain, mungkin akan membutuhkan prosedur dan desain yang berbeda pula. Sebagai contoh misalnya tujuan pembelajaran agar siswa dapat menunjukkan Kota Banjarmasin, tentu kegiatannya tidak cocok kalau disuruh membaca dalam hati, dan begitu seterusnya.

  1. Interaksi belajar-mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus.

Dalam hal ini materi harus didesain sedemikian rupa sehingga cocok untuk mencapai tujuan. Sudah barang tentu dalam hal ini perlu memperhatikan komponenkomponen yang lain, apalagi komponen anak didik yang merupakan sentral. Materi harus sudah didesain dan disiapkan sebelum berlangsungnya interaksi belajar-mengajar.

  1. Ditandai dengan adanya aktivitas siswa.

Sebagai konsekuensi bahwa siswa merupakan sentral, maka aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajarmengajar. Aktivitas siswa dalam hal ini, baik secara fisik maupun secara mental aktif. Inilah yang sesuai dengan konsep KTSP. Jadi tidak ada gunanya guru melakukan kegiatan interaksi belajar-mengajar, kalau siswa hanya pasif saja. Sebab para siswalah yang belajar, maka merekalah yang harus melakukannya.

  1. Dalam interaksi belajar-mengajar, guru berperan sebagai pembimbing.

Dalam peranannya sebagai pembimbing ini guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Guru harus siap sebagai mediator dalam segala situasi proses belajar-mengajar, sehingga guru akan merupakan tokoh yang akan dilihat dan akan ditiru tingkah lakunya oleh anak didik. Guru (“akan lebih baik bersama siswa”) sebagai designer akan memimpin terjadinya interaksi belajar-mengajar.

  1. Di dalam interaksi belajar-mengajar membutuhkan disiplin.

Disiplin dalam interaksi belajar-mengajar ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh semua pihak dengan secara sadar, baik pihak guru maupun pihak siswa. Mekanisme konkrit dari ketaatan pada ketentuan atau tata tertib ini akan terlihat dari pelaksanaan prosedur. Jagi langkah-langkah yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang sudah digariskan. Penyimpangan dari prosedur, berarti suatu indikator pelanggaran disiplin.

  1. Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu

Dalam sistem berkelas (kelompok siswa), batas waktu menjadi salah-satu ciri yang tidak bisa ditinggalkan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu harus sudah tercapai.

Peran guru sebagai orang tua dilakukan di lingkungan sekolah lebih bersifat hubungan emosional dan penyeteraan perasaan guru dan siswa. Siswa akan merasa aman dan nyaman di lingkungan sekolah. Interaksi lebih berdasarkan kasih sayang dan saling pengertian oleh karenanya keterbukaan siswa dalam hal permasalahan pribadi maupun masalah yang berhubungan dengan pembelajaran dapat terungkap. Dalam hal ini guru harus tahu betul karakteristik siswa untuk menentukan sikap yang berkaitan dengan kebijakan pembelajaran.

Hal yang harus diperhatikan guru berkenaan dengan karakteristik siswa antara lain :

  1. Setiap siswa memiliki pengalaman dan potensi belajar yang berbeda.
  2. Setiap siswa memiliki tendensi untukmenentukan kehidupanya sendiri.
  3. Siswa lebih memberikan perhatian pada hal-hal menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannya.
  4. Siswa lebih menyenangi hal-hal yang bersifat kongkrit dan praktis.
  5. Siswa lebih suka menerima saran-saran daripada diceramahi.
  6. Siswa lebih menyukai pemberian penghargaan (reward) dari pada hukuman ( punishment )

Jika dalam menyelesaikan masalah siswa baik dalam proses pembelajaran maupun masalah individual siswa dirasakan kurang optimal hasilnya maka guru bisa menggunakan pendekatannya sebagai teman. Peran guru sebagai teman bisa dilakukan di lingkungan sekolah maupun luar lingkungan sekolah. Dalam peran ini guru akan mudah memasukkan nilai-nilai hidup maupun pranata-pranata sekolah dalam menangani permasalahan siswa.

Dalam berperan sebagai orang tua dan sebagai sahabat seorang guru dalam proses pembelajaran dan berinterakdi harus memperhatikan hal-hal dibawah ini:

  1. Mendengarkan dan tidak mendominasi.

Karena siswa merupakan pelaku utama dalam pembelajaran, maka guru harus memberi kesempatan agar siswa dapat aktif. Upaya pengalihan peran dari fasilitator kepada siswa bisa dilakukan sedikit demi sedikit.

  1. Bersikap sabar.

Aspek utama pembelajaran adalah proses belajar yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. Jika guru kurang sabar melihat proses yang kurang lancar lalu mengambil alih proses itu, maka hal ini sama dengan guru telah merampas kesempatan belajar siswa.

  1. Menghargai dan rendah hati.

Berupaya menghargai siswa dengan menunjukan minat yang sungguh-sungguh pada pengetahuan dan pengalaman mereka

  1. Mau belajar.

Seorang guru tidak akan dapat bekerja sama dengan siswa apabila dia tidak ingin memahami atau belajar tentang mereka.

  1. Bersikap sederajat.

Guru perlu mengembangkan sikap kesederajatan agar bisa diterima sebagai teman atau mitra kerja oleh siswanya

  1. Bersikap akrab dan melebur.

Hubungan dengan siswa sebaiknya dilakukan dalam suasana akrab, santai, bersifat dari hati ke hati (interpersonal realtionship), sehingga siswa tidak merasa kaku dan sungkan dalam berhubungan dengan guru.

  1. Tidak berusaha menceramahi.

Siswa memiliki pengalaman, pendirian, dan keyakinan tersendiri. Oleh karena itu, guru tidak perlu menunjukkan diri sebagai orang yang serba tahu, tetapi berusaha untuk saling berbagai pengalaman dengan siswanya, sehingga diperoleh pemahaman yang kaya diantara keduanya.

  1. Berwibawa.

Meskipun pembelajaran harus berlangsung dalam suasana yang akrab dan santai, seorang fasilitator sebaiknya tetap dapat menunjukan kesungguhan di dalam bekerja dengan siswanya, sehingga siswa akan tetap menghargainya.

  1. Tidak memihak dan mengkritik.

Di tengah kelompok siswa seringkali terjadi pertentangan pendapat. Dalam hal ini, diupayakan guru bersikap netral dan berusaha memfasilitasi komunikasi di antara pihak-pihak yang berbeda pendapat, untuk mencari kesepakatan dan jalan keluarnya.

  1. Bersikap terbuka.

Biasanya siswa akan lebih terbuka apabila telah tumbuh kepercayaan kepada guru yang bersangkutan. Oleh karena itu, guru juga jangan segan untuk berterus terang bila merasa kurang mengetahui sesuatu, agar siswa memahami bahwa semua orang selalu masih perlu belajar

  1. Bersikap positif.

Guru mengajak siswa untuk mamahami keadaan dirinya dengan menonjolkan potensi-potensi yang ada, bukan sebaliknya mengeluhkan keburukan-keburukannya. Perlu diingat, potensi terbesar setiap siswa adalah kemauan dari manusianya sendiri untuk merubah keadaan
Sumber Bacaan :

  1. Ahmadi, Abu., Drs., H., Sosiologi Pendidikan, 2004., PT. Rieneka Cipta, Jakarta.
  2. Ahmadi, Abu., Drs., H., dan Nuruhbiyati., Dra., Ilmu Pendidkan, 2001., PT. Rieneka Cipta, Jakarta.
  3. Daradjat, Zakiah., Prof., DR., H., Ilmu Pendidikan Islam, 1992, Bumi Aksara, Jakarta.
  4. Mifflen, Frank J., dan Mifflen, Sydney C., Sociology of Education Canada and beyond detselig enterpires. Ltd. 1982, Canada (diterjemah oleh Joost Kulli, Sosologi Pendidikan, 1986, PT. Tarsito, Bandung).
  5. Ratna K., Tri., Drs., Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, ______, PT. Karya Agung, Surabaya.
  6. http://faizhijauhitam.blogspot.com
  7. Drs. Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, Jakarta, PT. Rieneka Cipta, 2004 hal. 1 ( kutipan tulisan HP. Fairchid dari Dictionary of Sociologi )
  8. Achmad Hufad : Teori Sosiologi Pendidikan ( Ilmu dan Aplikasi Pendidikan), TIP Pengembangan Ilmu Pendidikan FKP-UPI Bandung 2007 hal 221 – 224
  9. Drs. Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan, Jakarta, PT. Rieneka Cipta, 2004 cet. Kedua hal. 181.
  10. Drs. H. Abu Ahmadi : Sosiologi Pendidikan, Jakarta, PT. Rieneka Cipta, 2004.
  11. Disamping hal tersebut, juga terdapat bebrapa criteria terhadap sifat – sifat tersebut tadi. Lih. Drs. H. Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, Jakarta PT. Rieneka Cipta, 2004  hal. 119 – 120.
  12. Abdullah Idi, Haji. 2011. Sosiologi Pendidikan : Individu, Masyarakat, dan Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
  13. Ravik Karsidi. 2007. Sosiologi Pendidikan. Surakarta: LPP UNS & UNS Press
  14. Robinson, Philip.1986. Beberapa Perspektif Sosiologi Pendidikan. Jakarta; Rajawali
  15. Nasikun. 1984. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT Grafiti Pers
  16. Aan Komariah & Cepi Triatna. 2005. Visionary leadership: Menuju sekolah efektif. Jakarta: Bumi Aksara.
  17. Sunarto, Kamanto.1993. Pengantar Sosiologi, Jakarta; Lembaga Penerbit FEUI.
  18. http://id.wikipedia.org/wiki/sekolah, diunduh tanggal 18 Maret 2012
  19. WJS. Poerwadarminta, 2007, Kamus Umum Bahasa Indonesi, Jakarta: Balai Pustaka
  20. Sagala, Syaiful. 2007. Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
  21. Suhartono Suparlan. (2007). Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Ar ruzz Media.
  22. Tilaar, H. A. R. 2003. Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  23. Tony Bush & Marianne Coleman. 2008. Manajemen Strategis Kepemimpinan Pendidikan. Yogyakarta: Ircisod.
  24. Usman, Husaini. 2006. Manajemen, Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
  25. Robinson, P. 1986. Beberapa Prespektif Sosiologi Pendidikan. Alih bahasan Hasan Basari. Jakarta: CV. Rajawali.
  26. Soekanto, S. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
  27. Undang-Undang R.I. Nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS dan Peraturan PemerintahR.I. 2010.
  28. http://eksan.web.id/archives/235

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s