MUNASABAH

PENGERTIAN MUNASABAH

Secara etimologi munasabah berarti al-musyakalah (kesurupan) dan al-muqorobah (kedekatan). Munasabah berarti menjelaskan korelasi makna ayat-ayat atau antara surat, baik korelasi itu bersifat umum atau khusus; rasional (aqli) indrawi (hassiy), atau imajinaif (khayali) atau korelasi berupa asbabun nuzul dan al musabab, ‘ilat dan ma’lul; perbandingan dan perlawanan

Munasabah berupaya menangkap korelasi satu uraian dalam al-Qur’an yang diperkuat maknanya oleh uraian yang lain sehingga nampak seperti bangunan yang setiap bangunnya menopang bagian yang lainnya. Secara singkat munasabah dapat kami artikan sebagai relevansi hubungan atau keterkaitan antara ayat-ayat dengan ayat/surat lain yang tersusun secara taufiqi bagaikan untaian kalung yang menakjubkan.

Membahas masalah munasabah kita tidak akan terlepas dengan Ilmu Tanasibul Ayat was Suwar ( ). Yaitu ilmu Al-qur’an mengenai masalah munasabah, ilmu untuk mengetahui adanya relevansi antar ayat dan antar surat. Ilmu ini yang membantu kita dalam memahami dengan tepat hubungan antara ayat-ayat dan surat-surat yang bersangkutan.

Seorang ulama yang sangat berjasa dalam ilmu ini adalah Burhanudin Al-Biqo’idin. Beliau telah menyusun sebuah kitab yang sangat berharga dalam ilmu munasabah, yang diberi nama Nadhmu Ad-Durur Fi Tanasibul Ayat Was Suwar ( )

Untuk lebih memperjelas pemahaman akan ilmu munasabah, kami kira perlu menambahkan pendapat –pendapat para ulama kaitannya dengan imu ini. Secara garis besar ada dua pendapat dikalangan ulama tentang Ilmu Tanasibul Ayat Was Suwar
a.Pendapat yang menyatakan bahwa setiap ayat atau surat selalu ada relevansi dengan ayat dan surat yang lainnya. Ulama yang berpendapat seperti ini diantaranya yaitu

-Abu Bakar Al-Naisaburi (wafat tahun 324 H)

Beliau adalah ulama pertama yang memperkenalkan ilmu munasabah di Baghdad, Irak. Beliau mencela, mengkritik ulama Baghdad karena mereka tidak tahu adanya relevansi antara ayat-ayat dan antar surat-surat. Ia selalu mengatakan “mengapa ayat ini dibuat atau diletakkan didekat ayat itu dan apa hikmahnya membuat (meletakkan) surat ini didekat surat ini”

Sebuah ungkapan yang membuktikan bahwa beliau menganggap setiap ayat/surat dengan ayat/surat lain pasti ada munasabahnya.

-Muhammad ‘Izal Daruzah

Beliau mengatakan bahwa semula manusia mengira tidak ada hubungan antara ayat/surat dengan ayat/surat lain. Tetapi sebenarnya ternyata, bahwa sebagian besar ayat-ayat dan surat surat itu ada hubungan antara satu dengan yang lainnya.

-Asy-Syatibi

Beliau menjelaskan bahwa satu surat walaupun dapat mengandung banyak masalah, namun masalah-masalh tersebut berkaitan dengan satu sama lain. Sehingga seseorang hendaknya jangan hanya mengarahkan pandangannya pada awal surat, tetapi hendaknya memperhatikan pula akhir surat atau sebaliknya. Karena bila tidak demikian akan terabaikan maksud ayat-ayat yang diturunkan itu.

-Imam Fachruddin

Beliau adalah ulama yang banyak bicara tentang ilmu ini. Didalam kitabnya beliau mengatakan bahwa banyak rahasia Al-Qur’an tersimpan pada urutan penempatan ayat dan korelasi antar ayat.

b.Pendapat yang mengatakan munasabah itu tidak selalu ada. Hanya memang sebagian besar ayat-ayat dan surat-surat ada munasabahnya satu sama lain. Yang mewakili pendapat ini antara lain :

Dr. Shubhi Al-Shahih

Beliau mengatakan bahwa munasabah/ hubungan/relevansi antara ayat/surat dengan ayat/ surat lainnya tidak selalu ada. Hal ini berdasarkan pada tertib ayat-ayat yang taufiqi. Tertib ayat/surat yang taufiqi tidaklah berarti harus ada relevansinya, jika ayat ini memiliki asbabunnuzul yang berbeda-beda. Disamping itu beliau mengemukakan juga bahwa apabila antara ayat-ayat dan antara surat-surat yang tidak ada tamasul atau tasyabuh (persamaan/kesesuaian) antar maudhu’-maudhu’nya maka sudah tentu tidak ada relevansi atau munasabahnya.

Syaikh Izzudin bin Abd As-Salam

Beliau mengatakan bahwa ada tidaknya munasabah antar ayat-ayat atau surat-surat tergantung pada kesamaan tema mulai dari aawal sampai akhir surat. Turunnya Al-Qur’an dilatarbelakangi oleh sebab-sebab dan tema-tema yang berbeda. Untuk itulah tidak perlu untuk dipaksakan dalam menemukan munasabah antaranya.

B.MACAM-MACAM MUNASABAH

a.Munasabah Antar Surat

Sebagaimana yang telah kami bahas didepan bahwa terdapat hubungan antara surat-surat dengan surat lainnya dlaam al-Qur’an walau terdapat perbedaan tentang ada dan tidaknya munasabah antar surat. Ada yang berpendapat bahwa mudah mencari hubungan antar ayat, tetapi sukar sekali mencari mencari hubungan antar surat. Memang mencari relevansi antar surat tidaklah mudah karena surat merupakan kumpulan ayat. Banyak ulama yang menyatakan adanya kerumitan dan kesulitan didalam memahami munasabah antar surat Al-Qur’an. Oleh karena itu hanya sedikit ulama tafsir yang mengungkapkan adanya munasabah antar surat. Mereka cukup mencari adanya dua lafadh yang sama atau adanya dua ayat yang sebanding didalam kedua surat yang berurutan letaknya. Baik dua lafadh dan dua ayat yang serupa/sebanding itu terdapat dipermulaan atau pertengahan atau dipenghabisan surat.

Untuk jelasnya kami ambilkan contoh-contoh beberapa surat yang ada hubungannya satu sama lain.

1.Munasabah antara surat Al-Fath dengan surat sebelumnya (Al-Qital) dan dengan surat sesudahnya (Al-hjurat). Surat Al-Qital sebagai prolog tentang peperangan kaum muslimin dengan musyrikin Arab, surat AL-Fath yang berisi perdamaian Hudaibiyah, bukan pembebasan kota Makkah, sedangkan surat Al-Hujurat sebagai follow upnya yang mengatur bagaimana seharusnya umat islam.

2.Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa antara surat Al-Isra’; yang dimulai dengan tasbih ada munasabahnya dengan surat Al-Kahfi yang dimulai dengan tahmid. Sebab tasbih biasanya didahulukan dari tahmid.

3.Ada juga yang berpendapat bahwa permulaan surat Al-baqoroh adalah isyaroh munasabah kepada lafazd yang ada disurat Al-Fatihah ayat keenam seolah-olah mereka mohon petunjuk kejalan yang lurus, maka diterrangkan kepada mereka bahwa jalan yang lurus yang mereka mohon itu adalah Al-Qur’an

4.Mereka juga mengatakan bahwa surat Al-Kaustar mrerupakan imbangan dari surat

Al-Ma’un sebab pada surat yang dahulu (AL-Ma’un) terdapat sifat-sifat orang-orang munafik sebanyak empat ialah kikir, tidak sembahyang, melakukan sholat dengan riya’, dan enggan mengeluarkan zakat maka didalam surat Al-Kaustar disebut sebagai imbangan sifat kikir disebut sebagai imbangan dengan meninggalkan sholat, dan disebut (untuk keridhoan Tuhanmu) sebagai imbangan dengan sifat riya’, disebut juga (berkurbanlah) sebagai imbangan sifat enggan membayar zakat.

b.Munasabah Antar Ayat

Ayat-ayat Al-Qur’an telah tersusun sebaik-baiknya berdasarkan petunjuk dari allah SWT sehingga pengertian tentang suatu ayat kurang dapat dipahami begitu saja tanpa mempelajari ayat-ayat sebelumnya. Kelompok ayat yang satu tidak dapat dipisahkan dengan kelompok ayat berikutnya. Antara satu ayat dengan ayat sebelum kelompok ayat berikutnya. Antara satu ayat dengan ayat sebelumnya dari sesudahnya mempunyai hubungan yang erat dan kait mengait, merupakan mata rantai yang sambung menyambung. Hal inilah yang disebut dengan istilah munasabah ayat.

Kami berikan beberapa contoh adanya munasabah antara ayat :

1.Firman Allah dalam surat Al-Ghosiyah ayat ke 17-20 :

Artinya : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan onta bagaimana dia diciptakan ? dan langit bagaimana ia ditinggikan ? dan gunung-gunung bagaimana ia diletakkan ? dan bumi bagaimana ia dihamparkan ? ”(QS. AL Ghosiyah 17-20)

Al-Zarkasyi menunjukan adanya munasabah antara ayat-ayat tersebut,dengan menyatakan bahwa masyarakat Badui yang hidup primitive pada waktu turunnya Al-Qur’an, binatang onta adalah sangat penting untuk kehidupan mereka dan onta itu memerlukan air. Itulah sebabnya mereka selalu memandang ke langit untuk mengharapkan hujan turun. Mereka juga memerlukan tempat aman umtuk berlindung.

Dan tempat itu tiada lain kecuali gunung-gunung. Kemudian mereka selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang laiinnya untuk kelangsungan hidup mereka(nomaden). Maka apabila seorang badui melepaskan khayalnya, gambar-gambar disebut diatas akan terlihat dimukanya, sesuai dengan urutan ayat-ayat tersebut.

C.RELEVANSI ILMU MUNASABAH DENGAN ILMU ASBABUNNUZUL

DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN

Munasabah dan Asbabunnuzul sama-sama cabang dari ulumul qur’an yang menerangkan makna Al-Qur’an. Jika Asasbabunnuzul membahas ayat/surat Al-Qur’an melalui sebab-sebab turunnya dan latar belakang historis, maka Munasabah mencoba membahas ayat dan surat Al-Qur’an berdasarkan hubungan / relevansi dengan ayat/surat lainnya.

Asbabunnuzul merupakan ilmu yanbg diakui sangat kuat dalam membantu mencari makna ayat/surat Al-Qur’an. Memang mengetahui Asbabunnuzul sangat membantu dalam memahami ayat. Namun demikian terdapat beberapa kelemahan dalam pencarian makn melalui cara Asbabunnuzul ini, yaitu ddalam hal periwayatan.

Mengetahui Asbabunnuzul suatu ayat/surat sama halnya dengan menerapkan teori “lompatan waktu”. Kita dapat mengetahui sebab-sebab turunnya suatu ayat/ surat hanya melalui satu sumber yaitu sumber riwayat.

Suatu masalah akan muncul manakala terdapat dua atau lebih riwayat yang saling bertentangan mengenai suatu ayat. Hanya ada satu kemungkinan yaitu riwayat yang tidak shohih, tidak mungkin semua riwayat benar. Inilah yang menyulitkan para mufasir dalam mengungkapkan suatu makna ayat/surat

Demikianlah keberadaan ilmu munasabah menjadi salah satu alternative bagi kita untuk memahami makna ayat/surat dalam Al-Qur’an.bilamana ia tidak menyimpang dari apa yang telah diterangkan dalam asbabunnuzul.

Lebih jauh menurut Muhammad Abduh suatu surat memiliki satu makna dan erat pula hubungannya dengan surat sebelum dan sesudahnya. Apabila suatu ayat belum atau tidak biketahui Asbabunnuzulnya atau ada Asbabunnuzul tetapi riwayatnya lemah, maka ada baiknya pemahaman suatu ayat/surat dalam AL-Qur’an ditinjau dari sudut munasabahnya dengan ayat/surat sebelum maupun sesudahnya.

Melalui ilimu Munasabah suatu ayat/surat dapat dipahami makna tanpa asbabunnuzul. Asal seorang mufasir mempunyai pengetahuan yang luas tentang munasabah bagi kita baik Asbabunnuzul atau Munasabah sangat membantu dalam menerangkan mengungkapkan makna suatu ayat atau surat dalam AL-Qur’an. Asbabunnuzul dan Munasabah sebagai cabang ulumul qur’an yang saling membantu dan melengkapi dalam menafsirkan AL-Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s