SISTEM PENDIDIKAN PRAMUKA

Sistem Pendidikan Pramuka

Sistem pendidikan gaya Gerakan Pramuka itu seperti apa? Mari kita coba teringai pada ulasan berikut ini.
Sistem bisa diartikan tata cara untuk melakukan sesuatu. Malahan sistem sebagai sebuah pendekatan dinilai oleh Fathurrahman (2002) sebagai alternatif paling optimis yang akan mampu memecahkan berbagai persoalan kehidupan. Dalam konteks ini, sistem ala Gerakan Pramuka meliputi tatacara pembelajaran, pengelolaaan pembinaan, dan segala macam tek-tek bengek yang berkenaan dengan Gerakan Pramuka.
Sebelum menelisik secara detil, mudah-mudahan, mari terlebih dahulu kita mengetengahkan salah satu prinsip umum yang berlaku dalam pendidikan. Yaitu, “Pendidikan adalah proses yang tak pernah selesai,” karena itu harus senantiasa diusahakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Pendidikan mesti berjalan dinamis antara kenyataan empirik yang kondisional dengan tataran idea dalam angan-angan tujuan.
Gerakan Pramuka merupakan institusi pendidikan yang menggembleng anggota masyarakat yang jadi anggotanya, agar menjadi manusia Indonesia yang berbudi pekerti luhur dan berkepribadian baik. Untuk mencapai tujuannya itu, kepanduan yang hanya satu-satunya boleh ada di negeri ini menurut Keppres RI no 238 tahun 1961, menerapkan pola dan tatacara tersendiri, yang dikalim sebagai ciri khasnya.
Dalam usianya yang sudah menginjak ke-41 tahun, ada penilaian yang cukup simpatik oleh Helmi Hidayat (13/7), Wartawan Republika terhadap Gerakan Pramuka. Hidayat menilai kepanduan Indonesia ini merupakan lembaga pendidikan yang mampu menjaga anggota dari sikap “over acting sosial”. Tidak neko-neko, soleh sosial dan mampu merefleksikan community policing.
Bagaimana gerakan itu bisa begitu, kita telusuri satu-persatu. Dalam proses pembinaan anggotanya, lembaga pendidikan ini mempunyai pola tersendiri yang disebut Pola Umum Gerakan Pramuka. Pola ini memberi contoh bentuk pembinaan bagi orang dewasa dan anak didiknya.
Sebagai kelanjutan dari pola itu, bagi anak didik –yang akan kita pertajam kali ini sesuai kebutuhan– dikenalkan istilah yang disebut Pola dan Mekanisme Pembinaan Pramuka Penegak dan Pandega. Belakangan ini dalam tataran wacana muncul juga keinginan untuk membuat pola dan mekanisme pembinaan bagi Pramuka Siaga dan Penggalang, dua golongan paling muda peserta didik Gerakan Pramuka.
Dalam pelaksanaan pola itu, lalu diterapkanlah tata cara pembinaan yang populer di kalangan pembinaan pramuka, yaitu: Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan. Di antara prinsip dan metoda itu adalah: satuan terpisah antara putera dan puteri, sistem berregu, sistem tanda kecakapan, pendidikan di alam terbuka, dll. Pola dan cara itu pun masih dilengkapi dengan Sistem Among, istilah populer dalam praktik pendidikan di Indonesia.
Sistem terakhir itu merupakan gagasan yang dipopulerkan oleh KH. Dewantoro, tokoh Taman Siswa. Praktik pendidikan pola berrumus ing-ing-tut dilaksanakan dengan memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk dapat bergerak dan bertindak dengan leluasa; sejauh mungkin menghindari unsur-unsur perintah (keharusan dan paksaan sepanjang tidak merugikan); pola itu bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan rasa percaya diri, kreativitas, dan otoaktivitas aspirasi peserta didik.
Sebagai rumusan yang tersusun dengan sistematis, lalu dibuatkan Syarat-syarat Kecakapan Umum (SKU) dan Syarat-syarat Kecakapan Khusus (SKK) dan Syarat-syarat Pramuka Garuda (SPG) dalam pembinaan Gerakan Pramuka. Tiga syarat-syarat itu boleh dikatakan semacam kurikulum dalam pendidikan.
Bagian lain dari komponen yang meracik pola pendidikan ala pramuka, seperti: peserta didik, pembina, lingkungan, azas/prinsip, evaluasi, dll.; tidak dapat dijelaskan pada kesempatan ini. Akan lebih tepat bila diulas secara khusus dan menggunakan waktu tertentu pula.
Berkenaan dengan trend penemuan-penemuan pendidikan terakhir ini, seperti: “pendidikan tidak lagi transfer pengetahuan”, ”murid tidak jadi objek pendidikan”, “otonomi pendidikan yang melahirkan school base management (SBM)”, “keterbukaan”, “pendidikan yang tidak lagi netral”, “out bound atau outdoor activities” dan lain-lain; dalam kenyataan pengalamannya Gerakan Pramuka telah banyak menerapkan praktik-praktik seperti itu. Hanya, ada yang disayangkan, kita terkadang seperti kacang tanah yang suka melupakan kulitnya. Begitupun kenyataan belakangan ini.

***
Sistem yang dipilih oleh institusi manapun sesungguhnya menuntut konsep yang jelas, tegas, akomodatif dan relevan dengan kebutuhan; serta pelaksanaannya dilakukan dengan kesolehan sosial dan akuntabilitas publik.
Dalam rangka pengukuhan konsep dan pertanggungjawaban pelaksanaannya, lembaga pendidikan perlu mendapat “kritik” dari manapun datangnya, agar semakin dewasa. Kedewasaan diharapkan memiliki kesadaran untuk memperbaiki diri sebaik mungkin sejak dini dan selanjutnya.
Kesadaran bahwa pendidikan tidak bebas nilai dan idiologi serta politik, maka upaya membesarkannya pun mesti didekati dengan mempertimbangkan kekuatan idiologi dan politik. Dengan begitu, wajar apabila praktik pembinaan kepramukaan berusaha menggapai kebertanggungjawaban sense of belonging masyarakat melalui tawaran idiologis. Sedangkan, kepada pemerintah kita menawarkan pola-pola politis agar tetap survive.
Gagasan ini sepertinya terlampau mengada-ada; terkesan friktif dari konsep asli kepanduan yang menyatakan diri non-politis dan non-etnik. Seperti pada ungkapan tidak melibatkan diri pada praktik politik praktis dan bersifat nasional, internasional dan universal.
Untuk merumuskan idiologi kepramukaan yang bercorak seperti ulasan tadi (jelas, tegas, akomodatif dan relevan), maka konsep dan praktik kepramukaan ada baiknya termuati oleh “nilai-nilai” keislaman yang bersumber dari Alquran dan Sunnah Rasul. Sementara untuk menggapai kedekatan politis, awak pramuka perlu mensejajarkan diri dengan pemerintah pada tataran sosialisasi dan komunikasi: harmonis dan saling membutuhkan. Harmonisasi dan saling membutuhkan itu sesungguhnya dapat diciptakan**

–270802—

Materi untuk Pengenalan Kepramukaan 2002, Bandung, 31 Agustus 2002.
Penulis adalah peminat kepramukaan. Tinggal di Bandung.

POLA UMUM DAN SISTEM

PENDIDIKAN GERAKAN PRAMUKA

Regu Scorpio

Nama Kelompok :

1.   Agita
2.   Ani Rosita
3.   Ika Nur Hanifah
4.   Ning Setianingsih

5.   Merly Dwi P.
6.   Rahayu Tri Utami
7.   Rima Martia
8.   Umi Prihatin
9.   Indah Anggun
10. Anis Agustiani
11. Wiwik Indrawati

DEPARTEMEN PENDIDIKAN

SMA NEGERI 1 NGRAMBE

2010/2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s